Tanggal 18 Maret dianggap sebagai salah satu kemenangan paling signifikan dalam sejarah Turki dan diperingati bersama rakyat Turki untuk menghormati veteran perang dan mereka yang gugur.
Türkiye akan memperingati 108 tahun Kemenangan Canakkale dan Hari Martir pada 18 Maret.
Pada hari itu di tahun 1915, kekerasan selama berbulan-bulan dari Kampanye Gallipoli, di mana pasukan Ottoman menderita kerugian besar mempertahankan pantai Turki di provinsi Canakkale utara dari invasi Sekutu di Perang Dunia I, berakhir dengan kemenangan Turki.
Canakkale berfungsi sebagai pintu masuk ke Selat Istanbul. Jika Sekutu berhasil merebut Semenanjung Gallipoli, kemungkinan akan memberi mereka kesempatan, pembukaan yang sangat dibutuhkan, untuk maju terus dan merebut Istanbul, bekas ibu kota Kekhalifahan Ottoman.
Pertahanan Gallipoli
British War Council memutuskan untuk menginvasi dan menduduki Semenanjung Gallipoli pada 13 Januari 1915.
Target utamanya adalah Istanbul.
Inggris ingin menyeberangi Selat Gallipoli dan menduduki Istanbul sebelum Rusia, dengan demikian mengakhiri perang.
Inggris dan Prancis, dua negara sekutu, mengalami kekalahan tak terduga pada 18 Maret, meskipun mereka mengira akan menyeberangi Selat Gallipoli dengan mudah menggunakan kapal perang.
Menyadari bahwa mereka tidak dapat lewat, sekutu memulai operasi militer pada 2 April.
Pertahanan darat
Komandan Angkatan Darat ke-5 Liman von Sanders meninggalkan pasukan di bagian tersempit Semenanjung Gallipoli, berharap pasukan sekutu akan mendarat di tepi Teluk Saros. Sanders berencana menyerang selama operasi militer sambil menahan pasukan di belakang.
Karena Inggris dan Prancis gagal pada 18 Maret, mereka berencana membawa pasukan ke pantai Ariburnu, Seddulbahir, dan Kumkale pada 25 April untuk membuka Selat Gallipoli dengan operasi militer.
Tentara sekutu terdiri dari tentara Inggris dan Prancis, serta tentara yang dibawa dari koloni di Australia, Selandia Baru, India, Nepal, dan Senegal.
Operasi militer
Periode kedua dimulai di Front Gallipoli dengan tentara sekutu mendaratkan pasukan di Ariburnu, Seddulbahir, dan Kumkale.
Jenderal Inggris Sir Ian Hamilton menghadapi perlawanan tak terduga pada tanggal 25 April di target pertamanya, distrik Alcitepe.
Tentara Australia dan Selandia Baru, yang disebut bersama sebagai pasukan Anzac, menderita kerugian besar di Ariburnu, tempat mereka mendarat pada hari yang sama.
Angkatan Laut Entente mendarat di distrik Chunuk Bair dan Hisarlik dan dipukul mundur tak lama kemudian.
Di bawah komando Sersan Yahya, tentara di Teluk Ertugrul berhasil memukul mundur pasukan Inggris yang kalah jumlah.
Komandan Divisi 19 Letnan Kolonel Mustafa Kemal, yang kemudian menjadi pendiri Republik Turki, mengirimkan resimen tambahan ke Ariburnu.
Resimen tersebut memukul mundur delapan batalyon penuh dengan dukungan pasukan tambahan.
‘Saya perintahkan kalian untuk mati’
Mustafa Kemal memerintahkan Resimen ke-57 dan pasukan tambahan, “Saya tidak memerintahkan kalian untuk menyerang. saya perintahkan kalian untuk mati.”
Pada tanggal 26 April, dia mengirim Resimen ke-72 dan Baterai Gunung ke-8 ke sayap selatan untuk menghadapi serangan musuh yang intens. Korps melaporkan pasukan tambahan tidak dapat dikirim. Kolonel Kemal mengatakan hari itu adalah “hari paling kritis melawan musuh”.
Pertempuran Kirte pertama terjadi pada 28-30 April. Pasukan sekutu yang terdiri dari dua brigade Inggris dan satu brigade Prancis gagal menduduki Alcitepe melawan pertahanan tentara Ottoman.
Negara Entente selanjunya menuju Pertempuran Kirte Kedua pada 6-8 Mei untuk mengambil alih Alcitepe, meminta bala bantuan baru.
Meskipun mengalami kerugian besar, First Lord of the Admiralty Winston Churchill dari Inggris diperintahkan untuk melanjutkan operasi.
Churchill mengundurkan diri
Churchill mengundurkan diri pada 17 Mei dari Kabinet Inggris. Di hari yang sama, pemerintah Inggris meminta Rusia mengirimkan pasukan ke Semenanjung Gallipoli.
Esat Pasha, yang ditunjuk sebagai komandan Grup Utara, memerintahkan penyerangan ke Ariburnu pada 18 Mei, tetapi empat divisi pasukan Ottoman gagal.
Gencatan senjata dicapai antara Ottoman dan kekuatan Entente pada tanggal 23 Mei. Gencatan senjata efektif antara pukul 09.30 dan 16.30 bagi para pihak untuk mengumpulkan tentara yang tewas dan terluka.
Pihak yang bertikai akan kembali ke parit mereka pada pukul 4 sore dan perang akan dimulai lagi.
Mustafa Kemal dipromosikan menjadi kolonel
Letnan Kolonel Kemal sukses besar di Semenanjung Gallipoli. Dia menghentikan gerak maju pasukan Anzac yang mendarat di Ariburnu ke semenanjung di Chunuk Bair. Setelah itu, Kemal dipromosikan menjadi kolonel pada 1 Juni.
Jenderal Hamilton memutuskan untuk menyerang Yassitepe-Alcitepe pada 19 Mei, mengingat kerugian yang besar. Pasukan cadangan Ottoman menekan serangan pasukan musuh pada 4-6 Juni.
Pada Pertempuran Kerevizderesi Pertama, Korps Prancis menyerang untuk menduduki distrik Kerevizderesi tetapi ditekan oleh pertahanan Utsmaniyah pada 21-22 Juni.
Negara-negara Entente yang ingin mengambil alih distrik Zigindere juga gagal dalam Pertempuran Zigindere yang berlangsung dari 28 Juni hingga 5 Juli.
Saat pasukan sekutu gagal mendarat pada 25 April, mereka memulai serangan baru di Teluk Suvla pada 6 Agustus.
Di bawah komando Kol Kemal, pasukan Ottoman mengalahkan pasukan Anzac dan India.
Akhir perang
Pemerintah Inggris memutuskan untuk menarik sebagian tentaranya dari Semenanjung Gallipoli pada 9 Desember, Teluk Suvla dan Ariburnu segera dievakuasi, tetapi sejumlah kecil tentara ditahan di Seddulbahir hingga 20 Desember.
Pasukan Entente mengevakuasi Seddulbahir pada 9 Januari, titik terakhir yang mereka duduki. Saat mereka benar-benar mundur dari Semenanjung Gallipoli, bangsa Turki merayakan kemenangan.
Tanggal 18 Maret dianggap sebagai salah satu kemenangan paling signifikan dalam sejarah Turki dan diperingati oleh rakyat Turki untuk menghormati veteran perang dan mereka yang gugur.
Kemenangan 18 Maret 1915 memberi negara itu dorongan moral besar-besaran yang memungkinkannya mengobarkan perang kemerdekaan dan akhirnya, pada tahun 1923, membentuk sebuah republik dari abu Kekaisaran Ottoman.





















