Oleh : Ir Prihandoyo Kuswanto | Ketua Pusat Studi Jajan Rumah Pancasila
Setelah Satgasus Merah Putih terbongkar dengan segala keanehan nya karena terjadi polisi didalam polisi. Sekarang Kemendikbud-Ristek.
Membuat hal yang hampir sama Tim Bayangan dengan anggota 400 orang. Pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah tim bayangan itu ada di struktur organisasi Kemendikbud -Ristek ?
Apakah memang struktur organisasi dirjen -dirjen itu tidak mampu membuat kebijakan sehingga perlu Tim Bayangan ?
Tentu Tim ini bukan ASN terus gajih dan Anggaran 400 orang ini dari mana ?
“Dalam Kemendikbudristek kami, tidak memperlakukan mereka sebagai vendor, walaupun secara kontraktual sudah jelas mereka vendor. Seluruh tim kita adalah tim permanen yang merupakan suatu vendor yang dirumahkan di bawah anak perusahaan Telkom. Di situlah mereka, dan memang mereka itu secara teknis adalah vendor,” kata Nadiem dalam Rapat Kerja bersama Komisi X di DPR RI, Senin (26/9).
Kalau mendengar penjelasan mas menteri ini tim bayangan ini adalah vendor arti nya penyedia jasa dan barang pada Kemendikbud .
Bukan nya penyedia jasa dan barang itu ada aturan kepres nya ?
Kepres Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
Kemudian ada Peraturan Presiden Perpres nomor 12 Tahun 2021 tanggal 2 Pebruari 221.
Kalau Tim Bayangan itu adalah vendor tentu perekrutan nya ada prosedur lelang yang harus dilalui yang aneh kata Mas Mentri ini secara Philisophy konsep gotong royong . Rupa nya Mas Mentri asal saja menempelkan gotong royong pada tim bayangan nya ,apakah dengan melebel kata gotong royong bisa menabrak segala aturan yang ada ?
Ini model nepotisme KKN yang berselubung pada Jargon Tim bayangan .
Kekacauan pendidikan di Indonesia salah dari awal nya salah menem pa tekan orang dan salah konsep apalagi secara Philisophy dianggap nya pendidikan itu me la hirkan robot robot seperti Gojek yang bisa di gerakan melalui aplikasi .
Sehingga kebijakan pendidikan menjaukan nilai nilai keagamaan .
Dan kita bisa rasakan pendidikan tidak lagi membangun karakter kebangsaan ,tidak lagi mencetak manusia yang adil dan beradab .
Harus nya philoshophy pendidikan itu membangun Manusia Yang Adil dan beradab .
Manusia itu bisa adil kalau dia memahami nilai nilai agama nilai nilai Ke Tuhanan ,nilai nilai ke Ilmuan ,dengan memahami nilai nilai tersebut maka manusia itu akan mampu membangun peradaban .
Ki Hadjar Dewantara
Haryati dalam buku Pemikiran Pendidikan Ki Hadjar Dewantara mengatakan, pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dimaksudkan agar peserta didik kelak sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Konsep tersebut diejawantahkan dalam sejumlah pandangannya mengenai dasar-dasar pendidikan. Di antaranya kemerdekaan, kodrat alam, kebudayaan, kebangsaan, kemanusiaan, kekeluargaan, budi pekerti, dan keseimbangan.
Suwardi Suryaningrat – nama lahir Ki Hadjar Dewantara, diakui karena pemikiran-pemikiran cemerlang terkait pendidikan nasional.
Slogan yang dikemukakan olehnya sering terdengar di telinga masyarakat Indonesia seperti “Tut Wuri Handayani”.
Akan tetapi, harus dipahami pula bahwa tujuan dari pendidikan yang dimaksud oleh Ki Hadjar Dewantara adalah satu proses yang tidak diam. Terdapat tiga asas yang dikenalkan Ki Hadjar Dewantara, yaitu kontiniu, konvergen, dan konsentris.
Pengembangan kesinambungan, lanjut Widyawati, adalah mencari sesuatu yang baru di luar Indonesia.
“Contohnya Ki Hadjar mencari dan mempelajari pemikir pendidikan dunia seperti Montessori, Froebel, dan Tagore. Semua pemikiran itu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pendidikan kita,” ujarnya dalam diskusi daring bertajuk “Rekonstruksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara untuk Pendidikan Nasional” dikutip Minggu (17/4/2022)
Kita bisa merasakan sekarang pendidikan kita justru tidak jelas arah nya karena dianggap nya teknologi segala gala nya.
Padahal tanpa sadar era internet ini kita sedang di giring dalam keinginan global yang pada akhir nya kita akan menjadi robot robot yang tidak bisa hidup tanpa internet .
Kita tudakakan bisa merdeka lagi sebab semua nya menjadi satu sistem satu kendali yang tidak lagi bangsa ini yang mengendalikan .
Apakah kita sadar ?
Mas menteri rupa nya bagian yang mempersiapkan robot robot yang suatu saat robot tersebut bisa di kendalikan ,oleh sebab itu tidak butuh Dr Prof untuk ngurus pendidikan ,sebab tidak butuh membangun karakter kebangsaan kita .


























