• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Superbody yang Tak Tersentuh: Mengapa Polri Menjadi Kebal Kontrol?

fusilat by fusilat
January 29, 2026
in Birokrasi, Feature
0
Superbody yang Tak Tersentuh: Mengapa Polri Menjadi Kebal Kontrol?
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Nazaruddin

Dalam diskursus ketatanegaraan, istilah superbody disematkan pada lembaga yang memiliki kewenangan luar biasa besar tanpa mekanisme penyeimbang (checks and balances) yang memadai. Penolakan tegas Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di hadapan Komisi III DPR RI terhadap wacana penempatan Polri di bawah kementerian bukan sekadar perdebatan teknis birokrasi. Ia adalah sinyal kuat dari upaya mempertahankan status quo—sebuah institusi yang telah berevolusi menjadi “raksasa” dalam sistem demokrasi Indonesia, memegang kendali atas keamanan, penegakan hukum, hingga otoritas administratif yang menjangkau hampir seluruh sendi kehidupan warga.

Konsentrasi Kewenangan: Satu Atap, Seribu Kunci

Label full power yang melekat pada Polri berakar pada penyatuan fungsi-fungsi strategis yang dalam negara demokrasi mapan lazim dipisahkan untuk mencegah tirani kekuasaan. Di Indonesia, fungsi-fungsi itu justru terkonsentrasi dalam satu komando nasional:

Fungsi Intelijen Keamanan (Intelkam).
Polri memiliki jaringan intelijen yang meresap hingga tingkat akar rumput. Kemampuan memetakan potensi gangguan sosial dan politik memberi akses informasi yang sangat sensitif—dan rentan digunakan untuk kepentingan kekuasaan.

Monopoli Penegakan Hukum.
Sebagai gerbang tunggal sistem peradilan pidana, Polri menentukan hidup-matinya sebuah perkara. Tanpa supervisi kementerian teknis, diskresi ini rawan dipolitisasi.

Kekuasaan Administratif dan Ekonomi.
Pengelolaan layanan publik masif seperti SIM, STNK, hingga perizinan objek vital nasional menciptakan ketergantungan publik dan korporasi dalam skala luas. Inilah sumber daya administratif-ekonomi yang menjadikan Polri institusi paling berpengaruh di tingkat lokal maupun nasional.

Otoritas Koersif Paramiliter.
Dengan unit seperti Brimob yang memiliki kapasitas setara pasukan militer, Polri memegang daya paksa fisik yang tak tertandingi oleh lembaga sipil lain. Penyatuan fungsi pelayanan publik dan kekuatan paramiliter dalam satu tangan adalah definisi konkret dari superbody.

Mengapa Kontrol Eksternal Selalu Kandas?

Argumentasi Kapolri tentang efektivitas komando langsung di bawah Presiden justru memperkokoh benteng institusional yang membuat pengawasan eksternal sulit menembus tubuh Polri.

Eksklusivitas Komando di Bawah Presiden.
Kedudukan langsung di bawah Kepala Negara menciptakan area abu-abu akuntabilitas. Tanpa menteri teknis yang bertanggung jawab harian, Polri dapat berlindung di balik narasi “instruksi Presiden” untuk menghindari transparansi publik.

Lemahnya Pengawas Sipil.
Lembaga seperti Kompolnas hadir tanpa kewenangan investigasi pro-justitia yang mandiri. Pengawasan eksternal menjadi kosmetik, sementara pengawasan internal (Propam) cenderung tersandera oleh esprit de corps.

Ironi DPR: “Pasang Badan” dan Simbiosis Kekuasaan

Sikap Komisi III DPR RI yang justru membentengi posisi Polri menunjukkan anomali dalam sistem checks and balances. Namun dukungan itu bukan tanpa motif. Mekanisme persetujuan DPR dalam pengangkatan Kapolri memberi parlemen daya tawar politik yang besar. Proses uji kelayakan kerap berubah menjadi arena negosiasi kepentingan antara legislatif dan eksekutif. DPR berkepentingan mempertahankan akses ini. Lahirlah simbiosis mutualisme antara pengawas dan yang diawasi—sebuah paradoks demokrasi.

Warisan “Parcok” dan Polisi sebagai Instrumen Kekuasaan

Era pemerintahan Presiden Jokowi memperlihatkan kritik publik terhadap profesionalisme Polri mencapai titik nadir. Istilah “Parcok” (Partai Cokelat) muncul sebagai ekspresi kekecewaan masyarakat atas persepsi bahwa kepolisian bergeser dari alat negara menjadi alat kekuasaan.

