Jakarta-Fusilatnews.–Banyak yang menanyakan kepada fusilat, berkaitan dengan tuitan Akbar Faizal 2 jam yang lalu yang isinya seperti ini “Breaking News; Koalisi PERUBAHAN telah berubah. Berubah komposisi partai dan bacapres-nya. Kita tunggu pengumumannya. Seru!!!
Bagi sebagian nitizen, terutama yang berharap betul sosok Anies Baswesdan, dapat membawa perubahan yang signifikan atas kehidupan berbangsa dan bernegara kedepan, yang kini dinilai sebagai semerawut itu, betapa kecewanya bila benar Anies batal menjadi Cawapres 24.
Tetapi bagi sebagian para pelaku politik dan regime yang sedang berkuasa, akan merasa terancam kehidupannya setelah Jokowi lengser dan pemerintahan beralih ke Anies Baswedan, seperti yang pernah disampaikan oleh Budi Arie Setiadi, “bila kalah mereka akan masuk penjara” . Bagi mereka Pilpres 24 adalah medan peperangan yang menentukan nasib hidup mereka. Point of no return.
Solusi perang secara diametral melawan Capres Anies Baswedan, walau diserang oleh berbagai lembaga survey, tetap tidak meyakinkah musuh/lawan Anies, bahwa posisinya selalu ada pada ketiga sekalipun. Ikhtiar lain kemudian santer bahkan menjadi highlight memasangkan Ganjar Pranowo dengan Anies Baswedan.
Tuitan Akbar Faizal diatas, juga membawa kemungkinan lain, analisis bila partai-partai perubahan, seperti yang ditulis oleh beliau, berubah komposisi partai dan sekaligus Bacapresnya, tidak mustahil. Tidak ada ikatan hukum bahkan moral sekalpiun diantara partai-partai koalisi itu, untuk terus maju bersama atau bubar jalan. Karena semua hanya ingin mengejar kekuasaan untuk kepentingan partai dan koalisinya. Persetan dengan apapun konsep Perubahan atau atau Melanjutkan.
Sementara Wacana hitung-hitungan duet Sandiaga Uno dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) muncul ke publik. Hal ini diungkap oleh pendukung yang juga sahabat Sandiaga, Miftah Sabri.
“Belakangan setelah melihat itu ada yang buat hitungan ternyata kalau PPP, Demokrat, PKS itu cukup almost (hampir) 21% (Presidential Threshold),” ujar Miftah di acara Adu Perspektif yang disiarkan detikcom berkolaborasi dengan Total Politik, Rabu (30/8/2023).
Wacana koalisi ini, terang Miftah, bisa menjadi opsi. Ia menyebut wacana ini bisa muncul karena bagi Demokrat, ketum mereka, Agus Harimurti Yudoyono (AHY) harus maju di Pilpres 2024.






















