“Biarlah SBY menjadi budak dan kacung, jangan kita-kita ini yang beriman ini. Ia tidak beriman, kan?”, kata Ali Muchtar Ngabalin, suatu hari saat berbicara didepan jamaah acara Hisbu Tahrir Indonesia. Pada acara Najwa Shibat, menjawab pertanyaan Najwa, mengapa anda tidak mau memilih Jokowi? “apa urusan dengan Jokowi, bagi saya? Ndak ada penting. Tindak penting. Karena memilih itu persoalan rasa. Orang memilih Presiden Indonesia ini bukan memilih disatu kota atau kabupaten. Nggak Najwa. Republik Indonesia terlalu luas. Nggak bisa. Musti orang kuat. Orang yang disegani. Baru benar”, jawab Ali Ngabalin. Dan itu anda lihat tidak ada di Jokowi? Lanjut Najwa. “Ada di Prabowo Subianto, Najwa”, tegas Ali Ngabalin.
Itu beberapa cuplikan Ngabalin, untuk mengawali kupasan ini, yang kemudian ingin saya komparasikan dengan kelakuan Menteri Penerangan Irak Mohammed Saeed Al Sahaf, era Sadam Hussen. Karena setiap kali Ia menyampaikan Konferensi Pers, saat Irak sedang digempur pasukan AS, selalu menjadi bahan tertawaan sedunia.
Patut dipertanyakan pula, apa alasan Jokowi mengangkat semodel Ali Muchtar Ngabalin, yang pernah menjuluki Jokowi sebagai Pemimpin yang kurang gizi, kini mempercayakan dia sebagai tenaga ahli Kantor Staf Presiden RI. Berawal dari kader PBB, yang mebawanya ke Senayan, sebagai anggota DPR RI. Tahun 2010, keluar dari PBB dan bergabung dengan Partai Golkar.
Tampil sebagai Juru Kampanye Pasangan Prawbowo, bisa dipastikan, bagaimana Ngabalin menguliti Jokowi, hingga terucap “pemimpin yang kurang gizi” itu.
Jabatan sebagai tenaga ahli apa di Kantor Presiden, kita tak pernah tahu. Yg sering kita dengar adalah, kemunculan beliau di acara-acara TV show, sebagai wakil dari pemerintah dan di akun twitternya. Peran Ali Ngabalin, setiap saat, membela Jokowi dan regime, lalu membentak, memaki dan memojokan siapa saja yang bersebrangan dengan Jokowi atau kebijakannya.
Saya teringat dengan anjing saya, Namanya Nata. Jenis anjing kampung. Selalu saya ajak, bila jalan kaki pagi. Ia selalu menyalak, kepada siapa saja yang tidak dikenalinya, ketika mendekati saya. Atau yang menyentuh pintu gerbang rumah Desa saya.
Menteri Penerangan Muhammed Saeed Al Sahaf, Ketika tantara Amerika menangkapi tokoh-tokoh yang berperan dalam perang Irag dulu, kemudian membawanya ke Camp Tahanan Amerika. Walau Saeed itu juga seorang jenderal, tetapi saat tertangkap oleh tantara AS, ia dilepaskan kembali. Rupanya, bagi AS sosok semodel Saeed itu, dianggap sampah yang tidak ada artinya sama sekali.
Ada kisah yang manerik dari Menpen Iraq tersebut. Setelah menghilang selama dua bulan lebih, bekas Menteri Penerangan Irak Mohammed Saeed Al Sahaf muncul. Tak tanggung-tanggung, dia nongol dalam sebuah wawancara di Televisi Abu Dhabi, Baghdad, Irak. Sahaf menyebutkan, satu di antara penyebab penting kejatuhan Presiden Saddam Hussein adalah lantaran kesalahan laporan intelijen yang disampaikan kepadanya. Tak salah memang jika pria itu menyebut ketidak-akuratan data intelijen yang disampaikan kepadanya membuat Saddam tumbang. Selaku Menpen yang menjadi ujung tombak dalam menghadapi dunia internasional, dia harus memegang data akurat. Namun, karena data yang disampaikan tak faktual, dia mengaku selalu menyangkal keadaan sebenarnya yang terjadi. Buktinya, saat dunia melihat lewat televisi bahwa tank Amerika Serikat telah memasuki Kota Baghdad, Sahaf masih sempat menyangkal. Bagaimana tidak, laporan militer Irak kepadanya menyatakan bahwa keadaan masih terkendali.
Pernyataan tersebut, menjawab, saat dibelakang beliau terlihat Bagdad sedang digempur rudal-rudal Amerika, ia katakan, bahwa terntara Iraq berhasil menggempur pasukan AS, ini dilaporkan langsung saat itu oleh CNN.




















