• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Sejarah TNI – Ilmu Perang dari Tuan dan Penjajah

Ali Syarief by Ali Syarief
May 26, 2025
in Feature, Sejarah
0
Sejarah TNI – Ilmu Perang dari Tuan dan Penjajah
Share on FacebookShare on Twitter

Bukan dari nol Tentara Nasional Indonesia dibentuk. Ia lahir dari tempaan keras dua penjajah, lalu tumbuh menjadi kekuatan yang menentang keduanya.

Tanggal 5 Oktober 1945, dunia militer Indonesia mencatat kelahiran Tentara Keamanan Rakyat—cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Namun siapa sangka, tentara republik muda itu tak sepenuhnya tumbuh dari rahim revolusi. Ia juga menyusu pada ilmu tempur para penjajah: Belanda dan Jepang.

Di dalam tubuh para perwira awal tentara republik, mengalir dua warisan yang kerap dianggap paradoks: disiplin profesional ala Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) dan militansi nasionalis dari barak-barak Pembela Tanah Air (PETA). Dua warisan ini, meski lahir dari kepentingan imperialis, justru mengasah kemampuan anak-anak bumiputera untuk menjadi garda kemerdekaan.

“Indonesia tidak mungkin punya tentara sebesar ini kalau tidak ada orang-orang yang lebih dahulu belajar dari Belanda dan Jepang,” kata Asvi Warman Adam, sejarawan LIPI, dalam wawancara untuk Majalah Tempo, edisi khusus TNI (2005). “Mereka menyerap lalu melawan.”

KNIL, tentara Hindia Belanda yang dibentuk sejak 1830, menjadi ladang pembelajaran militer pertama bagi sebagian anak pribumi. Meski penuh diskriminasi, segelintir perwira bumiputera berhasil menembusnya. Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo, misalnya, lulus dari Sekolah Militer KNIL di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara) dan sempat bertugas di Ambon serta Timor. Ia dikenal disiplin dan sangat terlatih secara teknis militer.

KNIL mengajarkan cara menyusun strategi tempur, logistik, hingga administrasi pasukan. Buku Het K.N.I.L. 1830–1950 karya G. Kepper mencatat bahwa KNIL menerapkan sistem Eropa yang terorganisasi rapi, dengan struktur komando yang jelas dan pelatihan tempur yang ketat. Meski ditujukan untuk menjaga kolonialisme, sistem itu justru menjadi bekal yang sangat penting ketika para mantan perwiranya berbalik arah pada 1945.

Sementara itu, Jepang yang datang sebagai penjajah baru justru memberi peluang lebih besar pada pribumi untuk bersentuhan langsung dengan militer. Pada 1943, pemerintah pendudukan Jepang membentuk Bo-ei Giyugun, atau PETA, sebagai barisan pertahanan lokal. Di luar dugaan, dari barisan inilah muncul tokoh-tokoh penting seperti Soedirman, Gatot Subroto, dan Ahmad Yani.

Soedirman, yang waktu itu guru HIS Muhammadiyah di Banyumas, dipanggil mengikuti pelatihan PETA di Bogor. “Kami digembleng tanpa ampun, dari jam 4 pagi sampai lewat tengah malam,” kenangnya dalam dokumen biografi Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Guru (Penerbit Gunung Agung, 1971). Latihan fisik ekstrem, hormat ala Jepang yang menghentakkan kaki, hingga semangat bushido menjadi menu sehari-hari. Tapi lebih dari itu, Jepang menanamkan satu hal: kedisiplinan total dan fanatisme terhadap ‘tanah air’—meski saat itu masih dalam kerangka Nippon.

Di luar PETA, Jepang juga membentuk Heiho—pasukan pembantu tentara reguler Jepang yang berasal dari rakyat jelata. Para Heiho sering dikirim ke medan tempur Asia Tenggara sebagai tenaga kasar: menggali parit, menggotong amunisi, bahkan kadang dipaksa ikut bertempur tanpa persenjataan layak. Tapi pengalaman ini membuat mereka mengenal kerasnya perang sesungguhnya. Banyak dari mereka yang kemudian menjadi pelatih, kurir tempur, atau penghubung ketika revolusi meletus.

Saat Proklamasi dikumandangkan, ketiga unsur ini—KNIL, PETA, dan Heiho—berbaur menjadi satu. Oerip Soemohardjo, yang ditunjuk sebagai Kepala Staf Umum Tentara Keamanan Rakyat oleh Presiden Soekarno, langsung menyusun struktur organisasi militer pertama. “Ia bekerja siang malam menyusun organisasi TKR hanya dengan pena, kertas, dan ingatan,” kata Nugroho Notosusanto dalam bukunya Naskah Persiapan TNI (1980).

