• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Siapa Lawan Prabowo? Antara Oligarki dan Civil Society

fusilat by fusilat
September 2, 2025
in Birokrasi, Feature, Politik
0
Siapa Lawan Prabowo? Antara Oligarki dan Civil Society
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Gelombang demonstrasi yang mengguncang Jakarta pada 25–28 Agustus lalu bukanlah sekadar letupan spontan anak muda atau aksi moral civil society yang marah. Ia lahir dari tumpukan lapisan masalah, negosiasi politik yang gagal, perebutan kepentingan ekonomi, hingga kecemasan para pejabat yang merasa masa jabatannya kian singkat.

Ada setidaknya tujuh fenomena yang membentuk fondasi kemarahan ini. Pertama, gagalnya negosiasi antara Hasyim dengan adik Rizal Chalid yang memicu gesekan dalam lingkaran elite bisnis–politik. Kedua, operasi besar-besaran Kejaksaan Agung yang menyapu mafia di hampir semua lini: migas, sawit, tanah, tambang, hingga cukong judi online dan narkoba. Pembersihan ini membuat banyak pemain lama kalang kabut. Ketiga, ketidakpuasan keluarga Jokowi karena Gibran tak mendapat ruang istimewa dalam pemerintahan Prabowo. Keempat, sejumlah kebijakan Prabowo yang bertentangan dengan kepentingan Jokowi—mulai dari pengembalian jabatan Kunto hingga pemberian amnesti untuk Tom Lembong dan Hasto. Kelima, kecemasan barisan “Genk Solo” yang terancam reshuffle, dari Bahlil hingga Kapolri Sigit. Keenam, akumulasi kekecewaan civil society, kelompok Islam, buruh, dan mahasiswa yang melihat Prabowo tetap terikat bayang-bayang Jokowi. Dan ketujuh, kepentingan elit global yang merasa terancam dengan arah baru Prabowo.

Akumulasi itu meledak dalam lima arus demonstrasi. Genk Solo, oligarki, dan elit global bersekutu lewat jaringan ormas, mahasiswa binaan, hingga kelompok anarko, mengangkat isu “Bubarkan DPR” dengan tujuan mendeligitimasi pemerintahan. Barisan elite politik yang merasa kursinya terancam ikut menunggangi, berharap trauma lama Prabowo terhadap demonstrasi mahasiswa bisa dijadikan alat tawar. Kelompok oposisi anti-Jokowi juga turun dengan agenda mendesak pemecatan para menteri Jokowi sekaligus pemakzulan Gibran. Civil society moderat bergerak dengan tuntutan lebih radikal: bubarkan DPR, kembali ke UUD 1945, dan pemilu ulang. Sisanya, kelompok oportunis, hanya mengikuti siapa yang lebih kuat.

Jika diperas, kelima arus itu sebenarnya bisa dikategorikan dalam dua kubu besar. Pertama, kelompok penjahat: gabungan oligarki, mafia, elit politik yang tersandera kasus, hingga kepentingan global. Tujuan mereka sederhana: cari cuan dan kekuasaan. Mereka bisa saja berkompromi dengan Prabowo—atau kalau gagal, menjatuhkannya agar Gibran naik menggantikan. Kedua, kelompok berbeda pendapat: civil society, akademisi, aktivis, ulama, yang masih berharap Prabowo bisa melepaskan diri dari cengkeraman para penjahat dan benar-benar bekerja untuk penyelamatan bangsa.

Persoalannya, Prabowo menjadi presiden justru berkat dukungan kelompok pertama. Sulit membayangkan ia tiba-tiba membelot dari mereka. Tetapi sejarah politik Indonesia juga selalu penuh kejutan. Di titik ini, pilihan Prabowo hanya dua: tetap berpegang pada para penjahat dan mempertahankan kursi dengan segala risikonya, atau merangkul kelompok berbeda pendapat dan bertaruh pada kepercayaan publik.

Jejak Historis: Dari 1998 ke 2019, hingga 2025

Demonstrasi besar selalu menjadi penanda krisis politik di Indonesia. Tahun 1998, mahasiswa dan rakyat turun ke jalan bukan karena satu isu tunggal, melainkan akumulasi krisis ekonomi, korupsi, dan otoritarianisme. Soeharto akhirnya tumbang, tapi warisan Orde Baru tetap membekas dalam politik dan birokrasi.

Dua dekade kemudian, 2019, gelombang mahasiswa kembali mengguncang Jakarta. Isu RKUHP, pelemahan KPK, dan kebijakan represif memantik demonstrasi lintas kampus. Namun berbeda dengan 1998, gerakan ini berhasil ditekan lewat kombinasi represi aparat, kooptasi organisasi mahasiswa, dan hilangnya kepemimpinan gerakan.

Demo Agustus 2025 berada di antara dua kutub sejarah itu. Ia punya energi akumulatif seperti 1998, tapi juga berisiko pecah arah seperti 2019. Bedanya, kali ini bukan hanya mahasiswa yang bergerak. Oligarki, mafia, hingga elit politik ikut turun gelanggang dengan agenda masing-masing. Inilah yang membuat demonstrasi terbaru terasa lebih kompleks: sulit membedakan mana gerakan moral, mana sekadar permainan kekuasaan.

Suasana Jalanan: Antara Ideal dan Kepentingan

Di depan Gedung DPR, asap ban terbakar membubung. Spanduk bertuliskan “Bubarkan DPR, Kembalikan UUD 1945!” terbentang di antara kerumunan mahasiswa. Sebagian berorasi dengan pengeras suara, mengutip pidato Soekarno tentang kedaulatan rakyat. Tak jauh dari situ, kelompok lain yang mengenakan kaus hitam menyalakan flare merah, teriakannya lebih provokatif: “Turunkan Prabowo!”

Aparat bersenjata lengkap berbaris rapat di belakang pagar kawat berduri. Truk water cannon siap ditembakkan kapan saja. Di sudut jalan, sekelompok pria berbadan kekar tanpa atribut kampus terlihat sibuk mengatur arus massa—entah mahasiswa tulen, atau sekadar preman bayaran.

Kontras inilah yang membuat demo Agustus 2025 terasa ambigu: idealisme bercampur kepentingan, aktivisme bertemu oportunisme. Di satu sisi, ada mahasiswa dan civil society yang konsisten mengusung agenda reformasi. Di sisi lain, ada kekuatan besar yang mengubah protes menjadi alat tawar-menawar politik.

Pada akhirnya, Prabowo sedang berhadapan dengan cermin sejarah. Bila ia gagal membaca aspirasi rakyat, ia bisa mengulang jejak Soeharto yang jatuh oleh tekanan jalanan. Namun bila ia hanya tunduk pada kompromi elite, ia akan bernasib seperti Jokowi di periode kedua: presiden yang kuat di atas kertas, tapi rapuh dalam legitimasi publik.

Demo Agustus bukan sekadar kerumunan, melainkan peringatan keras: legitimasi pemerintahan kini tidak lagi ditentukan oleh berapa kursi koalisi di Senayan, melainkan oleh sejauh mana ia bisa menjawab pilihan sederhana—berpihak pada penjahat, atau memberi ruang bagi perbedaan pendapat.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Executive Brief Intelijen: Serangan 25–28 Agustus 2025 Fakta Kunci

Next Post

Acil Bimbo: Harmoni Musik, Budaya Sunda, dan Nurani Sosial

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

​Pembuktian Mens Rea: Abu-Abu, Pelik, tapi Pangkal Keadilan

April 19, 2026
Negeri Para Jongos
Feature

Seberapa Pentingkah Teddy Wijaya Bagi Bangsa Ini?

April 19, 2026
JK dan Keris Mpu Gandring
Feature

JK dan Keris Mpu Gandring

April 19, 2026
Next Post
Acil Bimbo: Harmoni Musik, Budaya Sunda, dan Nurani Sosial

Acil Bimbo: Harmoni Musik, Budaya Sunda, dan Nurani Sosial

Harapan Kepada Presiden Prabowo: “Menanggalkan Bayang-Bayang Jokowi”

Prabowo vs Jokowi: Drama Rekonsiliasi untuk Selamatkan Gibran?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia
News

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

by fusilat
April 17, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Awal minggu ini beredar sejumlah laporan media internasional yang mengungkap adanya upaya Amerika Serikat (AS) untuk memperoleh akses...

Read more
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

​Pembuktian Mens Rea: Abu-Abu, Pelik, tapi Pangkal Keadilan

April 19, 2026
Negeri Para Jongos

Seberapa Pentingkah Teddy Wijaya Bagi Bangsa Ini?

April 19, 2026
JK dan Keris Mpu Gandring

JK dan Keris Mpu Gandring

April 19, 2026
Ekonomi Lesu: Ketika Mahasiswa Menjadi Indikator Krisis yang Diabaikan

Ekonomi Lesu: Ketika Mahasiswa Menjadi Indikator Krisis yang Diabaikan

April 19, 2026
Pertamax Bakal Naik Jadi Rp16.000 per Liter? Ini Penjelasan Pertamina

Daftar Lengkap Harga BBM se-Indonesia per 18 April 2026!

April 19, 2026

Manajemen Waktu: Ketika Hidup Tidak Lagi Sekadar Pembagian Waktu, Tapi Dimaknai Arah Hidup

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

​Pembuktian Mens Rea: Abu-Abu, Pelik, tapi Pangkal Keadilan

April 19, 2026
Negeri Para Jongos

Seberapa Pentingkah Teddy Wijaya Bagi Bangsa Ini?

April 19, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist