• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Aya Aya Wae

Studi Kasus Jokowi – Rasa Malu Itu Lebih Gatal Dari Kurap Yang Tak Mau Sembuh

Ali Syarief by Ali Syarief
July 26, 2025
in Aya Aya Wae, Feature
0
Studi Kasus Jokowi – Rasa Malu Itu Lebih Gatal Dari Kurap Yang Tak Mau Sembuh
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Mungkin ia tak pernah berdusta di pengadilan. Tak juga masuk bui karena ingkar janji. Tapi di pengadilan rakyat, vonisnya sudah jatuh: kepercayaan terkikis, legitimasi runtuh. Inilah risiko terbesar bagi pejabat publik yang berbohong—bukan semata soal hukum, tapi biaya sosial dan politik yang tak terukur. Ketika ucapan pemimpin tak lagi sejalan dengan kenyataan, yang remuk bukan hanya reputasinya, melainkan harapan kolektif jutaan rakyat yang pernah percaya.

Jokowi adalah contoh paling nyata dari paradoks ini.

Dalam sistem demokrasi yang sehat, kejujuran pejabat publik adalah fondasi dasar yang menopang kepercayaan rakyat. Begitu kepercayaan itu retak akibat kebohongan, maka harga yang harus dibayar tidak hanya mahal, tetapi berlarut-larut. Kebohongan seorang pejabat publik bukan sekadar pelanggaran etika, tapi juga bisa menjadi bentuk pengkhianatan terhadap mandat rakyat. Studi kasus Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan gambaran nyata bagaimana kebohongan politik, meski tak selalu diproses secara hukum, bisa berdampak luas secara sosial dan politik.

Antara Janji dan Realitas: Jalan Pulang yang Hilang

Jauh sebelum kekuasaan membentang di tangannya, Jokowi pernah berdiri di antara rakyat sambil bersumpah akan menjaga demokrasi, melawan dinasti, dan menegakkan keadilan. Ia janji tak akan menyeret keluarga ke pusaran politik, tak akan membiarkan lembaga negara menjadi alat kekuasaan.

Namun, ketika putranya tiba-tiba melesat dari wali kota Solo ke kursi calon wakil presiden, dan saat Mahkamah Konstitusi—yang dipimpin oleh paman si anak—mengubah syarat pencalonan dengan aroma manipulasi, semua kata-kata itu berubah jadi abu. Seperti daun kering janji yang dibakar kekuasaan.

Dan anehnya, tak ada rasa malu. Tak ada pernyataan klarifikasi. Tak ada tanggung jawab moral. Hanya senyum tipis, seolah rakyat bisa dibohongi dan akan melupakan semuanya dengan cepat.

Rasa Malu yang Mati

Di banyak bangsa besar, rasa malu adalah rem yang lebih kuat dari hukum. Seorang menteri di Jepang bisa mundur hanya karena salah bicara. Di Korea Selatan, mantan presiden bisa dipenjara karena menyalahgunakan jabatan. Tapi di negeri ini, pejabat publik bisa berdusta di siang bolong, lalu berswafoto di malam harinya seolah tak terjadi apa-apa.

Rasa malu, bila masih ada, seharusnya menjadi sanksi pertama. Tapi ketika rasa malu mati, hukum pun menjadi hanya simbol, bukan penegak. Dan ketika hukum pun diam, publik pun dipaksa hidup dalam keputusasaan. Ibarat gatal yang tak kunjung sembuh, kebohongan demi kebohongan itu terus digaruk dengan pembenaran-pembenaran yang menyakitkan.

Biaya Mahal dari Satu Kebohongan

Kebohongan seorang pemimpin bukan hanya soal reputasi pribadi. Ia menular. Ia merusak tatanan. Aparat negara menjadi partisan. Pemilu jadi panggung rekayasa. Mahasiswa turun ke jalan, rakyat kehilangan harapan, dan demokrasi sekarat perlahan.

Celakanya, semua itu tak masuk pasal pidana. Tak bisa dituntut dengan KUHP. Tapi efeknya jauh lebih berbahaya dari kriminal biasa. Ini adalah krisis kepercayaan yang menjalar seperti infeksi—pelan, tak terlihat, tapi mematikan.

Penutup: Di Mana Kita Akan Berdiri

Dalam sejarah, tidak ada pemimpin yang dikenang karena berhasil memelihara kebohongan. Mereka yang berkuasa dengan cara-cara licik hanya akan dicatat sebagai catatan kaki yang memalukan. Bagi Jokowi, waktu mungkin belum selesai, tapi catatan moral rakyat sudah dibuat: terlalu banyak luka yang tak dijawab, terlalu banyak janji yang tak ditepati.

Dan di tengah semua ini, satu hal yang hilang adalah sesuatu yang dulu sederhana: rasa malu. Sebab bila rasa malu itu masih ada, kebohongan itu tak akan menjalar sejauh ini. Tapi nyatanya, ia terus hidup—lebih gatal dari kurap, dan tak juga sembuh.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Akankah Indonesia Menjadi Lebih Baik Bersama Presiden Prabowo?

Next Post

“Orang Besar” dalam Siluet Jokowi itu Menurut Silvester adalah SBY!?

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Economy

Kesenjangan Ekonomi & Sosial, Dampak Kesenjangan Hukum & Politik (Saatnya Kebijakan Berpihak kepada Koperasi & UMKM dengan Dukungan Ekosistemnya)

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!
Feature

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Feature

AMBIGUITAS ASAS DALAM HUKUM PIDANA INDONESIA

April 24, 2026
Next Post
Istana Bantah Ada Pertemuan Jokowi dan SBY di GBK Senayan

"Orang Besar” dalam Siluet Jokowi itu Menurut Silvester adalah SBY!?

PETANI TANPA BULOG

Suara Petani dalam Pusaran Oplosan Beras: Di Antara Ketulusan dan Ketidakadilan Sistemik

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?
Law

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

by fusilat
April 24, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Masyarakat tengah menunggu putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam judicial review (uji materiil) Undang-Undang (UU) No. 34 Tahun 2004...

Read more
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026

Kesenjangan Ekonomi & Sosial, Dampak Kesenjangan Hukum & Politik (Saatnya Kebijakan Berpihak kepada Koperasi & UMKM dengan Dukungan Ekosistemnya)

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026

AMBIGUITAS ASAS DALAM HUKUM PIDANA INDONESIA

April 24, 2026
Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

April 24, 2026

Genosida oleh Israel serta Konsekuensi Balasannya Menurut Al-Qur’an & Hadits

April 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026

Kesenjangan Ekonomi & Sosial, Dampak Kesenjangan Hukum & Politik (Saatnya Kebijakan Berpihak kepada Koperasi & UMKM dengan Dukungan Ekosistemnya)

April 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist