Fusilatnews – Maaf, saya tidak bisa jalan cepat. Lutut saya gemetar menahan lapar, punggung saya berat menanggung utang hidup. Saya bukan anak presiden—saya cuma anak dari rakyat biasa yang dulu pernah percaya pada perubahan.
Negara ini sedang lomba lari. Semua harus cepat: cepat investasi, cepat pindah ibu kota, cepat kaya, dan tentu saja, cepat mewariskan jabatan. Tapi mohon maaf, saya bukan Kaesang yang bisa lari dari pengusaha pisang langsung ke kursi partai. Saya bukan Gibran yang bisa sprint dari kotak suara ke podium pelantikan wakil presiden. Dan saya jelas bukan Bobby yang langsung melompat dari menantu ke calon gubernur.
Sementara mereka berlari di atas karpet merah, saya masih mengais di jalan berlubang. Mereka mendapat peluit tanda mulai bahkan sebelum start, saya bahkan belum tahu di mana garisnya. Mereka berlomba-lomba pakai sepatu emas warisan istana, saya masih cari sandal jepit bekas hasil sumbangan.
Kata mereka, ini meritokrasi. Tapi nilai saya tidak cukup meski sudah ikut tes berjilid-jilid. Sementara yang lain cukup punya nama belakang—sudah cukup untuk memotong antrian sejarah.
Saya disuruh bersyukur, katanya. Disuruh percaya pada sistem. Tapi sistem macam apa yang membuat saya harus antre berjam-jam untuk bantuan Rp200 ribu, sementara yang lain bisa duduk nyaman di jabatan tanpa pernah tahu harga sebungkus nasi kucing?
Saya tidak iri. Tidak. Saya cuma bingung—sejak kapan republik ini menjadi kerajaan? Sejak kapan demokrasi punya jalur cepat khusus keluarga? Kalau memang rakyat punya kuasa, kenapa suara kami tenggelam di bawah suara bisik-bisik istana?
Jadi, maaf… saya tidak bisa jalan cepat. Saya bukan bagian dari keluarga yang kebal kritik dan hukum. Saya hanya rakyat yang kalau menyentil dikit saja, bisa dibilang nyinyir, bisa dicap buzzer oposisi, bisa dibungkam karena dianggap mengganggu stabilitas.
Tapi jangan khawatir. Saya tetap akan berjalan, meski lambat. Karena kami rakyat, terbiasa menapak satu-satu. Tidak seperti mereka yang hidup di lift kekuasaan—langsung ke atas tanpa pernah tahu rasanya jatuh.


