Penggunaan instrumen hukum terhadap lawan politik, pola pengamanan agenda strategis nasional yang represif, hingga dugaan orkestrasi opini di ruang siber memperkuat citra Polri sebagai superbody yang aktif dalam rekayasa politik.

Polisi Sipil atau Superbody Berkuasa Penuh?

Sikap keras Kapolri dan “pagar betis” DPR menandai risiko gagalnya reformasi kepolisian. Akar persoalan bukan semata kultur, melainkan desain arsitektur kekuasaan yang terlalu dominan dan tak terbagi.

Selama struktur superbody dan full power Polri dipertahankan tanpa mekanisme pengawasan independen yang kuat, kepolisian akan tetap menjadi lembaga paling kuat sekaligus paling sulit dikontrol. Reformasi tidak cukup berhenti pada modernisasi alat dan peningkatan anggaran; ia harus kembali pada prinsip demokrasi: tak boleh ada lembaga dengan kekuasaan besar tanpa pengawasan sipil yang efektif.

Publik menghendaki reformasi yang structural-transformative, bukan sekadar cultural-cosmetic.

Tanpa keberanian Presiden merombak struktur ini, cita-cita “Polisi Sipil” pasca-Reformasi 1998 akan tetap menjadi slogan indah di atas kertas. Realitasnya, kita terus memelihara paramiliter domestik dengan kewenangan luas dan kontrol minimal.

Ke depan, pilihannya tegas:
melakukan redistribusi kewenangan dan menempatkan Polri di bawah supervisi kementerian sipil agar akuntabilitas jelas, atau tetap terjebak dalam bayang-bayang lembaga yang terlalu besar untuk diawasi dan terlalu kuat untuk disentuh hukum.

Jika laporan Tim Percepatan Reformasi Polri kembali berakhir di laci meja Presiden tanpa perubahan struktural, maka istilah “Parcok” akan terus hidup—sebagai pengingat bahwa kepolisian kita masih lebih dekat pada kepentingan kekuasaan ketimbang kepentingan rakyat.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Menyembuhkan Gerakan dari Virus Provokator: Membaca Pola Ahmad Khoizinuddin dalam Upaya Memecah Perjuangan TPUA

Next Post

Kasus Nadiem dan Pelajaran untuk Para Profesional

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Idul Adha dan Kualitas Bangsa: Kritik Teologis untuk Elite Pemimpin

May 27, 2026
Sejarah Melempar Jumrah Saat Haji dan Umroh
Feature

Ka’bah, Tradisi Pagan, dan Cara Agama Mengubah Makna Sejarah

May 27, 2026
Feature

Dari Sexy Killer ke Pesta Babi

May 26, 2026
Next Post
Di Balik Chromebook: Jejak Halus Sang Menteri – Berujung Bui

Kasus Nadiem dan Pelajaran untuk Para Profesional

Dengan Modus Sewa-Menyewa, Tanah Masyarakat Kanci Diduga Dirampas

Dengan Modus Sewa-Menyewa, Tanah Masyarakat Kanci Diduga Dirampas

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati
Birokrasi

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

by Karyudi Sutajah Putra
May 25, 2026
0

Jakarta - Fusilatnews -Indonesia dan tujuh negara lain mengutuk keras tindakan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan pasukan Israel...

Read more
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

May 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Idul Adha dan Kualitas Bangsa: Kritik Teologis untuk Elite Pemimpin

May 27, 2026
Sejarah Melempar Jumrah Saat Haji dan Umroh

Ka’bah, Tradisi Pagan, dan Cara Agama Mengubah Makna Sejarah

May 27, 2026

Dari Sexy Killer ke Pesta Babi

May 26, 2026

Ekosistem Hukum yang Bolong (Ketika Pengawasan Internal Tidak Akan Pernah Cukup Jika Lingkungan Hukumnya Masih Memelihara Celah)

May 26, 2026
KPK Memble Hadapi Dirjen Bea Cukai? Publik Menunggu Nyali Penegakan Hukum

KPK Memble Hadapi Dirjen Bea Cukai? Publik Menunggu Nyali Penegakan Hukum

May 26, 2026
KPAI Desak Polisi Bongkar Tuntas Dugaan Prostitusi Anak di Lokasari, Soroti Jaringan dan Perlindungan Korban

KPAI Desak Polisi Bongkar Tuntas Dugaan Prostitusi Anak di Lokasari, Soroti Jaringan dan Perlindungan Korban

May 26, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Idul Adha dan Kualitas Bangsa: Kritik Teologis untuk Elite Pemimpin

May 27, 2026
Sejarah Melempar Jumrah Saat Haji dan Umroh

Ka’bah, Tradisi Pagan, dan Cara Agama Mengubah Makna Sejarah

May 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...