Fusilatnews – Di negeri ini, politik bukan lagi soal adu gagasan. Ia sudah menjelma jadi kompor meledug, bisa membakar apa saja. Rumah Uya Kuya di Pondok Bambu jadi korban. Semua diangkut: dari kursi tamu sampai teko warisan, dari kasur empuk sampai sendal jepit di teras. Tapi yang paling menyayat hati: kucing-kucing kesayangannya ikut diboyong massa.
Bayangkan, kucing yang makanannya lebih mahal daripada nasi padang kita, kucing yang hidupnya lebih nyaman dari kamar kos mahasiswa, tiba-tiba diangkut begitu saja. Ini bukan lagi penjarahan, tapi cat trafficking edisi kerusuhan.
Namun Uya tetap tampil kalem. “Saya ikhlas,” katanya, dengan wajah mirip orang yang dipaksa ikut lomba sabar kilat. Malah ia sempat minta maaf kepada publik. Anehnya, sudah rumahnya dijarah, kucingnya lenyap, malah dia yang merasa harus menunduk. Sepertinya memang begitu nasib pejabat di negeri +62: kalau salah dihujat, kalau benar tetap dihujat. 
Belum reda urusan kucing, muncullah Viona, istri Eko Patrio, dengan keluh kesahnya sendiri. Katanya, baju kesayangannya pun ikut raib. Nah, ini serius. Kalau baju biasa hilang, masih bisa cari penggantinya. Tapi “baju kesayangan” itu lain cerita. Itu biasanya baju yang punya nilai sejarah lebih tinggi daripada naskah Proklamasi. Bisa jadi baju kenangan waktu pertama kali diajak Eko makan bakso di pinggir jalan, atau baju yang sudah menemani dari panggung kampung sampai panggung parlemen. Dan kini baju itu hilang tanpa jejak.
Lucunya, di negeri ini orang bisa menjarah dengan pilihan hati. Kucing diangkut, baju kesayangan diambil, tapi entah kenapa toples kerupuk dibiarkan tetap kosong di meja. Jadi bingung: ini penjarahan atau lelang amal? Kalau terus begini, jangan-jangan suatu saat bukan cuma barang pribadi yang dijarah, tapi juga harga diri nasional.
Kisah Uya dan Viona akhirnya jadi semacam fabel politik. Ada kucing, ada baju kesayangan, ada pejabat yang merasa wajib minta maaf. Pesannya jelas: ketika politik sudah berubah jadi kerumunan brutal, maka yang hilang bukan cuma isi rumah, tapi juga akal sehat.






















