• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Siapa yang Diuntungkan dari Konflik Sunni–Syiah?

Ali Syarief by Ali Syarief
October 17, 2025
in Feature, Spiritual
0
Siapa yang Diuntungkan dari Konflik Sunni–Syiah?
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews- Pertikaian antara Sunni dan Syiah sering digambarkan sebagai konflik teologis yang tak berujung, seolah-olah perbedaan tentang siapa penerus sah Nabi Muhammad adalah sumber abadi dari permusuhan Islam terhadap Islam. Namun, jika kita menelusuri lebih dalam, perpecahan ini jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan fikih dan akidah. Di balik jargon keagamaan, tersembunyi perebutan pengaruh, kekuasaan, dan legitimasi politik di dunia Islam.

Akar historisnya memang berawal dari perpecahan pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW pada abad ke-7. Kelompok pertama, yang kemudian dikenal sebagai Sunni, meyakini kepemimpinan umat harus dipilih berdasarkan musyawarah, bukan garis keturunan. Sementara kelompok lain, Syiah, percaya bahwa kepemimpinan seharusnya tetap berada di tangan keluarga Nabi, dimulai dari Ali bin Abi Thalib. Dari perbedaan pandangan itulah lahir dua tradisi besar Islam yang berkembang dengan identitas teologis dan budaya masing-masing.

Namun, dalam sejarah modern, perpecahan itu menemukan bentuk barunya: bukan lagi sekadar perbedaan tafsir agama, melainkan pertarungan ideologi dan geopolitik.

Revolusi Iran: Agama Menjadi Negara

Titik balik besar terjadi pada 1979, ketika Revolusi Iran menggulingkan monarki Shah Pahlavi dan menegakkan sistem Wilayatul Faqih—konsep yang menempatkan ulama sebagai pemegang kekuasaan tertinggi negara. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, agama dan negara menyatu dalam satu otoritas politik yang sah. Iran menjelma menjadi republik Islam Syiah revolusioner, membawa semangat anti-imperialisme dan anti-monarki ke panggung dunia.

Sejak itu, Iran tampil sebagai poros perlawanan terhadap hegemoni Barat, terutama Amerika Serikat, dan menentang tatanan monarki yang dianggap menindas umat Islam. Ideologi ini secara langsung bertentangan dengan sistem politik Arab Saudi—kerajaan monarki absolut yang justru bersekutu dengan Barat, mengandalkan perlindungan ekonomi dan militer Amerika Serikat untuk menjaga stabilitas internalnya.

Di sinilah garis demarkasi baru terbentuk: bukan lagi antara Sunni dan Syiah sebagai sekte keagamaan, melainkan antara dua visi Islam yang saling bertolak belakang—Islam revolusioner Iran melawan Islam konservatif Saudi.

Fatwa yang Tak Mampu Menjembatani

Upaya untuk menjembatani jurang ini sesungguhnya pernah dilakukan. Pada 1959, Syaikh Mahmud Shaltut, Rektor Universitas Al-Azhar di Kairo, mengeluarkan fatwa bersejarah yang mengakui mazhab Ja’fari (Syiah) sebagai salah satu mazhab Islam yang sah. Secara teologis, langkah ini semestinya menutup ruang sektarianisme. Namun, dalam praktik politik, fatwa itu tidak berarti banyak.

Arab Saudi, sebagai penjaga dua kota suci Makkah dan Madinah, menolak menjadikannya dasar rekonsiliasi politik. Bagi Riyadh, pengakuan terhadap Syiah tidak hanya soal teologi, tapi juga pengakuan terhadap legitimasi politik Iran sebagai pemimpin umat Islam. Dalam bahasa lain, Saudi menolak “berbagi kiblat kekuasaan.”

Maka benar apa yang dikatakan banyak pengamat: konflik Sunni–Syiah lebih sering dijadikan alat kekuasaan daripada cerminan perbedaan iman.

Pertarungan Pengaruh di Timur Tengah

Persaingan ideologis itu kemudian menjelma menjadi pertarungan pengaruh di berbagai negara Muslim: di Lebanon lewat Hizbullah, di Suriah lewat rezim Bashar al-Assad, di Yaman melalui kelompok Houthi, dan di Irak melalui milisi Syiah yang kuat setelah tumbangnya Saddam Hussein. Di sisi lain, Arab Saudi membiayai kelompok-kelompok Sunni konservatif di berbagai negara untuk mengimbangi pengaruh Iran.

Amerika Serikat, Israel, dan kekuatan Barat lainnya pun masuk dalam permainan ini. Mereka memanfaatkan rivalitas Riyadh–Teheran sebagai strategi pecah-belah, menjaga agar dunia Islam tidak pernah benar-benar bersatu menghadapi dominasi global. Dalam kerangka geopolitik inilah, konflik Sunni–Syiah menjadi komoditas politik internasional—dipelihara, didramatisasi, dan dimanfaatkan.

Siapa yang Diuntungkan?

Pertanyaan paling penting adalah: siapa yang diuntungkan dari konflik yang tak kunjung padam ini?

Jawabannya sederhana namun pahit. Bukan umat Islam.

Yang diuntungkan adalah kekuatan-kekuatan yang hidup dari perpecahan: rezim-rezim otoriter yang menjadikan isu sektarian sebagai alat legitimasi, perusahaan senjata yang memasok perang di Yaman dan Suriah, serta kekuatan asing yang menancapkan kepentingan ekonominya di atas reruntuhan solidaritas umat.

Sementara itu, darah umat yang sama mengalir di Karbala dan di Madinah, di Baghdad dan di Riyadh, di Teheran dan di Damaskus. Mereka berdoa ke arah kiblat yang sama, menyebut nama Tuhan yang sama, tapi terbelah oleh kepentingan yang tak mereka sadari sepenuhnya.


Refleksi: Luka yang Dipelihara

Selama dunia Islam masih sibuk mengkafirkan sesamanya dan menutup mata terhadap permainan geopolitik di balik konflik ini, selama itu pula luka Sunni–Syiah akan terus dipelihara. Fatwa ulama tak akan mampu menyembuhkan luka yang disiram oleh minyak politik.

Yang seharusnya diperangi bukanlah mazhab yang berbeda, melainkan kerakusan dan manipulasi yang menjadikan perbedaan sebagai alat kekuasaan. Karena pada akhirnya, musuh sejati umat Islam bukanlah sesama Muslim—melainkan mereka yang bertepuk tangan di kejauhan, menyaksikan api perpecahan terus menyala di atas nama Tuhan yang sama.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Telinga Menteri di Genggaman Rakyat

Next Post

Jeruji Hafalan dan Belenggu Taqlid: Mengapa Bangsa Ini Sulit Maju

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat
Feature

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026
Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo
Feature

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

July 28, 2026
Next Post
Jeruji Hafalan dan Belenggu Taqlid: Mengapa Bangsa Ini Sulit Maju

Jeruji Hafalan dan Belenggu Taqlid: Mengapa Bangsa Ini Sulit Maju

PERGESERAN PARADIGMA EKONOMI INDONESIA: DARI BELENGGU NEOLIBERAL IMF MENUJU SOEMITRONOMICS BRICS

Menke Purbaya: Melampaui Birokrasi dan Menguji Warisan Sri Mulyani

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Habis Nanik, Terbitlah Hotman
Feature

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

by Karyudi Sutajah Putra
July 23, 2026
0

Jakarta - Setelah Nanik S Deyang, kini giliran pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang menyatakan mundur. Jika Nanik mundur dari...

Read more
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026
Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

July 28, 2026

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist