Fusilatnews – Sadar atau tidak, Prabowo Subianto sedang dipertontonkan di sebuah panggung ironi yang memalukan. Bukan oleh rakyat Indonesia semata, melainkan oleh dua arsitek kekerasan global: Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. Keikutsertaan Prabowo dalam Board of Peace (BOP)—sebuah forum yang lahir dari rahim kepentingan Amerika Serikat dan Zionisme Israel—bukanlah kehormatan diplomatik, melainkan jebakan simbolik yang mencederai martabat bangsa.
Di tengah genosida yang masih berlangsung di Gaza, label “perdamaian” yang disematkan pada forum tersebut berubah menjadi satire kejam. Bagaimana mungkin para pelaku pembantaian sipil berbicara tentang damai, sementara tangan mereka masih basah oleh darah anak-anak Palestina? Dalam konteks ini, kehadiran Prabowo bukan sekadar keliru—ia berfungsi sebagai alat legitimasi moral bagi kejahatan yang sedang berlangsung.
Konteks ini menjadi semakin telanjang ketika Israel dan Amerika Serikat secara terbuka melancarkan serangan militer terhadap Iran. Agresi tersebut menegaskan satu hal penting: Board of Peace bukanlah ruang netral untuk membicarakan perdamaian dunia, melainkan instrumen politik dari poros kekuatan yang sama—AS dan Israel—yang terus memproduksi perang, instabilitas, dan kematian sipil di Timur Tengah. Di tengah dentuman bom dan rudal yang jatuh di Teheran, Gaza, dan kawasan sekitarnya, retorika perdamaian yang digaungkan Trump dan Netanyahu runtuh sebagai slogan kosong. Maka, kehadiran Prabowo dalam forum itu tidak hanya kehilangan legitimasi moral, tetapi juga semakin memperlihatkan bagaimana nama Indonesia berisiko diseret untuk menutupi agresi militer yang nyata dan sedang berlangsung.
Bagi rakyat Indonesia, persoalan ini jauh melampaui etiket diplomasi. Ini menyentuh jantung konstitusi dan identitas kebangsaan. Sejak awal kemerdekaan, Indonesia berdiri di atas sikap anti-penjajahan yang tegas dan tidak ambigu. Palestina adalah batu uji konsistensi itu. Maka, ketika seorang pejabat tinggi negara—bahkan presiden terpilih—memilih duduk dalam forum yang berkelindan langsung dengan kepentingan Israel, publik berhak mempertanyakan: apakah garis politik luar negeri Indonesia masih berpijak pada keadilan, atau telah tergelincir ke pragmatisme murahan?
Lebih serius lagi, keikutsertaan Prabowo dalam BOP menyimpan cacat prosedural yang tak bisa diabaikan. Setiap keterlibatan negara dalam forum internasional yang berdampak strategis wajib memperoleh persetujuan DPR RI. Tanpa mandat parlemen, langkah tersebut bukan hanya sembrono, tetapi berpotensi melanggar konstitusi dan mengabaikan prinsip kedaulatan rakyat. Demokrasi tidak memberi cek kosong kepada siapa pun, terlebih untuk urusan yang menyangkut posisi Indonesia di panggung konflik global.
Ironisnya, mencapai puncak ketika Trump dan Netanyahu—dua figur yang secara terbuka melegitimasi kekerasan—berlagak sebagai juru damai. Trump dengan kebijakan sepihaknya yang menghalalkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Netanyahu dengan mesin perang yang mengubah Gaza menjadi puing dan kuburan massal. Dalam panggung seperti ini, Prabowo tidak sedang menjadi aktor utama; ia hanya figuran yang dipinjam untuk memperhalus wajah brutal sebuah agenda geopolitik.
Inilah bentuk penghinaan yang sesungguhnya: bukan makian langsung, melainkan eksploitasi nama dan posisi Indonesia untuk mencuci dosa perang. Sebuah peace-washing—mencitrakan kekerasan sebagai upaya damai, penjajahan sebagai stabilitas, dan agresi sebagai ketertiban dunia.
Rakyat Indonesia tidak mudah melupakan sejarahnya. Solidaritas terhadap Palestina bukan mode politik sesaat, melainkan kesadaran historis bangsa yang pernah dijajah. Karena itu, setiap langkah yang berseberangan dengan sikap tersebut akan selalu dibaca sebagai pengkhianatan nilai, bukan sekadar salah langkah diplomatik.
Jika Prabowo ingin memimpin Indonesia dengan wibawa dan kehormatan, ia harus menarik garis tegas: Indonesia tidak boleh menjadi aksesoris dalam panggung perdamaian palsu. Martabat bangsa tidak lahir dari undangan elite global, tetapi dari keberanian berdiri di sisi yang benar—meski berhadapan dengan kekuatan besar dunia.


























