• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Wayang, Seni Pertunjukan Homo Moralis

fusilat by fusilat
May 6, 2023
in Feature
0
Wayang, Seni Pertunjukan Homo Moralis

Ilustrasi wayang.(SHUTTERSTOCK / By Alfi Pambudi Atmojo)

Share on FacebookShare on Twitter



Oleh: Mikka Wildha Nurrochsyam

Jakarta – Wayang adalah seni pertunjukan yang unik. Wayang tidak hanya menghibur tetapi sarat dengan pesan moral.

Seni pertunjukan wayang saat ini lebih mengutamakan kehadiran bintang tamu seperti pelawak, penyanyi, dan penari. Sering kali pergelaran wayang menampilkan hiburan vulgar dan obrolan yang seronok. Pentas seperti itu dapat menurunkan kualitas seni pertunjukan wayang.

Ekspresi manusia sebagai homo moralis (makhluk bermoral) menjadi persoalan tersendiri dalam pertunjukan wayang dewasa ini.

Akar Moralitas

Jika dicermati, wayang sebagai media untuk menyampaikan pesan moral sudah ada pada tahun 1500 SM, pada masa budaya Neolitikum di Nusantara.

Cikal bakal wayang yaitu pertunjukan boneka berbayang untuk persembahan kepada hyang atau arwah leluhur. Saat bayangan boneka bergerak-gerak diyakini roh leluhur telah hadir. Ritual dipimpin oleh saman atau dalang, dengan menyampaikan pesan moral tentang kebaikan dan kepahlawanan leluhur semasa hidupnya.

Peran wayang sebagai ekspresi manusia untuk menyampaikan pesan-pesan moral berlanjut pada masa Hindu (400 M-1500 M). Saat itu, terjadi akulturasi antara budaya Hindu dan budaya lokal. Penduduk lokal dapat mengadopsi pengaruh budaya Hindu secara kreatif.

Perpaduan budaya Hindu dan budaya animisme menjadi rencana intelektual yang tinggi. Pada puncaknya melahirkan karya-karya hebat. Dalam proses akulturasi, lahirlah wayang. Syair-syair yang indah dari epos Mahabharata dan Ramayana di India memikat penduduk setempat.

Kemudian, mereka mencoba mengadopsinya ke dalam pertunjukan wayang. Kisah tentang kepahlawanan leluhur semasa hidupnya lalu digantikan dengan epos Mahabharata dan Ramayana yang penuh dengan pesan moral.

Demikian pula pesan moral tetap berlanjut pada masa kedatangan Islam di Nusantara pada abad 7-8 M. Pertemuan Islam dengan masyarakat lokal yang beragama Hindu/Buddha berlangsung secara harmonis.

Pergelaran wayang pada masa itu berfungsi sebagai media dakwah untuk menyebarkan syiar Islam. Peran Wali Songo menjadi penting. Para Wali menggunakan wayang sebagai sarana dakwah yang efektif untuk penyampai pesan-pesan moral keislaman.

Dalam masyarakat Indonesia kontemporer wayang tetap mempunyai peran untuk menyampaikan pesan-pesan moral. Namun, pergelaran wayang tidak lagi sebagai upacara agama, atau media dakwah, tetapi mempunyai fungsi sebagai kesenian klasik yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan moral tentang berbagai isu sosial dan budaya dalam masyarakat.

Kreativitas dan Inovasi Dalang

Berhadapan dengan situasi masyarakat kontemporer Indonesia, dalang terdorong untuk melakukan kreasi dan inovasi dalam garap pagelarannya. Wayang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan moral dalam masyarakat kontemporer antara lain tentang demokrasi, keadilan dan keterbukaan.

Kreativitas dan inovasi dalang dapat dilihat dari garap lakon, garap adegan, garap tokoh, garap catur (ungkapan bahasa dalang), garap sabet (gerakan wayang) maupun garap iringan (musik). Ki Seno Nugroho misalnya terkenal karena menggarap tokoh Bagong. Meskipun sebagai seorang abdi raja Bagong di tangan Ki Seno menjadi cerdas dan argumentatif.

Tokoh Bagong menyampaikan pesan-pesan moral tentang kebebasan berpendapat dan keterbukaan. Sering kali Bagong tampil dengan sikap berani mengkritik tuannya dan tokoh kelas atas yang dianggapnya keliru. Bagong menjadi sosok wayang yang mewakili rakyat bawah yang kritis.

