Berbeda dengan pertemuan Biden dan Xi, yang penuh prasa diplomasi tingkat tinggi, walau saling membenturkan dua pandangan yang berbeda, issue Taiwan, endingnya banyak yang menilai sebagai langkah yang positif. Tetapi PM Canada dan Presiden China Xi Jinping, justru sebaliknya. Menyisakan harapan yang “patut disayangkan”.
Presiden China, Xi Jinping, terekam kamera saat menumpahkan emosinya kepada Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, di sela KTT G20 Bali. Xi bahkan naik pitam karena isi pembicaraannya dengan Trudeau di sela KTT G20 bocor ke media.
Dalam rekaman video yang disiarkan di media Kanada, Xi memang terlihat tersenyum saat berbicara kepada Trudeau dalam bahasa Mandarin. Kendala bahasa, perbedaan budaya dan system politik, menyebabkan mudahnya salah faham. Tetapi setelah penerjemah Xi menyampaikan maksud sang presiden kepada Trudeau. Ternyata, ucapannya berisi protes keras kepada Xi.
Apa respon Xi? “Semua yang kami bicarakan dibocorkan ke media dan itu tidak pantas,” ujar penerjemah tersebut menyampaikan ucapan Xi kepada Trudeau.
“Jika Anda tulus, maka kita harus melakukan pembicaraan dengan sikap hormat satu sama lain. Jika tidak, akan ada konsekuensi tak terduga,” tambah Xi seperti nada mengancam.
Kultur yang tak elok dilakukan dalam peradaban diplomasi tingkat tinggi, apalagi antar kepala negara, adalah Trudeau langsung menyela ketika sang penerjemah baru saja sampai mengatakan, “Jika Anda tulus.”
Sikap tolol dan kekanak-kanakan, Ia langsung menyambar dengan berkata, “Di Kanada, kami meyakini dialog bebas dan terbuka dan terang-terangan. Kita akan terus bekerja sama secara konstruktif, tapi akan ada hal-hal yang kita tak sepaham.”
Lalu bagimana dengan sikap Xi? Masih dengan tersenyum, tapi Xi kemudian mengakhiri konfrontasinya dengan Trudeau dalam bahasa Mandarin, kemudian melenggang pergi meninggalkan sang PM Kanada itu.
“Mari tentukan dulu batasan-batasannya,” ucap penerjemah menyampaikan kata-kata terakhir Xi kepada Trudeau saat sang presiden mulai beranjak pergi.
Ada yang tak elok, yang diucap oleh Trudeau, yaitu menilai “cara pandang dan nilai benar”, menurut tata budaya di Canada yang liberal itu. Sementara ia bicara kepada lawan bicaranya, Xi Jinping si pemimpin otoriter yang terbiasa dengan system komunisme China.
Diplomasi tidak identik dengan Demokrasi. Ia seni saling mempengaruhi. Ia etika dan seni menyampaikan pesan. Ia memadukan dari irisan-irisan kesamaan yang terkecil. Bukan membenturkan perbedaan-perbedaan yang kontras dan yang nyata adanya itu.






















