by White Lily
Bagi lidah orang Sumatera, merantau atau sekadar menjelajah kuliner tanah Sunda sering kali menghadirkan kejutan budaya yang tak terduga. Jika bahasa bisa berbeda logat, maka makanan pun memiliki “aksen rasa” sendiri. Di Sumatera, kerupuk adalah pelengkap sakral yang harus renyah, berbunyi kriuk, dan menutup suapan dengan kepuasan sederhana. Maka, bayangkan keterkejutan kecil yang muncul saat pertama kali berkenalan dengan seblak.
Konsepnya terasa menyalahi kodrat. Kerupuk—yang selama ini diagungkan karena kerenyahannya—justru direbus kembali hingga lunak, lalu berenang dalam kuah pedas beraroma kencur. Suapan pertama terasa seperti perjumpaan dua dunia yang bertolak belakang. Teksturnya kenyal-basah, jauh dari karakter tegas yang biasa ditemui pada makanan Sumatera. Lidah mencoba memahami, tetapi akal rasa masih bertanya-tanya: mengapa kerupuk dilunakkan kembali?
Waktu memang guru terbaik. Perlahan, rasa pedasnya yang nendang dan aroma kencur yang khas mulai bisa ditoleransi. Seblak akhirnya diterima, meski dengan catatan kecil: ia tetap terasa ganjil, seperti sahabat baik yang akrab namun tak sepenuhnya senada.
Namun cerita berubah ketika bertemu cireng.
Gigitan pertama langsung mengirim memori pulang. Teksturnya kenyal dan gurih, mengingatkan pada pempek. Hanya satu yang absen—rasa ikan. Ia seperti pempek dos, versi goreng kering, sederhana namun jujur. Kecurigaan awal itu berubah menjadi kenikmatan ketika cireng dicocol ke bumbu rujak. Pedas, manis, dan asamnya membangkitkan nostalgia akan cuko, meski dengan karakter yang lebih ringan. Di titik itu, lidah merasa menemukan jembatan: rasa baru yang tetap menghormati kampung halaman.
Dua atau tiga tahun berlalu sejak fase percobaan itu dimulai. Seleksi alam pun bekerja di ujung lidah. Seblak masih sesekali hadir sebagai selingan, tetapi cirenglah yang memenangkan hati. Ia bukan sekadar aci digoreng. Ia adalah kompromi rasa, penghubung budaya, dan bukti bahwa merantau tak selalu berarti meninggalkan kenangan—kadang cukup menemukan versi baru dari rasa yang familiar.
Begitulah gegar budaya di piring kecil. Kadang yang paling bertahan bukan yang paling populer, melainkan yang paling mengerti rindu.

by White Lily
























