Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Pada mulanya Soeharto bukanlah musuh Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun kemudian memusuhi PKI. Bahkan membabat habis PKI sampai ke akar-akarnya.
Jakarta, 11 Maret 1966. Atau hari ini 59 tahun lalu. Soeharto menerima sepucuk “surat cinta” dari Soekarno. Isinya: perintah untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu dalam rangka memulihkan keamanan dan kewibawaan pemerintah, pasca-peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G3S/PKI.
Mengapa disebut surat cinta? Sebab, tak mungkin surat yang kemudian lebih populer dengan sebutan Supersemar itu diberikan kepada Soeharto tanpa kecintaan sang Prokalamor RI kepada Pangkostrad itu.
Sayangnya, air susu dibalas air tuba. Supersemar yang sakti itu juga digunakan Pak Harto untuk melucuti kekuasaan Bung Karno.
Dua hari setelah menerima surat itu, Bung Karno ditangkap di Istana Bogor untuk diasingkan di Wisma Yaso, kini Museum Satria Mandala di Jalan Jenderal Gatot Subroto, Kuningan, Jakarta Selatan. Di sini, Bung Karno dilarang membaca koran dan mendengarkan suara radio. Ia terisolasi.
G30S PKI itu sendiri dipicu oleh persaingan antar-faksi di tubuh TNI Angkatan Darat (AD) yang berebut pengaruh dan kuasa. Ada faksi yang menamakan diri Dewan Jenderal hendak mengudeta Bung Karno.
G30S/PKI itu menewaskan sejumlah perwira TNI AD dan seorang anggota Polri, yakni Jenderal TNI Ahmad Yani, Letjen TNI Raden Suprapto, Letjen TNI MT Haryono, Letjen TNI S Parman, Mayjen TNI DI Panjaitan, Mayjen TNI Sutoyo Siswomiharjo, Kapten Pierre Tendean, Brigjen Katamso, Letkol Sugiyono dan Karel Satsuit Tubun.
Sementara Soeharto bukanlah target. Jenderal AH Nasution dan Brigjen Ahmad Soekendro yang menjadi target PKI pun selamat.
Banyak yang mempertanyakan mengapa Soeharto tidak menjadi target. Padahal, status dia sebagai Pangkostrad yang langsung mengendalikan pasukan, sehingga posisinya lebih penting dari Ahmad Yani yang seorang Kepala Staf TNI AD. Dengan kata lain, Soeharto bukanlah musuh PKI.
Soeharto sendiri mengaku tidak menjadi target penculikan dan pembunuhan PKI karena saat itu posisinya sedang berada di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, untuk menunggui putra bungsunya, Tommy Soeharto yang tersiram kuah soup.
Sebaliknya, Abdul Latief. Dalam kesaksiannya di Mahkamah Militer, salah satu pentolan G30S/PKI itu menjelaskan alasan Soeharto tak masuk target. Sebab, Soeharto dianggap sebagai loyalis Bung Karno.
Dikutip dari sebuah sumber, Latief juga mengklaim melapor ke Soeharto yang pada saat itu menjabat Pangkostrad. Latief menyatakan Soeharto tidak ada reaksi apa pun ketika mendengar informasi mengenai rencana kudeta. Bahkan pada malam sebelum G30S, Soeharto tidak memperhatikan Latief saat ia mencoba menyampaikan rencana untuk menggagalkan kudeta tersebut.
Hal itu menunjukkan Soeharto mungkin merasa tidak perlu segera mengambil tindakan atau meremehkan ancaman yang ada.
Atau bisa jadi semua peristiwa yang terjadi sudah ia kondisikan bahkan skenariokan sedemikian rupa, sehingga PKI masuk perangkap kudeta gagal. Selanjutnya ia gebuk. Selanjutnya lagi, Bung Karno ia lucuti.
Teori Keterlibatan Soeharto
Setelah kudeta gagal itu, Soeharto yang sudah memegang Supersemar langsung melakukan penumpasan terhadap orang-orang yang dianggap PKI. Termasuk anak keturunannya yang tak boleh menjadi pegawai. Soeharto pun benar-benar menjadi musuh PKI. Bahkan hingga akhir hayatnya pada 2008.
Namun, selama itu pula Soeharto tak benar-benar bisa melepaskan dirinya dari persepsi publik bahwa ia bukan musuh PKI. Bahkan ada yang menyebut Soeharto kawan pentolan-pentolan PKI.
Soeharto juga belum benar-benar bisa membersihkan diri bahwa dirinya terlibat G3S/PKI bahkan diduga menjadi dalang dari kudeta gagal itu, dengan menjebak PKI ke dalam suatu perangkap.
Dikutip dari Kompas.com, 27 September 2024, Soeharto bahkan diduga menjadi salah satu dalang G30S/PKI.
Saat itu Soeharto memiliki pangkat Mayor Jenderal (Mayjen) dan menjabat Panglima Kostrad (Pangkostrad).
Jabatan itu membuat Soeharto dipandang sebagai jenderal penting yang terlewatkan oleh para pelaku G30S/PKI. Dianggap sebagai jenderal penting karena Soeharto memiliki pasukan yang sebenarnya sangat bisa menggagalkan kudeta.
Sejarawan WF Wertheim menilai, Soeharto mempunyai kemungkinan besar berada di pihak yang berkomplot karena kurang puas terhadap kepemimpinan TNI AD yang tidak mampu menjawab tantangan PKI. Sebab itu, Soeharto menggunakan G30S/PKI sebagai sarana yang melibatkan PKI untuk memberikan dalih bagi TNI AD bertindak terhadap partai itu.
Dalam teori ini, kemungkinan Kepala Biro Chusus (BC) PKI (badan intelijen PKI) Sjam Kamaruzaman adalah pembantu Soeharto yang disusupkan ke PKI, bukan anggota PKI yang bertugas di TNI AD.
Teori ini juga didukung oleh kesaksian Kolonel Abdul Latief, salah satu tokoh kunci peristiwa G30S/PKI. Latief mengungkapkan, ia memberi tahu Soeharto soal rencana penculikan sejumlah jenderal, tetapi Soeharto tidak melakukan apa-apa.
Dengan demikian, dalam sekali gerakan G30S/PKI, Soeharto bisa menghancurkan pimpinan TNI AD yang mengecewakannya dan sekaligus PKI yang merupakan musuh TNI AD. Sekali tepuk dapat lalat dan nyamuk.

























