• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Solusi Rizal Ramli Hadapi Krisis Pangan Dijawab BuzzerRp, Beginilah Jadinya

fusilat by fusilat
October 15, 2022
in Feature
0
Solusi Rizal Ramli Hadapi Krisis Pangan Dijawab BuzzerRp, Beginilah Jadinya

Ekonom senior Rizal Ramli. [Istimewa]

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Tri Wibowo Santoso

FOUNDING fathers Indonesia, Soekarno pernah mengatakan, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Namun, perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”. Bila kita mengkorelasikan pernyataan Presiden RI ke-1 itu dengan fenomena yang terjadi sekarang ini, ternyata ucapannya tersebut benar adanya. Faktanya, setelah kolonial hengkang dari Indonesia, kita justru dihadapkan banyak persoalan yang bersumber dari kebijakan rezim itu sendiri.

Misal, dalam konteks sekarang ini permasalahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), kenaikan gaji buruh sebesar 1,03 persen yang tak sepadan dengan inflasi pangan 8,93 persen pada Agustus 2022 atau sebelum kenaikan harga BBM, dan lain sebagainya.  

Tokoh nasional Rizal Ramli menyebut kebijakan pemerintah yang salah kaprah dalam mengelola negara ini adalah bagian dari program pemiskinan rakyat. Bagaimana tidak melarat, saat masyarakat baru bisa sedikit bernafas setelah mengalami sesaknya ekonomi dari dampak pandemi Covid-19, kini kita dihadapkan pada kenaikan harga BBM yang memicu melonjaknya biaya-biaya kebutuhan pokok. Belum lagi adanya ancaman krisis pangan.

Medio Maret 2020, Rizal Ramli sudah mengingatkan dan memberikan solusi pada pemerintah dalam menghadapi dan menangani dampak pandemi Covid-19 sekaligus memperkuat bargaining Indonesia di dunia internasional.

Salah satunya adalah menggenjot produksi pangan dengan fokus pada sektor pertanian, seperti, pengadaan pupuk dan bibit yang murah serta memberi kemudahan  akses market bagi petani. Bila hal itu dijalankan, niscaya Indonesia sekarang ini sudah menjadi lumbung pangan Asia, dan harga pangan di dalam negeri juga terjangkau bagi masyarakat.

Namun, pemerintah kala itu justru memilih untuk memprioritaskan proyek-proyek infstruktur. Salah satunya pembangunan ibukota baru di Kalimantan. Akibatnya, sekarang ini masyarakat menjadi susah, lantaran menanggung dampak dari kebijakan pemerintah, seperti membengkaknya utang luar negeri yang sebagian besar digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang tak ada faedahnya.

Nyatanya, APBN bolong karena utang yang menggunung untuk infrastruktur, pemerintah justru memangkas subsidi BBM dan gas, menaikan pajak, iuran BPJS melonjak guna menutup lubang utang yang berubah menjadi jurang.

Kini, Presiden Jokowi tampaknya mulai menyadari bahwa ancaman krisis pangan, sebagaimana yang pernah disampaikan Rizal Ramli dua tahun silam bukan isapan jempol. Ia langsung memerintahkan jajaran di bawahnya dan para pimpinan daerah untuk mewaspadai dan mengantisipasi hal itu. Terlebih lagi, dalam laporan OECD dan PBB pada 29 Juni 2022, diperkirakan ada tambahan 19 juta orang kekurangan gizi tahun depan apabila perang Rusia vs Ukraina semakin panjang.

Sejatinya tak begitu sulit untuk memperkirakan krisis pangan itu bakal terjadi. Bila kita melihat empirik di tahun 2008 dan 2011, maka dapat diidentifikasi faktor-faktor pemicunya.

Pertama, faktor alam. Misalnya dalam konteks produksi gandum yang sempat mengalami penurunan akibat kekeringan yang berkepanjangan pada 2007 hingga 2008. Kemudian, terjadi banjir dan bencana alam di negara-negara eksportir gandum pada 2011 yang membuat suplai mengalami penurunan.

