• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

REJIM HIBRIDA PRABOWO

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
August 12, 2024
in Feature, Politik
0
REJIM HIBRIDA PRABOWO
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Rejim hibrida adalah rejim kekuasaan yang memiliki semua institusi demokrasi tetapi minim bahkan kosong nilai-nilai demokrasinya. Jalan Rejim Hibrida telah dibentuk oleh Jokowi sepanjang sepuluh tahun kekuasaannya. Apakah Prabowo akan melanjutkan jalan itu? Jawaban atas pertanyaan itu tergantung kepada bagaimana set up Koalisi Indonesia Maju Plus yang dicetuskan pada tanggal 8 Agustus 2024 lalu.

KIM Plus adalah koalisi raksasa yang dibentuk oleh Prabowo dengan mengajak gabung semua lawan politiknya pada Pilpres yang lalu. Pada pertemuan 8 Agustus, partai PKS, PKB dan NAsdem dikabarkan akan bergabung ke dalam KIM Plus.

Apa yang terjadi bila koalisi raksasa KIM Plus terwujud? Ini berarti hanya tersisa PDI Perjuangan yang bisa menjadi kekuatan penyeimbang pemerintah. Kondisi ini menciptakan parlemen yang homogen: KIM Plus setidaknya menguasai 84% kursi parlemen.

Apakah situasi ini tidak akan mengancam demokrasi?

DAMPAK KOALISI RAKSASA

Koalisi dalam politik adalah hal yang lumrah. Seorang presiden terpilih pasti menghendaki dukungan parlemen. Cara termudah baginya adalah berbagi kekuasaan dengan partai-partai yang bersedia bergabung ke dalam koalisi yang dibikinnya. Namun terdapat perbedaan dalam praktek koalisi di Indonesia maupun di dunia.

Di dunia, koalisi partai terjadi karena ada persamaan ideologis. Partai-partai yang berkoalisi menyepakati lebih dulu suatu platform ideologis yang menentukan bagaimana sikap partai itu dalam berbagai isu politik. Meskipun demikian, ruang untuk interpretasi dan negosiasi lebih lanjut tetap ada.

Sebagai contoh di Jerman terjadi koalisi CDU/CSU (Christian Democrat Union/Christian Social Union) dan Social Democrat Party (2013-2017 & 2017-2021). Selama krisis migrasi Eropa, CDU/CSU (partai kanan-tengah) dan SPD (partai kiri-tengah) memiliki pandangan yang berbeda tentang kebijakan migrasi. SPD lebih mendukung kebijakan yang lebih inklusif, sementara CDU/CSU mengambil sikap yang lebih konservatif dan berhati-hati terkait penerimaan migran. SPD juga sering mendorong kebijakan kesejahteraan dan proteksi sosial yang lebih luas, sementara CDU/CSU lebih mengedepankan disiplin fiskal dan pengendalian anggaran

Perbedaan di atas biasanya diselesaikan melalui negosiasi dan kompromi. Setiap partai dalam koalisi harus bernegosiasi dan berkompromi untuk mencapai konsensus dalam isu-isu tertentu.
Maka debat dan perbedaan pandangan bukan hal tabu melainkan mencerminkan dinamika demokrasi yang sehat di Jerman, di mana tidak ada satu partai atau koalisi yang mendominasi tanpa perdebatan.

Meskipun ada perbedaan pandangan, partai-partai dalam koalisi biasanya berusaha keras untuk menjaga keberlanjutan pemerintahan, karena kegagalan dalam mencapai konsensus bisa menyebabkan jatuhnya pemerintahan dan pemilu dini.

Di Indonesia, koalisi pemerintahan SB Yudoyono (2004-2014) relatif bekerja sebagaimana koalisi di Jerman. Banyak debat dan perbedaan pendapat di kalangan anggota koalisi, misalnya dalam penentuan calon kepala daerah. Walau begitu koalisi SBY selamat sampai akhir dan mencetak pertumbuhan ekonomi rata-rata 7% per tahun.

Namun dalam 10 tahun terakhir koalisi partai yang mendukung Joko Widodo diwajibkan untuk satu suara, seia sekata dalam semua urusan politik. Jokowi mengatakan, “Hanya ada satu visi yaitu visi presiden.” Jadi koalisi Jokowi tidak membangun visi bersama. Mereka hanya boleh mengikuti kemauan presiden: tidak ada debat, tidak ada perbedaan pendapat.

Akibatnya, terjadi kemunduran demokrasi yang parah. Jokowi menyalahgunaan kekuasaan dengan membatasi pilihan rakyat secara semena-mena, mengorbankan prinsip-prinsip demokrasi yang seharusnya memberikan kesempatan yang adil bagi semua individu untuk berpartisipasi dalam proses politik.

Koalisi besar Jokowi, dengan demikian, tidak lain adalah persekongkolan politik untuk merusak demokrasi.

