“Apa kita mampu sebagai negara untuk membiayai ini? Kita sudah hitung untuk program satu kali makan setiap hari, 365 hari, kita perlu Rp400 triliun tambahan setiap tahun. Apakah ada uangnya? Tim ahli kita sudah hitung, bakal ada uang itu Rp400 triliun,” Prabowo
Program Prabowo memberi makan dan susu, bila tidak dilaksanakan, maka akan menghemat sebanyak Rp. 400 Trilyun per tahun. Sebaliknya bila dilaksanakan, APBN kita, akan kehilangan Rp 1 Trilyun lebih per hari – jika kajian manfaatnya, tidak terlalu signifkan, bila kemudian dibelanjakan untuk program-program yang lebih strategis.
Tim Kampanye Nasional Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka atau TKN Prabowo-Gibran menyatakan program makan siang dan susu gratis adalah program yang mendorong peningkatan gizi dan nutrisi serta kesejateraan ekonomi. Mereka merespon kritikan dari calon presiden Ganjar Pranowo yang menyatakan program tersebut akan membebani anggaran pemerintah nantinya.
Juru bicara Bidang Geopolitik, Pemuda, Olahraga, dan Diaspora TKN Prabowo-Gibran, Hamdan Hamedan, mengatakan, data World Food Programme (WFP) menyebutkan program makan siang gratis telah membantu lebih dari 418 juta siswa secara global.
Sementara menurut pakar dan Pengamat ekonomi Andhika Nurwin Maulana mengkritik program makan gratis yang akan dijalankan Prabowo Subianto jika terpilih menjadi presiden di 2024.
Menurut Andhika, kebutuhan infrastruktur pendukung untuk pendidikan lebih dibutuhkan para siswa dibandingkan dengan makan siang yang tidak realistis
Andhika menyampaikan hal tersebut menanggapi pernyataan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo yang membeberkan sejumlah program yang akan dijalankan Prabowo Subianto jika terpilih menjadi presiden di 2024.
“Kebutuhan infrastruktur pendukung untuk pendidikan lebih dibutuhkan oleh para siswa,” kata Andhika
Anggaran tersebut memang terlalu besar. Penggunaan dana yang sangat besar akan mengorbankan anggaran untuk program dan sektor lainnya yang lebih prioritas
Pengamat ekonomi INDEF Nailul Huda Hashim menilai program Prabowo Subianto soal memberi makan gratis demi gizi seimbang tidak realistis karena anggarannya yang dbutuhkan sangat besar. Jika program itu dilaksanakan bakal menghabiskan APBN Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
“Program makan gratis milik kubu Prabowo tidak mendasar dan cenderung halusinasi. Biaya Rp400 triliun, pendidikan sudah Rp600 triliun, belum lagi biaya pegawai, transfer ke daerah, dana desa, dan subsidi energi, sudah habis itu APBN,” kata Nailul dalam keterangannya
Nailul mengatakan, membuat program itu perlu melihat kondisi anggaran yang kemudian ditentukan prioritasnya dalam sebuah kebijakan.
“Tidak ada ruang untuk pembangunan. Jadi sangat tidak realistis.
Tim ekonomi dari Pak Prabowo harus melihat kapasitas fiskal kita, anggaran prioritas, hingga kebijakan publik. Tapi ya namanya politik, janji itu harus diucapkan,”katanya.
Dalam kesempatan berbeda, Direktur Eksekutif CORE Indonesia juga turut mengkritisi program Prabowo tersebut. Menurut Mohammad Faisal, semestinya calon presiden tidak menjanjikan program populis. Melainkan yang perlu diperhatikan adalah program yang berkelanjutan, termasuk bantuan yang tepat sasaran.
“Pertanyaannya, gizi seimbang apakah dengan program makan gratis akan berkelanjutan? Jadi masalah ketepatan sasaran ini sama seperti yang kita hadapi di bansos, cuma langsung dalam bentuk makanan. Kembali ke tujuannya, pertama apakah bisa mencapai gizi seimbang dalam program makan gratis 1 tahun? Kedua masalah sustainability,” tutur Faisal





















