Semalam saya bermimpi mendirikan Partai Bajing.
Konon niatnya untuk berkuasa dan menyejahterakan seluruh rakyat Republik Konoha.
Tapi bohong.
Tujuan sebenarnya hanya satu: menyejahterakan diri sendiri, keluarga, kroni, kelompok, dan golongan saya.
Di setiap pidato saya akan berteriak lantang tentang perubahan. Janji-janji saya akan terdengar sangat indah.
Saya akan membuka lapangan kerja seluas-luasnya.
Harga BBM, gas, sembako, dan angkutan umum akan saya murahkan.
Pendidikan dan layanan kesehatan akan saya gratiskan.
Pokoknya, apa saja yang ingin didengar rakyat, akan saya ucapkan. Yang penting mereka percaya, menjadi simpatisan, lalu memilih Partai Bajing.
Begitu pemilu usai…
Ya, urusan nanti belakangan.
Menjelang Pilkada, Pileg, dan Pilpres, saya sudah menyiapkan sumber pendapatan utama partai.
Namanya bukan korupsi.
Namanya mahar politik.
Saya membuka penawaran secara terbuka kepada siapa pun yang ingin diusung Partai Bajing menjadi calon kepala daerah maupun calon anggota legislatif.
Ingin nomor urut satu?
Silakan setor minimal Rp2 miliar untuk DPRD kabupaten/kota dan provinsi.
Untuk DPR RI atau jabatan nasional?
Minimal Rp20 miliar.
Tapi jangan salah paham.
Sudah bayar lunas bukan berarti nomor urut satu menjadi hak Anda.
Kalau besok ada orang yang berani membayar lebih mahal, ya… Anda turun ke nomor dua.
Kalau lusa ada lagi yang lebih mahal?
Silakan turun lagi.
Begitu seterusnya.
Nomor urut bisa berubah.
Yang tidak pernah berubah hanyalah…
Uang maharnya tetap milik saya.
Kalau ada yang protes?
Tenang.
Saya PHP-kan saja.
Saya janjikan nanti kalau Partai Bajing menang, dia akan saya jadikan menteri, komisaris BUMN, direktur, kepala badan, atau jabatan empuk lainnya.
Pokoknya mimpi itu gratis.
Kalau masih juga marah dan minta uangnya kembali?
Saya sudah menyiapkan pengacara kondang.
Kalau tetap ribut di media sosial, saya laporkan.
Tuduhannya lengkap.
Fitnah.
Pencemaran nama baik.
Perbuatan tidak menyenangkan.
UU ITE.
Toh mereka juga tidak punya kuitansi.
Uangnya tidak pernah diserahkan langsung kepada saya.
Mereka menyerahkannya kepada perantara.
Bahkan sebelumnya ditukar dulu ke dolar Singapura pecahan besar.
Jadi kalau ditanya aparat?
Saya tinggal bilang,
“Buktinya di mana?”
Begitulah bisnis nomor urut berjalan.
Dari nomor satu…
Nomor dua…
Nomor tiga…
Sampai nomor sepuluh.
Bayangkan saja.
Satu nomor dijual berkali-kali.
Tanpa perlu membangun pabrik.
Tanpa perlu menciptakan inovasi.
Tanpa perlu bekerja keras.
Modalnya cuma satu:
Stempel partai.
Enak, bukan, jadi Ketua Umum Partai Bajing?
Tahap berikutnya adalah pencitraan.
Saya akan menyewa buzzer sebanyak-banyaknya.
Setiap hari mereka harus menulis bahwa saya adalah pemimpin visioner.
Pahlawan rakyat.
Satria piningit.
Penyelamat bangsa.
Kalau ada kritik sedikit saja…
Langsung diserang.
Difitnah.
Dibully.
Dihabisi karakternya.
Saya juga akan merangkul sebanyak mungkin perangkat desa, tokoh masyarakat, relawan, dan siapa saja yang punya pengaruh.
Tentu bukan dengan idealisme.
Melainkan dengan amplop.
Janji jabatan.
Janji proyek.
Janji kendaraan.
Janji kenaikan tunjangan.
Bagi yang menolak?
Mudah.
Cari saja kesalahannya.
Kalau tidak ada…
Ya, dicarikan.
Kalau semua itu masih belum cukup menjamin kemenangan?
Saya punya strategi pamungkas.
Saya akan “mengondisikan” penyelenggara pemilu dari tingkat bawah sampai pusat.
Kalau perlu, kotak suara yang asli ditukar dengan kotak suara yang sudah disiapkan.
Yang penting, hasil akhirnya satu.
Partai Bajing menang.
Saya jadi Presiden Republik Konoha.
Setelah menjadi presiden, tentu saya tidak akan melepaskan jabatan Ketua Umum Partai Bajing.
Mengapa harus mundur?
Justru semua relawan dan buzzer yang berjasa mengantarkan saya ke istana harus tetap dipelihara.
Tugas mereka sederhana.
Memantau media sosial selama 24 jam.
Siapa pun yang mengkritik pemerintah…
Serang.
Siapa pun yang berbeda pendapat…
Bully.
Kalau masih keras kepala?
Kriminalisasi.
Kalau perlu, bungkam.
Begitulah strategi tahap pertama saya.
Tahap kedua akan saya pikirkan nanti.
Yang penting kekuasaan harus langgeng.
Kalau bisa seumur hidup.
Kalau bisa diwariskan kepada anak.
Lalu cucu.
Lalu cicit.
Pokoknya jangan sampai lepas.
Gubrak!
Tiba-tiba saya terjatuh dari tempat tidur.
Saya terbangun.
Hari sudah pagi.
Syukurlah…
Ternyata semua itu hanya mimpi.
Saya pun segera mandi, gosok gigi, lalu berangkat bekerja.
Sambil berharap…
Semoga mimpi seperti itu tidak pernah menjadi kenyataan di Republik mana pun.
— Yus Dharman —