Apa yang terjadi pada Koalisi Besar Jokowi bisa terjadi pada Koalisi Raksasa KIM Plus. Pilkada Jakarta bisa menjadi contoh. Dalam kasus ini, keputusan elit politik KIM Plus untuk mengonsolidasikan dukungan hanya kepada satu calon, yaitu Ridwan Kamil, telah secara efektif menghapuskan pilihan bagi rakyat Jakarta. Dengan besarnya koalisi KIM Plus praktis tidak ada cukup dukungan bagi pesaing Ridwan Kamil. Di titik ini esensi demokrasi, yang didasarkan pada partisipasi dan pilihan bebas, hilang. Jika Anda tidak setuju dengan Ridwan Kamil sebagai calon gubernur, Anda hanya dapat memilih kotak suara kosong—sebuah pilihan yang secara jelas tidak akan menghasilkan perubahan.

MENGAPA TIDAK DEMOKRATIS?

Koalisi besar yang menyediakan calon tunggal atau calon semu adalah tidak demokratis karena mereka merampas hak rakyat untuk memilih pemimpin mereka. Dalam demokrasi sejati, rakyat harus memiliki pilihan antara beberapa kandidat yang layak, yang menawarkan visi dan kebijakan yang berbeda. Namun, ketika elit politik bersekongkol untuk menyingkirkan kompetisi dan memaksakan satu calon saja, mereka merampas hak publik untuk memilih, mengubah proses pemilihan menjadi prosedur formalitas yang absurd. Ini bukanlah demokrasi, melainkan manipulasi sistem politik yang menyamar sebagai demokrasi.

Partai politik yang diberi wewenang untuk memilihkan calon pemimpin terbaik terbukti bersekongkol, menelikung hak rakyat.

Ketika rakyat dihadapkan dengan pilihan yang terbatas pada satu calon, atau bahkan calon semu, mereka kehilangan suara mereka. Pemilihan yang seharusnya menjadi sarana untuk mengekspresikan kehendak rakyat berubah menjadi ritual kosong tanpa makna. Bagaimana bisa kotak suara kosong—yang tidak mewakili apa pun—menjadi pilihan yang sah dalam sebuah pemilu? Jawabannya tentu saja, tidak bisa. Pemilihan menjadi absurd, dan partisipasi rakyat, yang seharusnya menjadi inti dari demokrasi, menjadi tidak berarti.

Siapa yang bertanggung jawab atas absurditas ini? Mereka adalah elit yang berkomplot untuk sengaja merampok hak-hak publik. Dengan menyingkirkan calon lain yang potensial dan memusatkan dukungan hanya pada satu individu, mereka memastikan bahwa proses demokrasi tidak lebih dari sebuah sandiwara. Persekongkolan ini mencerminkan kecenderungan otoritarian dalam demokrasi yang seharusnya memberikan rakyat suara yang sejati. Demokrasi yang dirampas dari pilihan yang bebas dan adil tidak lagi dapat disebut demokrasi.

KESIMPULAN

Dengan mengabaikan prinsip-prinsip dasar demokrasi dan menciptakan kondisi di mana pilihan rakyat terbatas hanya pada satu calon, elit politik tidak hanya menodai proses pemilihan tetapi juga melemahkan kepercayaan publik terhadap sistem politik itu sendiri. Nepotisme dan persekongkolan politik yang menghasilkan calon tunggal adalah bentuk pengkhianatan terhadap esensi demokrasi, di mana hak rakyat untuk memilih dan menentukan masa depan mereka seharusnya menjadi yang utama.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Indonesia Tertinggi di ASEAN dalam Jumlah Pengangguran: Fakta dan Data Terbaru

Next Post

Airlangga Hartarto’s Resignation: Examining the Causes and Golkar’s Future

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Apa Urgensi Melibatkan Militer dalam Rekrutmen Manajer Koperasi MP?
Economy

Apa Urgensi Melibatkan Militer dalam Rekrutmen Manajer Koperasi MP?

April 25, 2026
Mengapa Kita Hidup? Antara Ruh dan Mekanisme Tubuh
Feature

Mengapa Kita Hidup? Antara Ruh dan Mekanisme Tubuh

April 25, 2026
Feature

Bersama Kesulitan, Ada Kemudahan

April 25, 2026
Next Post
Siapa Calon Ketum Golkar? Agus Gumiwang, Kahar Muzakir, atau Bahlil Lahadalia

Airlangga Hartarto's Resignation: Examining the Causes and Golkar's Future

Intervensi Eksternal Terhadap Golkar Harus Dilawan!

Intervensi Eksternal Terhadap Golkar Harus Dilawan!

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Apa Urgensi Melibatkan Militer dalam Rekrutmen Manajer Koperasi MP?

Apa Urgensi Melibatkan Militer dalam Rekrutmen Manajer Koperasi MP?

April 25, 2026
Mengapa Kita Hidup? Antara Ruh dan Mekanisme Tubuh

Mengapa Kita Hidup? Antara Ruh dan Mekanisme Tubuh

April 25, 2026

Bersama Kesulitan, Ada Kemudahan

April 25, 2026
Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026
Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

April 25, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Apa Urgensi Melibatkan Militer dalam Rekrutmen Manajer Koperasi MP?

Apa Urgensi Melibatkan Militer dalam Rekrutmen Manajer Koperasi MP?

April 25, 2026
Mengapa Kita Hidup? Antara Ruh dan Mekanisme Tubuh

Mengapa Kita Hidup? Antara Ruh dan Mekanisme Tubuh

April 25, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...