Fusilatnews – Di setiap panggung, Yusuf Mansur bicara tentang keajaiban rezeki. Di luar panggung, korban bicara tentang uang yang raib. Yang ajaib di sini bukan doanya, melainkan jemaahnya—yang tetap memuja ketika bukti kerugian bertumpuk di meja pengadilan. Mereka bukan kekurangan dalil. Mereka kekurangan kemauan untuk melihat korban.
Di Indonesia, ada fenomena yang lebih ajaib dari kisah 1001 malam: pengikut yang memuja tokoh berakhlak bisnis meragukan, bukan karena ajaran agamanya, melainkan karena mereka enggan menatap korban yang berteriak di depan mata. Yusuf Mansur, sang dai yang memadukan retorika doa dengan grafik keuntungan investasi, menemukan pasar dakwah yang subur pada mereka yang meyakini iman bekerja layaknya bunga bank: ditaruh sedikit, kembali berlipat-lipat.
Pasarnya bukan kaum santri, bukan pula kaum pengaji kitab. Pasarnya adalah massa pengajian instan—menelan dalil secepat menelan kapsul vitamin; berharap kaya sebelum paham mana riba, mana muamalah, mana tipu daya. Kekaguman itu tidak lahir dari kecintaan pada ilmu, melainkan dari ketergantungan pada harapan: kalau dia bisa bikin saya kaya, dia pasti wali Allah.
Di sinilah pangkal kekeliruan itu berdiri. Mereka yang memujanya bukan sedang memuliakan dakwah—mereka sedang memuliakan jalan pintas. Islam, dengan seluruh bangunan akhlaknya, tidak pernah mengenal konsep kemakmuran dengan sponsor doa. Islam menuntut kerja, amanah, ilmu, dan yang paling berat: kejujuran dalam muamalah. Tapi di forum-forum jemaah Yusuf Mansur, kejujuran justru terlihat sebagai gangguan. Korban yang mengaku tertipu oleh skema investasinya dicap lemah iman, kurang doa, kurang ikhlas, atau kurang ngaji versi sang dai.
Padahal, yang kurang ngaji di sini justru para pembelanya.
Sebagian orang menimba ilmu dari Al-Qur’an. Sebagian lagi menimba ‘wahyu’ dari WhatsApp grup investasi. Ketika nama Yusuf Mansur disebut, para pengkaji agama mungkin mengernyit: ini dakwah, atau proposal? Tetapi para jemaahnya, dengan senyum pasrah yang sulit dibedakan dari hipnosis kolektif, bertepuk tangan. Mereka tidak terganggu oleh laporan-laporan hukum yang menjerat ulah bisnis dai ini. Mereka tidak terusik oleh gugatan korban yang merasa kehilangan uang, kepercayaan, dan harga diri. Mata mereka buta bukan karena gelap—melainkan karena silau.
Silau oleh citra. Silau oleh jargon. Silau oleh sugesti ‘keajaiban sedekah’ yang terus diputar seperti iklan cashback.
Yang berhadapan dengan hukum bukan hanya sebuah nama, tetapi pola. Pola akhlak yang culas dalam muamalah, yang oleh para jemaahnya justru dipuja sebagai medan ujian iman. Ironisnya, ketika Islam berbicara tentang ujian, yang dimaksud adalah ujian ketaatan kepada Allah, bukan ujian mempertahankan orang yang bermasalah di pengadilan.
Jemaah ini buta. Tapi bukan buta aksara. Mereka buta empati—kehilangan kemampuan paling dasar seorang Muslim: merasakan kezaliman yang menimpa saudaranya. Korban-korban yang mengaku menjadi mangsa investasi sang dai tidak dipandang sebagai bukti realitas, melainkan aib yang harus disembunyikan. Mereka melihat uang hilang sebagai cobaan spiritual; bukan sebagai kemungkinan tindak penipuan.
Inilah tragedi dakwah modern: para pengikut bukan tidak melihat realita—mereka memilih untuk tidak mau melihatnya. Karena jika mereka mengaku tertipu, maka runtuhlah satu-satunya alasan mereka bertahan di lingkaran ini: mitos bahwa Yusuf Mansur adalah perantara rezeki.
Umat yang paham Islam mengukur dai dari akhlaknya. Dari amanahnya. Dari rekam jejak muamalahnya. Dari keberpihakannya pada korban, bukan pada kekuasaan mimbar. Tetapi umat di barisan jemaah ini mengukurnya dari hal yang tak pernah diajarkan Islam: janji return, piutang surga yang bisa dibeli, dan testimoni kekayaan.
Islam bukan ilmu yang ditelan. Islam adalah ilmu yang dicerna. Tapi jemaah Yusuf Mansur telah lama berhenti mencerna. Mereka menelan semuanya: dari motivasi, investasi, sampai pembenaran tanpa reserve.
Di negeri ini, seseorang bisa merugi dan tetap memuja yang merugikannya. Dan Yusuf Mansur, dengan segala drama doa dan bisnisnya, mungkin bukan penyebab utamanya. Ia hanya menemukan cerminnya: jemaah yang lebih mencintai ilusi rezeki ketimbang marwah amanah, dan lebih membela dai ketimbang membela korban.
Tapi publik mulai paham. Korban-korban itu bukan kurang Islam. Mereka justru sedang mengajarkan Islam kepada yang merasa paling Islami: bahwa kezaliman yang dibungkus ayat tetaplah kezaliman. Dan orang yang menutup mata terhadap korban, bukan sedang membela agama—melainkan sedang membela dirinya sendiri agar tidak terlihat sebagai orang yang tertipu.

