Kedua, negara-negara eksportir utama pangan menutup atau membatasi ekspor, sehingga harga meroket. Inilah yang terjadi sekarang ini. Bahkan, laporan teranyar FAO menyebut harga beras internasional merangkak naik dalam tiga bulan terakhir akibat pembatasan ekspor oleh India serta cuaca buruk di sejumlah negara.

Sebagai informasi, India telah melarang ekspor beras pecah sejak 9 September 2022 sebagai bagian dari upaya mengendalikan harga beras domestik. India juga memungut pajak ekspor 20 persen pada sejumlah varietas.

India merupakan eksportir terbesar beras di dunia dan berkontribusi 40 persen terhadap perdagangan beras global.  Dilansir The Economic Times, ekspor beras India pada 2021 menembus 21,5 juta ton. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan gabungan ekspor dari Thailand, Vietnam, Pakistan, dan Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, negara eksportir lainnya seperti Pakistan sudah tak bisa diharapkan lagi. Pasalnya, negara yang dijuluki seribu cahaya itu sempat diterpa banjir bandang yang menghancurkan sebagian persawahan, sehingga terancam gagal panen. Produksi padi Pakistan diperkirakan turun menjadi 8,3 juta ton pada 2022-2023 dari 9,1 juta ton pada tahun sebelumnya.

Dampak jangka pendek yang terjadi di Indonesia di tengah macetnya suplai beras dari negara eksportir membuat harga merangkak naik. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) mencatat harga beras medium kualitas I dibanderol Rp 12.200/kg pada Senin (10/10). Harganya naik 0,41 persen sepekan dan 1,7 persen sebulan.

Harga beras saat ini bahkan menjadi yang tertinggi sejak Mei 2021 atau 16 bulan terakhir. Harga beras merangkak naik sejak awal Agustus dari kisaran Rp 11.800/kg ke Rp 12.200/kg.

Menurut Ketua Umum Pemuda Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Rina Sa’adah, gangguan sentra produksi menjadi salah satu penyebab naiknya harga beras. Selain itu, kenaikan harga beras juga menjadi imbas faktor musiman, fungsi alih lahan, pupuk yang mahal hingga perubahan iklim.

Kemudian, faktor ketiga pemicu krisis pangan adalah spekulasi di pasar komoditas. Dana yang semula beredar di pasar saham, uang, dan utang karena krisis keuangan dan energy, kini sudah merambah pasar komoditas.

Dilansir dari laporan Market Watch (25 Februari 2008), dana yang beredar buat spekulasi saat itu mencapai 516 triliun dolar AS. Harga tak lagi riil, tak berhubungan faktor pasokan-permintaan, tapi digerakan spekulasi.

Kenaikan harga pangan sejak akhir tahun lalu membuat indeks harga pangan terus naik. Indeks harga pangan FAO melonjak tinggi sejak Maret 2022: dari 141,1 (Februari) jadi 159,7. Indeks kembali menurun: 158,3 (April), 157,4 (Mei), dan 154,2 (Juni). Indeks ini jauh melampaui krisis 2008 dan 2011.

Sebenarnya, Oktober-Desember 2021 indeks sudah melebihi krisis 2008 dan 2011. Krisis pangan tak terjadi karena pada 2021 tak ada penutupan/pembatasan ekspor pangan dalam tempo lama. Faktor krusial krisis pangan akan meledak atau tidak bukan hanya produksi pangan yang menurun, namun juga volume pangan yang mengalami penutupan atau pembatasan ekspor dan berapa lama waktunya.

Faktor keempat adalah konflik Ukraina dan Rusia yang masih berlanjut. Dampak perang dua Negara tersebut membuat harga energi fosil menjadi tinggi. Pada 29 Juli 2022, harganya sempat mencapai 101 dolar AS/barel (crude oil WTI). Jika restriksi ekspor berlangsung lama, krisis pangan hanya soal waktu.

