• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Tangis Sunyi, Kaum Ibu dan Tragedi Gagal Ginjal

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
November 9, 2022
in Feature
0
Kemenkes Instruksikan Setop Sementara Jual Obat Sirop, Ada Apa?

dok.ist

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Caecilia Tiara

Jakarta – Isi pesan WhatsApp Group saya belakangan ini dipenuhi dengan pertanyaan dan kegelisahan. Isinya soal kasus kematian anak-anak akibat gagal ginjal akut gara-gara sirop obat penurun panas. Hingga akhir awal November, tercatat sedikitnya 190 bocah meninggal dunia dalam kasus ini.

Sebagai ibu dengan putri berusia enam tahun, kegundahan serupa pun saya rasakan. Termasuk soal sebagian obat yang diduga terkait dengan kasus gagal ginjal, ada di lemari obat rumah. “Harus diapakan obat-obatan ini? Bagaimana dengan anak saya yang sempat meminumnya karena batuk pilek bulan lalu?” demikian pertanyaan muncul di benak.

Saya telusuri semua informasi namun masih ada kebingungan. Informasi cepat sekali berubah. Saya pun memeriksa lagi akun akun resmi Ikatan Dokter Anak dan Ibu (IDAI), namun belum bisa menuntaskan keragu-raguan kali ini.

Namun sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan sejumlah produk obat sirop yang mengandung Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) menjadi sebab kematian kasus gagal ginjal. Lembaga itu menduga kedua zat tersebut merupakan cemaran dan bukan sebagai bahan baku tambahan yang digunakan pada formulasi dan proses produksi obat sirup.

Cemaran tersebut diduga berasal dari empat bahan baku tambahan, yaitu propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol, dan gliserin/gliserol.

Di tengah kebingungan ini, pertanyaan dari teman dan keluarga juga terus berdatangan. Salah satu teman mengatakan anaknya baru saja meminum obat yang termasuk dalam daftar obat mengandung EG dan DEG. “Apa yang harus aku lakukan?” kata dia sambil sesekali terisak.

Saya hanya bisa jawab sebisanya: tetap tenang, ganti obat dengan bentuk tablet. Namun, mungkin semua orang tua tahu betapa sulitnya tablet ini dikonsumsi bocah ketika sakit, terutama bagi balita. Saya pun memperhatikan bagaimana perkembangan kasus ini hari demi hari.

Selama itu pula, saya menonton video berseliweran tentang detik-detik sebagian korban bocah meninggal karena gagal ginjal. Di sisi lain, saya juga memperhatikan bagaimana komunikasi antar lembaga pemerintah saling lempar.

BPOM mengatakan pihaknya tak mengawasi impor bahan baku Propilen Glikol dan Proetilen Glikol. Dua senyawa kimiawi ini, demikian lembaga itu, diimpor di bawah pengawasan Kementerian Perdagangan karena termasuk bahan baku nonlarangan terbatas (lartas). Cemaran melebih ambang batas 0,1 persen dari dua bahan baku itulah yang diduga berubah ke EG dan DEG dalam sirop penyebab gagal ginjal akut.

Kepala BPOM Penny Lukito mengatakan bahan baku Propilen Glikol dan Proetilen Glikol termasuk dalam kategori Technical Grade yang bisa saja dipakai untuk industri lain macam cat dan tekstil. Selain itu, kata dia, harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan Pharmaceutical Grade.

Sehingga, katanya, ketika BPOM menemukan hubungan sebab akibat antara industri farmasi yang memakai pelarut Propilen Glikol maka hal itu dianggap sebagai kejahatan obat. “Dan ini juga kejahatan kemanusiaan,” demikian Penny di dalam suatu rapat dengan DPR pekan lalu.

Kementerian Perdagangan pun angkat suara. Lembaga itu mengungkapkan BPOM seharusnya sudah tahu siapa saja produsen farmasi yang menggunakan bahan baku. “BPOM yang tahu harusnya siapa saja produsen-produsen farmasi yang menggunakan barang itu. Sehingga kemarin ada opsi pengawasannya yang harus diketatkan,” kata Direktur Impor Kementerian Perdagangan Sihard Hadjopan Pohan, beberapa waktu lalu.

 Penegakan Hukum

Walaupun ada aksi saling lempar, untungnya upaya penegakan hukum pun mulai terlihat. Kepolisian melakukan penyelidikan ke sejumlah produsen farmasi terkait dengan dugaan penggunaan bahan pelarut sirop itu di pelbagai daerah. Hasilnya, ada sejumlah produk obat yang mengandung cemaran 100 kali EG dan DEG. “Terbukti menggunakan Etilen Glikol 48 miligram per mililiter. Padahal syaratnya harus kurang dari 0,1 miligram. Ini hampir 100 kalinya,” kata Penny lagi.

Tetapi, hingga kini tak seorang atau satu institusi pun menjadi tersangka. Padahal, saya melihat ada sejumlah nama perusahaan yang telah diungkap di hadapan publik dan diduga menggunakan bahan baku yang melebihi ambang batas dalam sirop obat mereka.

