Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Mantan Sekjen Komite Perubahan Sepakbola Nasional (KPSN)
Jakarta – Semua ada masanya. Tak terkecuali Erick Thohir. Begitu Timnas Indonesia gagal ikut Piala Dunia 2026, publik langsung mendesak Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) itu mundur.
Timnas Indonesia dipastikan gagal menembus Piala Dunia 2026 setelah kalah dua kali di ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026. Melawan Arab Saudi, Indonesia kalah 2-3. Setelah itu, Indonesia kalah 0-1 oleh Irak.
Publik menilai bukan hanya Pelatih Timnas Patrick Kluivert yang harus bertanggung jawab atas kekalahan beruntun Timnas dengan mengundurkan diri, Erick Thohir juga didesak melakukan hal yang sama.
Erick, bekas Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang kini Menteri Pemuda dan Olahraga, dinilai bertanggung jawab atas pengangkatan Patrick di satu sisi, dan pemecatan Shin Tae-yong, pelatih Timnas sebelumnya, di sisi lain.
Bahkan publik mengaku lebih baik Timnas kalah bersama Shin Tae-yong yang asal Korea Selatan itu daripada bersama Patrick yang asal Belanda.
Usai didesak mundur dari jabatan Ketua Umum PSSI, Erick kini didesak mundur dari jabatan Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).
Diberitakan, sembilan tokoh senior MES mendesak Erick Thohir mundur dari jabatan Ketum MES. Selanjutnya, mereka mendesak agar segera diagendakan musyawarah nasional luar biasa (munaslub) untuk memilih ketum baru.
Sembilan tokoh senior MES itu sudah menghadap mantan Wakil Presiden Ma’ruf Amin selaku Ketua Dewan Pembina MES untuk menyampaikan desakan agar Erick mundur.
Prof Babun Suharto selaku inisiator Tim 9 Penyelamat MES, seperti dikutip media menyatakan, kepemimpinan Erick Thohir yang dideklarasikan pada 2023 gagal membesarkan MES sebagai organisasi pelaku ekonomi syariah.
Setelah ini, mungkin akan ada desakan agar Erick mundur dari jabatan Menpora. Sebab kalau seseorang sudah dianggap gagal dalam satu hal, maka ia diprediksi akan gagal dalam hal lainnya. Muncul efek domino.
Apalagi, jabatan Menpora yang disandang Erick itu sekadar tempat buangan saja, untuk mengakomodasi kader Partai Golkar di Kabinet Merah Putih, setelah Erick dicopot dari jabatan Menteri BUMN yang langsung dibubarkan setelah tugasnya diambil alih Danantara.
Jadi, penunjukan Erick sebagai Menpora bukan karena kinerja atau prestasinya, melainkan sekadar buangan semata.
Di Kementerian Pemuda dan Olahraga pun diprediksi prestasi Erick akan biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa. Apalagi Kemenpora adalah lahan kering, sedangkan BUMN adalah lahan basah. Motivasi Erick untuk gaspol pun nyaris tak ada.
Pendek kata, kini adalah sandyakalaning atau senjakala bagi Erick Thohir. Kalau tidak mundur, ia akan dimundurkan!

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Mantan Sekjen Komite Perubahan Sepakbola Nasional (KPSN)


















