Fuslatnews – Ada yang lucu dari kemelut ijazah Presiden Joko Widodo. Rektor UGM sudah bersuara lantang: Jokowi benar alumnus, ijazahnya sah. Forum rektor ikut mengiringi, seakan-akan paduan suara akademik sedang bernyanyi di panggung politik. Masalahnya, semua itu hanya berhenti di mulut. Dokumen asli? Tak pernah muncul.
Mohammad Said Didu menyebutnya omon-omon. Dan memang begitulah jadinya: pernyataan besar tanpa bukti hanyalah ocehan, bukan kebenaran. Publik tak bisa disuruh percaya begitu saja, apalagi kalau yang dibicarakan adalah integritas akademik seorang presiden.
Lucunya, forum rektor ini seolah lupa cara berpikir paling sederhana. Kalau memang ijazah itu ada, tunjukkan saja. Tidak perlu rapat senat, tidak perlu seminar, tidak perlu jumpa pers. Selembar kertas itu bisa menyelesaikan kegaduhan yang sudah bertahun-tahun menguras energi bangsa.
Tapi alih-alih mendorong keterbukaan, forum rektor memilih menjadi corong legitimasi. Mereka tampak lebih sibuk menjaga citra penguasa ketimbang menjaga marwah universitas. Rektor—yang seharusnya berdiri tegak sebagai simbol intelektualitas—malah turun kasta jadi juru bicara dadakan.
Akhirnya, publik pun bertanya-tanya: forum rektor ini mau jadi saksi kebenaran, atau sekadar penggembira di pesta kekuasaan? Ironisnya, semakin mereka berkilah, semakin kuat pula dugaan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.
Padahal jalan keluar sesungguhnya hanya satu: kejujuran. Jika Presiden Jokowi berani membuka ijazah aslinya, semua selesai. Universitas kembali bermartabat, forum rektor terselamatkan dari ejekan, dan bangsa ini bisa berhenti terjebak dalam drama selembar kertas.
Namun selama keterbukaan itu tak kunjung datang, forum rektor akan terus terlihat konyol: bergaya akademik tapi suaranya tak lebih dari gema ruang kosong.

