Sebagai ibu, saya melihat kesan pola komunikasi pemerintah soal kasus gagal ginjal akut itu membingungkan. Sementara pelaku kejahatan sudah terungkap namun belum diproses hukum, korban-korban lain kasus gagal ginjal akut bisa jadi terus bergelimpangan di Tanah Air.

Kaum ibu, saya kira, menghadapi masalahnya kian bertumpuk gara-gara persoalan ini. Satu sisi, kami terus membujuk anak untuk meminum obat tablet pengganti sirop ketika mereka demam. Sisi lainnya, kami menghadapi kegamangan atas informasi yang disampaikan pemerintah menghadapi kasus gagal ginjal akut ini.

Tak hanya itu, hingga kini juga belum ada permintaan maaf dari satu lembaga pun terkait dengan kasus gagal ginjal akut. Baik dari lembaga negara maupun instansi terkait dengan kasus itu. Hal ini, bisa saja bikin sebagian orang makin geram.

Saya membayangkan bagaimana para aparatur negara meminta maaf atas kejadian demi kejadian yang merenggut nyawa ratusan bocah ini. Mungkin seperti yang terjadi di Itaewoon, Korea Selatan.

Polisi hingga wali kota membungkuk dalam-dalam karena mengakui kesalahan mereka atas tragedi yang menyebabkan kematian ratusan orang di acara Haloween pada akhir Oktober lalu.

Lantas, bagaimana nasib ratusan orang tua yang sudah ditinggalkan anak-anak mereka?

Saya kira, akan ada malam-malam yang bikin mereka terbangun dan menangis. Tempat tidur mungil yang kosong. Lemari baju si kecil yang tersisa. Atau mengingat tontonan film kartun kesayangan mereka.

Dan saya bertanya, siapa yang harus bertanggung jawab atas kesedihan tak berbatas kali ini?

Dikutip dari CNNIndonesia.com, Selasa 8 November 2022.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kebohongan dan Forensik Peradilan

Next Post

Andi Arief; Kubu Hasto Itu Sombong Tak Mau Berkomunikasi – Jokowi Tak Etis Ikut Kontestasi Presiden

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Feature

Mengembalikan Nilai-Nilai Murobbi dalam Jiwa Seorang Guru

July 1, 2026
Feature

Ironi Bangsa Besar yang Mudah Tertipu

July 1, 2026
Di Mana Bedanya Pak Harto dan Prabowo?
Feature

Di Mana Bedanya Pak Harto dan Prabowo?

July 1, 2026
Next Post
Diancam, Partai Demokrat dan Lukas Enembe Oleh Orang Mengaku Utusan Jokowi, Seperti Apa?

Andi Arief; Kubu Hasto Itu Sombong Tak Mau Berkomunikasi – Jokowi Tak Etis Ikut Kontestasi Presiden

Diametral Kepentingan 3 Negara di KTT G20 vs Mimpi Indonesia

Diametral 3 Negara - Kepentingan di KTT G20

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
IPW Tuding Pemerintah Tidak Serius, Hanya  Seolah – olah Dalam Menindak Pelaku Judi Online
Birokrasi

Hari Bhayangkara ke-80, Ini Catatan IPW

by Karyudi Sutajah Putra
July 2, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-- Peringatan Hari Bhayangkara atau Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Polri saat ini ditandai dengan hadiah manis bagi...

Read more
Robohnya Benteng Moral Kami

Robohnya Benteng Moral Kami

July 1, 2026
Hendardi: Jangan Normalisasi Multifungsi TNI, Sekolah Rakyat Bukan Barak Militer

Hendardi: Jangan Normalisasi Multifungsi TNI, Sekolah Rakyat Bukan Barak Militer

July 1, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Sidang Perdana Dokter Tifa Digelar Hari Ini di PN Jakarta Timur, Agenda Pembacaan Dakwaan

Sidang Perdana Dokter Tifa Digelar Hari Ini di PN Jakarta Timur, Agenda Pembacaan Dakwaan

July 2, 2026
Naik karena Rakyat, Tumbang karena Cendekia

Pemilu 2029: Duel Kekuasaan Prabowo vs Jokowi

July 2, 2026
IPW Tuding Pemerintah Tidak Serius, Hanya  Seolah – olah Dalam Menindak Pelaku Judi Online

Hari Bhayangkara ke-80, Ini Catatan IPW

July 2, 2026
Jokowi Turun Gunung untuk PSI: Bukan untuk Bangsa, Tapi Karir Politik Anaknya

Jokowi Turun Gunung untuk PSI: Bukan untuk Bangsa, Tapi Karir Politik Anaknya

July 1, 2026
Bahkan Masyarakat Pun Rayakan Hari Bhayangkara

Bahkan Masyarakat Pun Rayakan Hari Bhayangkara

July 1, 2026

Mengembalikan Nilai-Nilai Murobbi dalam Jiwa Seorang Guru

July 1, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Sidang Perdana Dokter Tifa Digelar Hari Ini di PN Jakarta Timur, Agenda Pembacaan Dakwaan

Sidang Perdana Dokter Tifa Digelar Hari Ini di PN Jakarta Timur, Agenda Pembacaan Dakwaan

July 2, 2026
Naik karena Rakyat, Tumbang karena Cendekia

Pemilu 2029: Duel Kekuasaan Prabowo vs Jokowi

July 2, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist