• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

JUMHUR HIDAYAT: AKTIVIS DI TENGAH PUSARAN PERTUMBUHAN DAN KEBERLANJUTAN

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
May 1, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Penunjukan M. Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup membuka satu babak yang tidak bisa dibaca hanya sebagai pergantian pejabat. Ia membawa satu bahasa yang jarang dipakai negara: menahan, membatasi, bahkan menolak. Apa yang diingatkan oleh Hariman Siregar tentang “kementerian negative development” menjadi sangat konkret ketika kita melihat bagaimana sektor-sektor utama ekonomi Indonesia justru tumbuh dari praktik-praktik yang secara sistemik merusak lingkungan.

Di titik ini, serakahnomics bukan lagi konsep. Ia adalah praktik yang bisa disentuh, dilihat, dan dirasakan dampaknya.

Ambil contoh industri sawit. Selama dua dekade terakhir, ekspansi perkebunan sawit sering kali berjalan dengan pola yang berulang: pembukaan lahan melalui pembakaran, konflik lahan dengan masyarakat adat, dan penggunaan izin yang problematik. Kebakaran hutan besar pada 2015—yang sebagian besar terkait dengan pembukaan lahan sawit—menjadi salah satu bencana ekologis terbesar dalam sejarah Indonesia. Asapnya melintasi batas negara, mengganggu kesehatan jutaan orang, dan menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar.

Yang menarik, pelanggaran ini bukan semata-mata karena lemahnya hukum. Ia justru terjadi dalam kondisi hukum ada, tetapi tidak bekerja optimal. Banyak perusahaan tetap beroperasi meskipun terbukti lahannya terbakar. Sebagian kasus berujung pada denda, tetapi tidak mengubah perilaku industri secara struktural. Di sini kita melihat apa yang disebut sebagai disfungsionalitas sistemik: hukum ada, tetapi tidak menjadi mekanisme koreksi yang efektif.

Di sektor batubara, pola yang sama muncul dalam bentuk berbeda. Tambang-tambang batubara meninggalkan lubang-lubang besar yang tidak direklamasi. Di Kalimantan Timur, ratusan lubang tambang dibiarkan terbuka, dan beberapa di antaranya telah menyebabkan kematian anak-anak yang tenggelam. Secara regulasi, kewajiban reklamasi sudah jelas. Namun dalam praktik, perusahaan sering kali tidak memenuhi kewajiban tersebut, sementara pengawasan negara lemah atau bahkan kompromistis.

Lebih dalam lagi, kita melihat adanya relasi erat antara industri batubara dan kekuasaan politik. Banyak konsesi tambang terkait dengan elite politik atau jaringan kekuasaan. Ini menciptakan situasi di mana kementerian yang seharusnya menjadi pengawas justru berada dalam tekanan struktural. Dalam bahasa ekonomi politik, ini mendekati apa yang disebut sebagai extractive institutions oleh Daron Acemoglu—institusi yang dirancang untuk mengekstraksi nilai bagi segelintir elite, bukan untuk keberlanjutan sistem.

Industri nikel, yang kini menjadi tulang punggung strategi hilirisasi Indonesia, menghadirkan dilema yang lebih kompleks. Di satu sisi, nikel adalah pintu masuk Indonesia ke rantai pasok global kendaraan listrik. Di sisi lain, praktik di lapangan menunjukkan kerusakan lingkungan yang signifikan: deforestasi besar-besaran di Sulawesi, pencemaran laut akibat limbah tambang, hingga konflik dengan masyarakat lokal.

Kasus-kasus di Morowali dan Halmahera menunjukkan bagaimana industrialisasi cepat sering kali mengabaikan daya dukung lingkungan. Limbah tailing yang dibuang ke laut, misalnya, menimbulkan kerusakan ekosistem pesisir yang sulit dipulihkan. Dalam banyak kasus, masyarakat lokal kehilangan sumber penghidupan tradisionalnya—nelayan tidak lagi bisa melaut seperti biasa, petani kehilangan tanahnya.

Di sini kita melihat bentuk lain dari “serakahnomics”: bukan sekadar mengejar laba, tetapi juga mengejar posisi dalam ekonomi global tanpa membangun sistem pengaman lingkungan yang memadai.

Jika pendekatan Jumhur benar-benar dijalankan, maka semua praktik ini akan menjadi medan tempur utama. Kementerian Lingkungan Hidup tidak lagi bisa bekerja sebagai lembaga administratif yang memproses izin dan laporan, tetapi harus berfungsi sebagai penahan sistem—yang berani mengatakan “tidak” ketika logika ekonomi mendorong “ya”.

Kelebihan pendekatan ini menjadi semakin jelas: ia mengembalikan rasionalitas jangka panjang ke dalam sistem yang terlalu dikuasai oleh kepentingan jangka pendek. Ia juga berpotensi menghidupkan kembali mekanisme koreksi diri dalam sistem politik—sesuatu yang selama ini mengalami pelemahan.

Namun kekurangannya juga semakin nyata.
Dalam konteks sawit, batubara, dan nikel, kebijakan restriktif akan langsung berhadapan dengan kepentingan ekonomi yang sangat besar—baik dalam bentuk penerimaan negara, lapangan kerja, maupun jaringan kekuasaan. Setiap upaya pembatasan akan dengan mudah dipolitisasi sebagai anti-investasi atau anti-pembangunan. Ini menciptakan dilema klasik:h bagaimana menjaga lingkungan tanpa terlihat menghambat pertumbuhan.

Ancaman terbesarnya, sekali lagi, bukan sekadar perlawanan terbuka dari oligarki.

Yang lebih berbahaya adalah kemampuan sistem untuk menyerap dan menetralisir perubahan. Pendekatan “melawan keserakahan” bisa direduksi menjadi slogan, sementara praktik di lapangan tetap berjalan seperti biasa. Atau lebih halus lagi: kebijakan diperketat di atas kertas, tetapi dilonggarkan dalam implementasi.

Dalam banyak kasus global, kementerian lingkungan hidup sering menjadi weak node dalam sistem kekuasaan—secara moral kuat, tetapi secara politik lemah. Tanpa dukungan lintas sektor dan tanpa perubahan struktur insentif, ia akan terus berada dalam posisi defensif.

Di titik ini, keberhasilan Jumhur akan sangat ditentukan oleh satu hal: apakah ia mampu mengubah konflik menjadi desain sistem.

Artinya, bukan sekadar menindak pelanggaran, tetapi membangun mekanisme yang membuat pelanggaran menjadi tidak menguntungkan. Transparansi data lingkungan, penegakan hukum yang konsisten, dan keterlibatan publik bisa menjadi alat untuk itu. Tetapi lebih dari itu, ia harus mampu memaksa sistem politik menerima bahwa batas ekologis adalah bagian dari rasionalitas pembangunan.

Jika tidak, maka semua yang kita lihat—kebakaran sawit, lubang tambang batubara, kerusakan nikel, petani dan masyarakat adat yang tercerabut dari akar kehidupannya—akan terus berulang. Bukan sebagai anomali, tetapi sebagai pola.

Dan di situlah letak persoalannya: tanpa perubahan sistemik, “serakahnomics” bukan sekadar musuh yang dilawan, melainkan logika yang terus direproduksi oleh sistem itu sendiri.===

TEGAL, 1 Mei 2026

Penulis:
Pendiri Forum Aktivis Bandung
Anggota Komite Eksekutif KAMI
Presidium KAPPAK
Ketua Komite Kajian Ilmiah Forum Tanah Air

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ancaman Delegitimasi Pembela HAM dan Kontrol terhadap Kerja Advokasi HAM

Next Post

Manajemen Risiko di Masa Perang (Fondasi Survival Economy: Pangan, Air, dan Energi)

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Economy

Mengawal Asta Cita di KIT Batang: Transformasi Industri Berbasis Kedaulatan dan Pertahanan

May 1, 2026
Economy

Manajemen Risiko di Masa Perang (Fondasi Survival Economy: Pangan, Air, dan Energi)

May 1, 2026
daerah

KEADILAN PERADABAN DALAM KASUS KEBON BINATANG BANDUNG

April 30, 2026
Next Post

Manajemen Risiko di Masa Perang (Fondasi Survival Economy: Pangan, Air, dan Energi)

Mengawal Asta Cita di KIT Batang: Transformasi Industri Berbasis Kedaulatan dan Pertahanan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal
Komunitas

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

by Karyudi Sutajah Putra
April 30, 2026
0

FusilatNews - Indonesia Police Watch (IPW) mengapresiasi Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Irjen Rudi Darmoko yang tidak segan-segan untuk menangkap...

Read more
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Mengawal Asta Cita di KIT Batang: Transformasi Industri Berbasis Kedaulatan dan Pertahanan

May 1, 2026

Manajemen Risiko di Masa Perang (Fondasi Survival Economy: Pangan, Air, dan Energi)

May 1, 2026

JUMHUR HIDAYAT: AKTIVIS DI TENGAH PUSARAN PERTUMBUHAN DAN KEBERLANJUTAN

May 1, 2026
Ancaman Delegitimasi Pembela HAM dan Kontrol terhadap Kerja Advokasi HAM

Ancaman Delegitimasi Pembela HAM dan Kontrol terhadap Kerja Advokasi HAM

May 1, 2026
IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

April 30, 2026

KEADILAN PERADABAN DALAM KASUS KEBON BINATANG BANDUNG

April 30, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mengawal Asta Cita di KIT Batang: Transformasi Industri Berbasis Kedaulatan dan Pertahanan

May 1, 2026

Manajemen Risiko di Masa Perang (Fondasi Survival Economy: Pangan, Air, dan Energi)

May 1, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...