Di Bali I Wayan Nardayana melakukan garap tokoh dengan menampilkan rakyat jelata bernama Nang Klenceng dan Nang Eblong, selanjutnya Wayangnya dikenal dengan nama Wayang Cenk Blonk. Wayang ini menarik perhatian masyarakat karena penampilan kedua tokoh rakyat tersebut sangat kritis terhadap persoalan-persoalan sosial.

Nardayana mampu membawakan dialog-dialog yang menarik dalam adegan-adegan yang dipentaskan. Kedua tokoh ini muncul dalam setiap kesempatan, memberikan nasihat-nasihat, namun dapat juga melakukan kritikan-kritikan yang tajam terhadap persoalan-persoalan yang tidak adil dalam masyarakat.

Dalam pergelaran wayang klasik biasanya tokoh raja-raja dan kesatria menjadi peran utama. Sebaliknya dalam wayang Ceng Blonk, tokoh rakyat yang menguasai panggung. Nardayana telah menggeser pertunjukan wayang yang terkesan feodal menjadi pertunjukan wayang yang terbuka dan demokratis. Dalam era demokratis rakyat ingin melihat dirinya berperan dalam pentas di panggung.

Wayang Cenk Blonk dan tokoh Bagong garapan Ki Seno Nugraha merefleksikan peran dominan rakyat ditampilkan dalam sebuah pentas seni yang menghibur.

Menurunnya Kualitas Pergelaran Wayang

Problem moral hadirnya bintang tamu dan peran sinden dalam pentas bukan persoalan yang baru dalam dunia pewayangan. Pada awal Era Reformasi di Indonesia isu mengenai kualitas seni pertunjukan yang dikuasai hiburan-hiburan yang vulgar ini sempat muncul. Organisasi pewayangan seperti SENAWANGI (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia) dan PEPADI Pusat (Persatuan Pedalangan Indonesia) saat itu sangat gencar menyuarakan suara moral dari seni pertunjukan wayang. Hasilnya, pertunjukan wayang yang terkesan hura-hura itu untuk beberapa tahun lamanya dapat diredam.

SENAWANGI dan PEPADI Pusat pada saat itu secara aktif juga menyuarakan upaya mengembalikan peran dan fungsi dalang sesuai dengan Etika Pedalangan. Pada saat ini suara moral untuk menyerukan peran dan fungsi dalang dalam masyarakat tidak terdengar. Akibatnya, garap pergelaran wayang berkembang tidak terkontrol. Karena itu penting untuk mengingatkan kembali kepada para dalang mengenai peran dan fungsinya sebagai guru dan pendidik masyarakat yang berpedoman pada etika pedalangan.

Jika pergelaran wayang masih carut marut seperti sekarang dikhawatirkan generasi muda akan mengenal wayang sebagai warisan budaya yang penuh hura-hura dan lawakan-lawakan yang seronok, bukan sebagai karya masterpiece warisan lisan dan tak benda manusia yang luar biasa.

Mikka Wildha Nurrochsyam, Peneliti Madya Pusat Riset Budaya dan Masyarakat – BRIN.

Dikutip dari Kompas.com, Kamis 4 Mei 2023.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Surya Paloh Minta Agar Jokowi Menghentikan “Endorse” Capres Tertentu

Next Post

Jawaban Anies Menohok Partai Koalisi Besar

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Pilihan yang Bukan Pilihan

April 21, 2026
Feature

KETIKA PENDAMAI DITUDUH MENISTA AGAMA

April 20, 2026
Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi
Feature

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
Next Post
Di Lampung Anies Ajak Relawan dan pendukung Bergerak Bersama Menuju Perubahan

Jawaban Anies Menohok Partai Koalisi Besar

Peringatan Jokowi ke Zulhas Langsung Direspon PAN

Tak Ada Alokasi APBN Untuk Bayar Subsidi Migor - Utang Subsidi Migor Tak Bisa Dibayar

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Jusuf Kalla (JK) sudah membuka front pertempuran....

Read more
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Pilihan yang Bukan Pilihan

April 21, 2026

KETIKA PENDAMAI DITUDUH MENISTA AGAMA

April 20, 2026
Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

April 20, 2026
MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

April 20, 2026

Mengelola Risiko DSR 40%: Ketika Negara Seperti Keluarga yang Terlilit Cicilan di Tengah Dunia yang Bergejolak

April 20, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pilihan yang Bukan Pilihan

April 21, 2026

KETIKA PENDAMAI DITUDUH MENISTA AGAMA

April 20, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist