Fusilatnews – Kita sering berbicara tentang toleransi. Sebuah kata yang terdengar seperti embun, dingin dan menenangkan. Tapi di negeri ini, toleransi seperti kabut. Ia hadir justru saat pandangan menjadi samar. Di tengah kabut itulah, yang samar sering dijadikan musuh, dan yang terang dijadikan korban. Dan kita, seperti biasa, diam atau sekadar memilih sisi yang tampak lebih meyakinkan—tanpa peduli apakah itu sisi yang adil.
Beberapa tahun lalu, saya membaca pernyataan Jusuf Kalla di hadapan ratusan pendeta. Ia berbicara tanpa tedeng aling-aling. Gereja, katanya, sudah lebih dari 56.000 di Indonesia. Mengapa satu yang dipermasalahkan harus menjadi isu dunia? Mengapa umat Islam yang disalahkan?
Pernyataan itu mengingatkan saya bahwa fakta sering kali terkapar tak berdaya di hadapan opini yang dibuat-buat. Dan Gereja Yasmin di Bogor menjadi salah satu panggung drama itu: bukan karena ibadahnya, tapi karena tanda tangan palsu. Namun seperti biasa, yang disorot adalah umat Islam—sebagai seolah-olah pelaku intoleransi. Bukan sebagai masyarakat yang dirugikan oleh manipulasi administratif.
Tentu, saya tidak sedang mengatakan bahwa umat Islam tidak pernah salah. Tapi saya percaya, sejarah panjang negeri ini menunjukkan bahwa mayoritas justru lebih banyak menahan diri ketimbang memaksakan kehendak. Dan mungkin di situlah letak persoalannya: karena diam sering dianggap kalah, dan sabar sering disalahartikan sebagai penindasan.
**
Dalam esai-esai Goenawan Mohamad, kita diajak melihat makna yang lebih subtil, bukan sekadar angka atau kejadian. Maka saya ingin meminjam matanya sejenak—untuk melihat bahwa mungkin persoalan bukan pada salib, bukan pada kubah, bukan pada bangunan rumah ibadah.
Tapi pada ambisi yang ingin menguasai langit lewat jalan darat.
Kristenisasi—kata yang telah menjadi semacam kata hantu dalam diskursus keislaman Indonesia—sering dibicarakan dengan nada getir. Tapi coba kita lihat: apakah yang membuat umat Islam merasa gerah? Apakah karena ada gereja di kampung mereka? Tidak.
Yang membuat gerah adalah ketika kemiskinan dimanfaatkan untuk menyusupkan misi. Ketika beasiswa bukan sekadar untuk pendidikan, tapi juga untuk membelokkan keyakinan. Ketika rumah sakit bukan sekadar tempat penyembuhan, tapi ruang pengkaderan. Dan ketika guru datang bukan untuk mengajar, tapi untuk menyusupkan kitab yang lain—pelan-pelan, diam-diam, dengan dalih kasih.
Kasih itu suci. Tapi kasih yang dibungkus sebagai taktik, menjadi licik.
**
Di satu desa kecil, ada lima gereja dengan aliran berbeda. Kadang jemaatnya hanya belasan. Tapi masing-masing ingin punya menara sendiri. Punya lonceng sendiri. Punya rumah sendiri untuk Tuhan yang katanya satu, tapi disembah dengan ribuan cara. Di sisi lain, satu musholla di ujung kampung harus berjuang menghadapi penggusuran karena rencana perumahan elit.
PIK, Lippo, BSD—semua nama itu membisikkan satu kenyataan pahit: bahwa masjid semakin sulit berdiri di tengah perumahan modern. Bukan karena desain arsitektur, tapi karena dominasi demografi. Masjid seolah menjadi simbol keasingan, bukan ketenangan. Dan yang asing, seperti biasa, selalu dicurigai.
Lalu siapa yang sesungguhnya mengalami diskriminasi?
**
Saya tidak sedang ingin membela satu agama dan menyalahkan yang lain. Tapi saya percaya bahwa toleransi yang tulus harus berpijak pada kejujuran. Dan kejujuran kadang menyakitkan. Seperti kenyataan bahwa banyak gereja di negeri ini berdiri dengan bantuan dana asing. Mereka punya jaringan global yang rapi, canggih, dan sistematis. Dari Utah, dari Kanada, dari Vatikan. Dan semua dilakukan dengan legitimasi moral bernama “misi”.
Tapi bukankah setiap misi pada dasarnya adalah hasrat untuk mengubah dunia? Dan jika dunia tidak ingin diubah, mengapa mereka tetap datang?
**
Suatu siang, seorang pendeta bertanya pada JK: mengapa di kantor-kantor ada masjid? Jawaban JK tak hanya cerdas, tapi telak: karena Jumat bukan hari libur. Karena umat Islam hanya punya satu waktu untuk salat berjamaah. Karena kalau tidak ada masjid, kami harus absen dari kantor. Dan Anda? Anda bisa ibadah Minggu dalam lima shift.
Itulah toleransi yang sejati: bukan perlombaan membangun rumah ibadah, tapi upaya memahami kebutuhan orang lain tanpa merasa dirugikan.
**
Di ujung hari, saya tak bisa tidak mengutip puisi Chairil Anwar:
“Kami adalah angin yang tak bisa kau lawan dengan pagar gereja dan papan salib.”
Tapi juga, saya percaya bahwa salib tidak perlu dilawan. Ia hanya perlu diberi tempat yang layak—bukan tempat yang mengancam.
Begitu pula bulan sabit. Ia tidak menuntut langit sepenuhnya. Ia hanya ingin sedikit ruang—agar cahayanya tidak pudar ditelan lampu sorot dari luar negeri.
Karena rumah ini terlalu besar untuk satu keyakinan saja. Tapi juga terlalu rapuh jika terlalu banyak yang ingin merasa paling berhak atas ruangnya.
Toleransi bukan tentang membagi ruang. Tapi tentang tahu kapan harus mundur, agar yang lain bisa bernapas.
Dan salib, seperti bulan sabit, harus tahu diri.

























