Anwar Husen
Pemerhati Sosial / Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara
Dan ketika seseorang berhasil mencapai targetnya, media seolah berebut memujinya setinggi langit. Yang tampak hanyalah hasil, sementara cara-cara kotor yang ditempuh begitu mudah dilupakan. Inilah paradoks yang sulit dinalar. Barangkali, inilah siklus baru dalam membangun peradaban—peradaban yang penuh kepalsuan.
Media Kompas.com, edisi 23 Februari 2026 dalam rubrik Lifestyle, mengangkat judul: Fenomena Berangkat dari Nol, Pencitraan Pernah Hidup Susah.
Dalam salah satu kutipannya disebutkan: belakangan ini muncul kecenderungan “unik” di ruang publik—orang-orang yang sejak kecil hidup dalam kenyamanan justru menarasikan masa lalu yang sulit. Kisah hidup serba kekurangan, rumah sempit, hingga jarang membeli pakaian baru, dikonstruksi sedemikian rupa untuk menutupi realitas sebenarnya.
Standar moral “berangkat dari nol”—yang semula menekankan kemampuan, prestasi, dan kompetensi dalam kerangka meritokrasi—justru mendorong sebagian orang dengan privilese untuk mengarang kisah hidup agar tampak lebih “layak diterima” publik. Dalam logika kapitalisme modern, kerja keras dan penderitaan dianggap sebagai bukti keaslian moral.
Fenomena ini menunjukkan cara pandang masyarakat terhadap pencapaian. Kesuksesan tanpa narasi penderitaan sering kali dicurigai sebagai sesuatu yang tidak otentik. Secara sosiologis, ini berkaitan dengan mitos meritokrasi: keyakinan bahwa semua orang memulai dari titik yang sama—padahal realitasnya tidak demikian.
Apa yang disampaikan sosiolog tersebut sejalan dengan kegelisahan yang pernah saya tulis sebelumnya. Di era ketika akses terhadap karier dan jabatan publik dapat diraih dengan berbagai cara—dari menginjak rekan sendiri, memainkan kesan manipulatif, hingga praktik suap—kita semakin sulit melacak orisinalitas integritas, kompetensi, dan komitmen seseorang.
Fenomena ini mengingatkan pada anekdot klasik Charlie Chaplin: ia pernah menyamar dan mengikuti lomba “Paling Mirip Charlie Chaplin”, namun hanya meraih juara kedua. Juara pertamanya justru anak dari ketua panitia. Sebuah satire tentang absurditas penilaian dan manipulasi persepsi.
Dalam konteks hari ini, bahkan penulisan biografi atau profil tokoh pun kerap terasa hambar dan kehilangan makna. Kita seolah tidak lagi mencari kebenaran, melainkan sekadar narasi yang enak dikonsumsi. Padahal, ada “ruang kosong” yang seharusnya digali lebih dalam sebagai sudut pandang kritis.
Di berbagai platform media sosial, gejala ini kian menguat. Seseorang baru saja dilantik atau meraih prestasi, dan dalam waktu bersamaan, kisah masa lalunya yang “penuh penderitaan” langsung beredar luas. Tak jelas sumbernya, tak terverifikasi, namun cepat dipercaya. Media sosial telah menjadi ruang paling efektif untuk mengobral kepalsuan.
Kita pun sering kali menerima begitu saja—karena jejak digitalnya sulit dilacak. Semua seolah sah hanya dengan “SK mulut”.
Era digital, yang mulai berkembang sejak 1980-an dan melesat pesat pada akhir 1990-an hingga 2000-an, memang telah mengubah cara manusia berkomunikasi dan berinteraksi. Namun, di saat yang sama, ia juga membuka ruang luas bagi manipulasi realitas.
Memang benar, pengalaman hidup yang sulit kerap menjadi pemantik semangat untuk mengubah nasib. Banyak orang bangkit dari keterbatasan dengan cara terhormat dan penuh integritas. Tetapi persoalannya bukan pada narasi “dari nol” itu sendiri—melainkan pada kejujuran cara mencapainya.
Kesuksesan tidak boleh diraih dengan menghalalkan segala cara.
Analoginya sederhana: seorang kepala daerah petahana yang mengumpulkan modal besar melalui penyalahgunaan kewenangan, termasuk korupsi, demi memenangkan kembali kontestasi. Ketika ia berhasil, media memujinya. Yang disorot adalah keberhasilannya, sementara praktik-praktik curang yang dilakukan seolah lenyap dari ingatan publik.
Di sinilah letak paradoks itu. Kita menyaksikan keberhasilan yang dielu-elukan, tetapi melupakan proses yang cacat.
Mungkin, inilah wajah peradaban kita hari ini—sebuah siklus baru yang dibangun di atas konstruksi kepalsuan.
Wallahua’lam.

Anwar Husen






