Di sisi lain, Jenderal Soedirman dengan cepat mendapat simpati rakyat karena kedekatannya sebagai tokoh lapangan. Ia dipilih sebagai Panglima Besar karena satu hal yang tak diajarkan di sekolah militer kolonial: kharisma dan keberanian moral.

Dalam dokumen rapat Dewan Pertahanan Nasional tahun 1946, Presiden Soekarno mencatat: “Kita memiliki dua kekuatan: mereka yang tahu teknik militer, dan mereka yang tahu bagaimana mengobarkan jiwa perlawanan. Kita satukan keduanya dalam Tentara Nasional.”

Dari tangan-tangan mereka, lahirlah TNI yang bukan semata-mata tentara rakyat, tapi juga tentara yang tahu caranya bertempur. TNI menjadi unik karena bukan dibentuk oleh satu akademi militer nasional, melainkan oleh hasil penyatuan pengalaman dari dua kekuatan militer asing—dalam konteks penjajahan.

Kini, dalam formasi pasukan, dalam sistem hirarki, dan dalam gaya tempur, sisa-sisa pelatihan KNIL dan PETA masih terasa. Tapi sejarah TNI membuktikan: pengetahuan, bahkan yang lahir dari penindasan, bisa menjadi senjata perlawanan jika digunakan untuk tujuan yang lebih besar.

“Kami belajar dari Belanda dan Jepang, bukan untuk jadi budak mereka, tapi agar bisa mengalahkan mereka,” ujar Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo dalam kutipan wawancara yang dikutip oleh Majalah Angkatan Bersenjata, edisi Oktober 1952.

Warisan itulah yang menjadikan TNI bukan sekadar alat negara, tapi bagian dari denyut sejarah bangsa.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Rekomendasi Komnas HAM akan Menjadi Pertimbangan TNI AD Dalam Peledakan Amunisi Kadaluarsa

Next Post

Maaf, Saya Tidak Bisa Jalan Cepat – Seperti Gi-Bo

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Tanggapan PAN dan Gerindra Terkait Keakraban  Jokowi-Prabowo-Erick Thohir
Feature

Prabowo, Klaim, dan Bayang-Bayang Kemunafikan (Disonansi Kognitif)

April 27, 2026
Feature

Belajar dari Kongo, Perebutan Kepentingan Geopolitik & Ekonomi di Kawasan Afrika (Neo-Kolonialisme Dulu dan Relevansi Kekinian, Termasuk Kawasan Asia Tenggara)

April 27, 2026
Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru
Feature

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 26, 2026
Next Post
Maaf, Saya Tidak Bisa Jalan Cepat – Seperti Gi-Bo

Maaf, Saya Tidak Bisa Jalan Cepat - Seperti Gi-Bo

Jaksa Sebut Budi Arie Terima 50 Persen Komisi Lindungi Situs Judi Online

Menguji Kesaktian Budi Arie

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Tanggapan PAN dan Gerindra Terkait Keakraban  Jokowi-Prabowo-Erick Thohir

Prabowo, Klaim, dan Bayang-Bayang Kemunafikan (Disonansi Kognitif)

April 27, 2026

Belajar dari Kongo, Perebutan Kepentingan Geopolitik & Ekonomi di Kawasan Afrika (Neo-Kolonialisme Dulu dan Relevansi Kekinian, Termasuk Kawasan Asia Tenggara)

April 27, 2026
Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 26, 2026

Menjaga Langit Nusantara: Menakar Marwah Bebas Aktif di Tengah Krisis Karakter Bangsa

April 26, 2026

KSP Sentil Puan: Prabowo-Gibran Lahir dari Pelanggaran Etika

April 26, 2026

Manajemen Risiko Nestlé, Risiko Kesehatan & Politik, Reputasi & Business Sustainability serta Sasaran Program MBG di Indonesia

April 26, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Tanggapan PAN dan Gerindra Terkait Keakraban  Jokowi-Prabowo-Erick Thohir

Prabowo, Klaim, dan Bayang-Bayang Kemunafikan (Disonansi Kognitif)

April 27, 2026

Belajar dari Kongo, Perebutan Kepentingan Geopolitik & Ekonomi di Kawasan Afrika (Neo-Kolonialisme Dulu dan Relevansi Kekinian, Termasuk Kawasan Asia Tenggara)

April 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist