Fusilatnews – Di republik ini, kadang urusan negara lebih menghibur daripada sinetron. Kalau Anda mengira dunia selebriti cuma ada di layar kaca, Anda keliru, Saudara-saudara! Kini panggung sandiwara merambah sampai ke ruang-ruang kementerian, dan salah satu artis terkinclong yang sedang naik daun—tentu bukan karena prestasi—adalah Tina Astari, istri dari Menteri UMKM Maman Abdurrahman.
Apa yang membuat nama Tina naik ke permukaan seperti krim di atas kopi instan? Tentu saja bukan karena ia menemukan formula ajaib memberantas kemiskinan atau memajukan UMKM, melainkan karena surat cinta—eh, surat resmi—dari Kementerian UMKM yang menyulap dirinya dari “istri menteri” menjadi “duta budaya dunia”.
Wong dia bukan pejabat, bukan ASN, bukan Dirjen, bukan Staf Khusus, bukan pula Ketua RT di Kementerian UMKM. Tapi tingkahnya? Ya ampun, seperti Menteri Luar Negeri versi sinetron religi. Jalan-jalan ke Eropa, dari Istanbul sampai Milan, dari Paris sampai Brussels, ngaku-ngaku mau misi budaya. Lah, budaya siapa yang dibawa? Budaya ngemis fasilitas negara?
Barangkali Tina berpikir, “Lho, kalau istri pejabat bukan pejabat, trus siapa dong yang boleh minta didampingi KBRI?” Logika tingkat sinetron jam 10 pagi ini memang membingungkan, tapi ya begitulah: logika publik terkadang kalah oleh logika “aji mumpung”.
Mumpung suami menteri, mumpung bisa tanda tangan surat, mumpung petugas KBRI belum keburu pulang kampung.
Tentu, kita harus maklum, Tina ini mantan artis sinetron. Dunia akting itu menuntut fleksibilitas peran. Hari ini jadi istri ustaz, besok jadi pelakor, minggu depan jadi duta budaya. Semua tergantung skenario dan siapa yang memegang kamera. Nah, di dunia nyata, sepertinya ia masih terbawa suasana. Bedanya, kali ini yang memegang kamera bukan sutradara, tapi netizen dengan akun X bernama @MurtadhaOne1. Dan jangan salah, followers-nya lebih kejam dari produser sinetron manapun.
Ketika surat kementerian itu viral, sontak netizen bereaksi seperti emak-emak lihat flash sale. “Woi, ini siapa yang kasih izin?!”, “Enak bener jalan-jalan pakai duit negara!”, “Gue juga mau dong didampingi KBRI waktu liburan ke Jepang!”
Sementara itu, Pak Maman buru-buru pasang gaya “suami siaga”. Ia meluncur ke KPK bukan buat ditangkap, tapi buat klarifikasi. Katanya, istri tercinta pergi ke Eropa bukan pakai uang negara, tapi untuk dampingi anaknya lomba budaya. Tiket pesawat, hotel, dan nasi padang di Paris semua katanya dibayar dari rekening pribadi. 
Oke, kita percaya, Pak. Tapi bagaimana dengan surat kementerian itu? Masa iya surat kementerian keluar kayak undangan arisan, terus nggak ada yang tahu siapa yang ngeluarin? Atau jangan-jangan ini praktik surat terbang, semacam mistik birokrasi modern? Kita tidak tahu. Tapi netizen tahu: “Ada surat, berarti ada maksud. Ada maksud, berarti ada modus.”
Yang bikin ngakak (tapi juga miris) adalah bahwa program efisiensi anggaran yang digembar-gemborkan pemerintah justru dirusak oleh kelakuan keluarga menteri. Di satu sisi rakyat disuruh “hemat listrik, hemat BBM, hemat kata-kata”. Di sisi lain, Tina Astari disambut KBRI pakai karpet merah dan senyum diplomat.
Kalau ini bukan sinetron, saya nggak tahu lagi.
Yang jelas, Tina Astari sudah menorehkan sejarah. Ia berhasil membuktikan bahwa dalam dunia birokrasi Indonesia, menjadi “istri pejabat” bisa lebih powerful daripada jadi staf ahli. Anda tak perlu ikut pilkada, cukup menikah dengan orang yang terpilih.
Jadi buat para perempuan di luar sana yang bercita-cita jadi tokoh publik, tak usah repot bikin orasi, cukup cari pejabat yang masih lajang dan gampang dibujuk nonton drama Korea. Nikah, lalu minta surat tugas.
Voila! Paris is waiting.
Catatan Penutup:
Kalau Tina Astari keliling Eropa itu “misi budaya”, maka saya tiap pagi ke warteg bisa disebut “diplomasi kuliner rakyat”. Bukan begitu, Saudara-saudara?
Mari kita akhiri dengan doa: semoga Tina dan Maman diberi hidayah birokrasi, agar tak lagi membawa sinetron ke dalam kabinet. Aamiin ya robbal sinetron.


























