• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Serahkan pada Ahlinya: Ketika TNI Dibajak Demi Urusan Sipil

Ali Syarief by Ali Syarief
June 10, 2025
in Feature, Politik
0
Serahkan pada Ahlinya: Ketika TNI Dibajak Demi Urusan Sipil
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Pada masa Orde Baru, Presiden Soeharto dikenal sebagai pemimpin yang punya prinsip sederhana namun efektif: “Serahkan pada ahlinya.” Di bawah prinsip ini, ekonomi diserahkan kepada teknokrat macam Widjojo Nitisastro, urusan hukum pada profesor-profesor hukum terpilih, dan pertanian pada Sarwono dan Suhardiman. Tapi ada satu hal yang selalu ia tangani sendiri: urusan politik dan keamanan. Militer adalah pilar utama kekuasaan. Namun, bahkan dalam segala otoritariannya, Soeharto tidak membentuk batalyon tentara untuk menggarap sawah atau melayani pasien di puskesmas.

Kini, di tengah euforia kekuasaan sipil yang perlahan mundur dari makna sejatinya, militer justru kembali maju. Bukan untuk menenteng senjata atau menjaga perbatasan, tapi—ironisnya—untuk mengelola urusan pangan, kesehatan, bahkan peternakan.

Pada 4 Juni 2025, Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen Wahyu Yudhayana mengumumkan perekrutan 24.000 calon tamtama guna membentuk Batalyon Teritorial Pembangunan. Dalam bahasa pers, ini terdengar seperti kabar baik: ada lapangan kerja, ada pembangunan. Tapi bagi mereka yang paham sejarah dan konstitusi, ini alarm bahaya.

Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan, yang terdiri dari lebih dari 20 lembaga HAM dan pro-demokrasi, menyebut kebijakan ini sebagai bentuk pembajakan terhadap jati diri TNI. “TNI direkrut, dilatih, dan dididik untuk perang, bukan mengurus pertanian, perkebunan, peternakan maupun pelayanan kesehatan,” ujar Usman Hamid dari Amnesty International Indonesia.

Urusan militer dan sipil memang punya garis demarkasi yang tegas dalam sistem demokrasi. Itu sebabnya Reformasi 1998 menuntut militer kembali ke barak, meninggalkan urusan dagang, birokrasi, dan partai politik. Tapi kini, kita melihat gejala yang berlawanan: TNI diberi peran-peran sipil secara masif, dilegitimasi lewat rekrutmen raksasa yang menyaru sebagai program pembangunan.

Yang lebih mengkhawatirkan, ini bukan sekadar urusan anggaran dan penempatan personel. Ini soal filosofi bernegara. Ketika fungsi sipil diambil alih oleh militer, maka sipil pun kehilangan pijakan moral dan mandat profesional. Kita kembali ke zaman ketika semua urusan—dari padi hingga puskesmas—diserahkan pada tentara, dan bukan pada ahlinya.

Dalam dunia militer, seorang tamtama dilatih untuk tunduk pada perintah, bukan untuk berpikir solutif layaknya petani atau dokter. Maka, ketika mereka dikerahkan untuk menggarap pangan atau melayani kesehatan, kita tidak sedang membangun negara, tapi sedang merusaknya dari dalam. Ini bukan lagi dualisme fungsi, tapi pemusnahan fungsi.

Dan jangan salah, ancaman perang tak pernah benar-benar pergi. Dunia semakin kompleks. Ancaman siber, milisi transnasional, konflik geopolitik, semua membutuhkan TNI yang profesional, fokus, dan siap tempur. Tapi alih-alih memperkuat kekuatan tempur, kita justru mengubah tentara menjadi buruh proyek sosial yang bisa digantikan oleh sipil.

Jika Presiden Prabowo Subianto tidak segera menghentikan program ini, maka bukan hanya konstitusi yang dilanggar, tapi juga masa depan TNI sebagai institusi yang profesional. Reformasi yang berdarah-darah itu akan sia-sia.

Di masa lalu, kita menyebut militerisme sebagai momok. Kini, ia kembali menjelma—bukan lewat kekerasan, tapi lewat pengaburan peran. Ketika tentara turun ke sawah dan klinik, maka sipil pun dipaksa minggir. Dan saat itu terjadi, demokrasi hanya tinggal nama.

Soeharto, seburuk-buruknya dalam urusan HAM, tahu satu hal penting: urusan negara harus diserahkan pada ahlinya. Sayangnya, pelajaran itu justru dilupakan di era yang mengaku demokratis ini.

Fusilatnews
Menjadi Mata Hati Bangsa

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Penyelidikan Dihentikan Prematur, Julia Santoso Protes Bareskrim

Next Post

Reaksi Wakil Rakyat di Parlemen, Terkait eksploitasi Tambang Nikel di Raja Ampat

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Repositioning IKIP in Indonesia’s Learning Ecosystem

June 16, 2026
Feature

Divided education is failing Muslim Societies

June 16, 2026
DPR dan BGN Belum Berubah
Feature

DPR dan BGN Belum Berubah

June 16, 2026
Next Post
Reaksi Wakil Rakyat di Parlemen, Terkait eksploitasi Tambang Nikel di Raja Ampat

Reaksi Wakil Rakyat di Parlemen, Terkait eksploitasi Tambang Nikel di Raja Ampat

Jokowi Undercover: Selimut Misteri di Balik Ijazah dan Keadilan yang Terkubur

Jokowi Undercover: Selimut Misteri di Balik Ijazah dan Keadilan yang Terkubur

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tangkap Tiyo Ardianto!
Feature

Tangkap Tiyo Ardianto!

by Karyudi Sutajah Putra
June 16, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta -  Dalam hati mungkin Tiyo Ardianto memang ingin...

Read more
Mahasiswa Memasuki Kawasan Monas Teriak Jokowi Offside

Ketika Mahasiswa Sudah Muak Lihat Pejabat Negara

June 16, 2026
Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral

Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral

June 15, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Repositioning IKIP in Indonesia’s Learning Ecosystem

June 16, 2026

Divided education is failing Muslim Societies

June 16, 2026
DPR dan BGN Belum Berubah

DPR dan BGN Belum Berubah

June 16, 2026

Ketika Organisasi Tua Masih Peduli pada Dapur Bangsa (Membaca Surat Terbuka KOSGORO tentang Makan Bergizi Gratis)

June 16, 2026
Forum Sarasehan KOSGORO Sampaikan Delapan Rekomendasi Penguatan Program Makan Bergizi Gratis kepada Presiden

Forum Sarasehan KOSGORO Sampaikan Delapan Rekomendasi Penguatan Program Makan Bergizi Gratis kepada Presiden

June 16, 2026

PRABOWO PERLU MENGUMUMKAN NATIONAL CONTINGENCY PLAN

June 16, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Repositioning IKIP in Indonesia’s Learning Ecosystem

June 16, 2026

Divided education is failing Muslim Societies

June 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist