FusilatNews – Kakek saya pernah bercerita, di zaman Belanda, pemilihan seorang guru adalah proses yang sangat selektif. Guru bukan hanya dipilih berdasarkan kecerdasan otaknya, tetapi juga watak yang terbaik, postur tubuh yang tinggi, dan wajah yang menarik. Dalam pandangan kolonial, guru adalah representasi otoritas dan panutan moral bagi masyarakat. Seorang guru harus mampu mendidik bukan hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan keteladanan.
Seiring dengan perubahan zaman, kualitas guru juga mengalami pergeseran. Di era Orde Baru, pendidikan guru difasilitasi melalui Sekolah Pendidikan Guru (SPG), yang setara dengan sekolah menengah atas. SPG menjadi pilihan bagi mereka yang berasal dari desa, karena lulusannya bisa langsung bekerja sebagai guru. Profesi guru kala itu masih memiliki daya tarik tersendiri, setidaknya dari segi kepastian mendapatkan pekerjaan. Namun, pada akhirnya, SPG ditutup, dan pendidikan guru dialihkan ke perguruan tinggi melalui Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP).
Transformasi pendidikan guru semakin terasa ketika IKIP kemudian dilebur menjadi universitas umum. Yang menarik, siapa yang masuk ke IKIP? Realitas menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswanya adalah mereka yang tidak berhasil menembus universitas unggulan seperti ITB, UI, atau UNPAD. Dengan kata lain, banyak yang memilih IKIP bukan karena panggilan jiwa untuk mendidik, tetapi lebih sebagai pilihan terakhir setelah gagal masuk ke institusi pendidikan yang lebih bergengsi.
Potret ini menggambarkan bagaimana kualitas pendidikan guru kita perlahan mengalami degradasi. Ketika profesi guru tidak lagi menjadi pilihan utama bagi individu-individu terbaik, maka konsekuensinya adalah menurunnya kualitas pendidikan secara keseluruhan. Jika di zaman Belanda seorang guru adalah simbol intelektualitas dan keteladanan, kini banyak yang masuk ke dunia pendidikan lebih karena keterpaksaan daripada panggilan jiwa.
Kualitas guru yang rendah akan melahirkan kualitas kepemimpinan yang serupa. Kita bisa melihat fenomena ini dalam tokoh-tokoh yang lahir dari sistem pendidikan yang tidak lagi mengutamakan mutu. Ambil contoh Bahlil Lahadalia, seorang figur yang kini mendapat kepercayaan besar dalam pemerintahan, tetapi sering kali memperlihatkan logika dan retorika yang tidak mencerminkan kedalaman pemikiran. Jika pemimpin seperti Bahlil adalah produk dari sistem pendidikan yang ada, maka ini adalah cerminan bagaimana kualitas guru turut berkontribusi dalam menciptakan kualitas kepemimpinan di negeri ini.
Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Jika kita ingin memiliki pemimpin berkualitas di masa depan, maka kita harus kembali memperbaiki sistem pendidikan guru. Pemilihan calon guru harus kembali kepada prinsip bahwa hanya individu terbaik yang layak menjadi pendidik. Jika tidak, kita hanya akan terus mencetak generasi yang lebih banyak bicara daripada berpikir, lebih sibuk mencari kepentingan pribadi daripada mencerdaskan bangsa.


























