Fusilatnews – Bang Madun hanya tertawa kecil. Tawa yang lebih mirip batuk kering akibat terlalu lama menghirup debu jalanan dan asap kendaraan yang tak pernah benar-benar beristirahat di kawasan utara Jakarta. Di balik dinding seng yang berkarat, ia duduk bersandar di kasur tipis yang sudah tak jelas warnanya, sambil memegangi pinggang yang katanya “sedikit kaku.”
“Bukan sakit,” katanya. “Cuma kurang enak badan.”
Di kampung ini, “sakit” adalah sebuah kata sakral. Tak sembarang orang bisa memakainya. Di antara deret rumah petak berukuran 3×3 meter, dengan atap bocor dan dinding rembes, sakit bukanlah kondisi medis—ia adalah nasib.
Ilustrasi konkret datang dari warung kopi di ujung gang. Seorang pria tua, mengenakan kaus bertuliskan “Kebersihan Sebagian dari Iman” yang sudah lusuh, berjalan terpincang sambil membawa ember air cucian baju. Ketika ditanya kenapa kakinya bengkak, ia hanya menjawab ringan:
“Paling asam urat. Tapi kagak papa, masih bisa ngangkat galon.”
Seseorang baru berhak disebut sakit bila ia sudah tidak bisa berdiri. Bila tangan tak mampu lagi mengangkat sendok, apalagi mencari nafkah. Bila tubuh terkapar, hanya bisa menatap langit-langit seng sambil menghitung sisa napas. Sakit kepala, nyeri sendi, mual, hingga demam? Ah, itu hanya bagian dari hidup. Sehari-hari. Tak layak dibesar-besarkan.
“Kalau masih bisa jalan ke warung, ya belum sakit,” ujar Mpok Narti, tetangga Bang Madun yang biasa jualan gorengan dari jam lima pagi. Ia mengaku hanya sekali ke puskesmas dalam sepuluh tahun terakhir—itu pun karena dipaksa tetangga, setelah jatuh pingsan di dapur.
Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, hanya sekitar 30 persen warga di kelompok pendapatan terendah yang memiliki akses reguler ke fasilitas kesehatan. Sisanya lebih percaya pada ramuan warung, gosokan minyak kayu putih, dan… doa.
Di sisi lain, pemerintah mengklaim sistem kesehatan nasional terus membaik. “Kita mencatat peningkatan kualitas layanan dan penurunan beban penyakit,” ujar seorang pejabat Kementerian Kesehatan dalam siaran pers awal tahun ini. Ia mengutip penurunan jumlah kunjungan ke rumah sakit sebagai indikator keberhasilan.
Tapi Bang Madun punya tafsir sendiri.
“Iya, soalnya kami makin takut ke rumah sakit. Takut tagihannya, bukan dokternya.”
Di sinilah standar baru kesehatan nasional tanpa disadari sedang disusun. Di tengah kebijakan-kebijakan besar yang membanggakan istilah “transformasi kesehatan nasional”, warga seperti Bang Madun dan Mpok Narti justru menjadi pionir definisi baru: kesehatan adalah kemampuan untuk tetap hidup, meski seluruh badan memberi sinyal sebaliknya.
Ironisnya, tak ada penghargaan untuk standar ketahanan luar biasa ini. Tak ada penelitian mendalam dari kampus-kampus besar yang biasanya sibuk menghitung indeks kesehatan masyarakat dari balik ruang ber-AC. Tak ada konferensi pers yang mengutip data mereka—mereka yang diam-diam mendefinisikan ulang arti sehat dan sakit dengan tubuh mereka sendiri.
Kalau sakit adalah kemewahan, maka sehat adalah ilusi yang dipaksakan.
“Kami nggak bisa sakit, Bang. Mahal,” kata Bang Madun sambil tertawa lagi. Tawa yang kali ini terdengar lebih pahit dari kopi sachet yang ia seduh dengan air bekas cucian beras.
Di negeri yang katanya tumbuh ekonomi digital dan fasilitas kesehatan makin maju, sebagian warganya masih harus bernegosiasi dengan rasa ngilu dan meriang sebagai bagian dari rutinitas. Mereka belum benar-benar dianggap bagian dari narasi kemajuan. Tapi mungkin, di suatu tempat, ada menteri yang bangga karena tingkat kunjungan ke rumah sakit menurun drastis. Barangkali ia lupa bahwa sebagian warga sudah menyerah bahkan sebelum masuk ruang tunggu.


