Perang Rusia Vs Ukraina telah mengubah pola perdagangan, produksi, dan konsumsi pelbagai komoditas. Sebab, kedua Negara itu adalah pemasok pangan setara 12 persen total kalori yang diperdagangkan di dunia. Kedua negara masuk jajaran lima pengekspor global serealia (gandum, jagung, barley) dan biji bunga matahari. Perang dan embargo ekonomi membuat usaha tani di kedua negara itu terganggu.

Di sisi lain, negara-negara yang bergantung pada gas dan pupuk nitrogen serta kalium dari Rusia juga menghadapi masalah yang sangat serius. Misal, harga pupuk melonjak secara signifikan.

Dampak perang Rusia dan Ukraina terhadap Indonesia bila dicermati akan mengarah ke krisis pangan. Pertama, kedua negara itu memasok gandum ke Indonesia hingga 30 persen. Rusia dan Belarusia, pintu masuk invasi ke Ukraina memasok 42,1 persen pupuk kalium. Rusia juga pemasok pupuk fosfat ke kita. Dampaknya, harga pupuk nonsubsidi melonjak tinggi dan anggaran subsidi pupuk jebol.

Buktinya, pada Juli 2022, jenis pupuk subsidi dipangkas dari 7 tinggal 2, yakni, Urea dan NPK. Komoditas penerima pupuk subsidi semula 70-an kini hanya 9. Diantaranya, padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu, kakao, dan kopi.

Dari ulasan di atas, maka patut kita pertanyakan komitmen Jokowi di awal pemerintahannya terkait Nawacita untuk melanjutkan semangat perjuangan dan cita-cita Soekarno yang dikenal dengan istilah Trisakti, yakni, berdaulat secara politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Dalam konteks berdikari di bidang ekonomi, bukan kah Rizal Ramli sudah mengingatkan agar pemerintah fokus untuk menggenjot sektor pertanian agar minimal masyarakat dapat dengan mudah membeli kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau, lantaran produk pangan atau komoditas melimpah ruah.

Selain itu, bargaining Indonesia di dunia internasional juga kuat, karena berhasil menjadi negara eksportir pangan di tengah negara-negara sedang menghadapi ancaman krisis pangan.

Alih-alih menjalankan nasihat, pemerintah justru menggelontorkan anggaran yang tidak sedikit untuk mengerahkan pendengung social media alias BuzzerRp guna menganulir komentar tokoh yang mencoba memberikan solusi dalam megatasi permasalahan bangsa. Alhasil, bukannya menghilangkan masalah, pemerintah justru menciptakan persoalan baru. Pasalnya, narasi yang dibangun BuzzerRp menjadi penyebab lunturnya persatuan. Jadi, apakah ini yang dimaksud Bung Karno bahwa “perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri?”. 

Tri Wibowo Santoso Direktur Eksekutif Indo Parameter

Dikutip Rmol.id Kamis, 13 Oktober 2022

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Irjen Teddy Hanya Pucuk Gunung Es, Beranikah Polri Bongkar? 

Next Post

Jokowi Ungkap Banyak Terima Laporan soal Gaya Hidup Mewah Pejabat Polri, Kok Diam Saja Pak?

fusilat

fusilat

Related Posts

Economy

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026
Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil
Feature

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?
Birokrasi

Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

April 28, 2026
Next Post
Resmi!!! Harga BBM Naik, Ini Besaranya

Jokowi Ungkap Banyak Terima Laporan soal Gaya Hidup Mewah Pejabat Polri, Kok Diam Saja Pak?

Habis Ferdy Sambo Terbitlah Teddy Minahasa

Habis Ferdy Sambo Terbitlah Teddy Minahasa

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026
Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

April 28, 2026

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026
Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist