FusilatNews – Di belahan dunia yang lain, ada seorang ayah yang memandangi anaknya bukan dengan pertanyaan, “Akan jadi apa dia ketika besar nanti?” melainkan dengan pertanyaan yang jauh lebih menyakitkan: “Berapa lama keluarga ini bisa bertahan hidup jika aku melepaskannya?”
Kalimat itu mungkin terdengar seperti adegan dalam novel tragedi. Tetapi bagi sebagian keluarga di Afghanistan, itu adalah kenyataan yang harus dihadapi. Di tengah kelaparan, kemiskinan, dan runtuhnya sumber penghidupan, sejumlah keluarga dikabarkan mempertimbangkan bahkan menjual anak-anak mereka demi memperoleh uang untuk membeli makanan, pengobatan, atau mempertahankan hidup anggota keluarga lainnya.
Mendengar berita seperti itu, reaksi pertama kebanyakan orang adalah marah. Bagaimana mungkin seorang ayah tega menjual darah dagingnya sendiri? Bagaimana hati seorang manusia bisa sedingin itu?
Tetapi mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa seorang ayah melakukan hal itu. Pertanyaannya adalah: dunia seperti apa yang mampu mendorong seorang ayah sampai berada pada titik paling gelap dalam hidupnya?
Tidak ada ayah yang sejak awal bercita-cita menjual anaknya. Seorang ayah pada dasarnya ingin melihat anaknya tumbuh, bersekolah, tertawa, berlari, dan kelak hidup lebih baik daripada dirinya. Seorang ayah rela menahan lapar agar anaknya makan lebih dulu. Ia rela bekerja di bawah terik matahari agar anaknya memiliki masa depan.
Namun kelaparan adalah musuh yang perlahan menggerogoti batas-batas kemanusiaan. Ketika hari demi hari berlalu tanpa makanan yang cukup, ketika pekerjaan tak kunjung ada, ketika anak-anak menangis karena lapar sementara tidak ada lagi yang bisa dimasak di dapur, pilihan hidup berubah menjadi sesuatu yang sangat kejam.
Di titik itu, pilihan bukan lagi antara benar atau salah. Pilihannya berubah menjadi: siapa yang harus bertahan hidup lebih dulu.
Yang paling menyayat hati, korban pertama dari setiap krisis hampir selalu anak-anak. Mereka tidak pernah memilih lahir di negeri yang dilanda konflik. Mereka tidak pernah memilih hidup dalam kemiskinan. Mereka tidak pernah meminta menjadi bagian dari statistik penderitaan dunia.
Tetapi merekalah yang kehilangan paling banyak.
Mereka kehilangan makanan, kehilangan pendidikan, kehilangan rasa aman, kehilangan masa kecil, dan pada akhirnya kehilangan hak paling mendasar sebagai manusia: hak untuk diperlakukan sebagai manusia.
Di zaman ketika manusia mampu menciptakan kecerdasan buatan, mengirim misi ke luar angkasa, membangun gedung-gedung yang menembus langit, dan menghabiskan triliunan uang untuk perlombaan teknologi, ironisnya masih ada anak-anak yang nasibnya dipertukarkan demi beberapa karung tepung atau beberapa lembar uang.
Ini bukan hanya tragedi satu negara. Ini bukan sekadar berita asing yang lewat di layar ponsel lalu hilang digantikan kabar lain. Ini adalah cermin besar yang dipasang di depan wajah dunia.
Sebab ukuran kemajuan manusia sesungguhnya tidak ditentukan oleh seberapa tinggi gedung yang dibangun atau seberapa canggih teknologi yang diciptakan. Ukurannya adalah apakah masih ada manusia yang dipaksa memilih antara membiarkan keluarganya mati kelaparan atau kehilangan anaknya.
Ketika seorang ayah mulai menghitung nilai anaknya dengan uang demi membeli roti, sesungguhnya yang sedang dijual bukan hanya seorang anak.
Yang sedang dilelang adalah martabat kemanusiaan kita bersama.
Catatan lain :
Dalam potongan laporan BBC yang beredar luas, nilai uangnya tidak disebutkan secara rinci dalam artikel Detik/BBC tersebut. Yang dikutip adalah pengakuan seorang ayah bahwa jika ia menjual satu anak perempuannya, uang itu diperkirakan dapat membuat keluarganya bertahan hidup selama beberapa tahun. (The Sun)
Namun dalam berbagai laporan terdahulu mengenai praktik serupa di Afghanistan, nilai transaksi yang pernah dilaporkan berada di kisaran US$850–US$2.000 (sekitar Rp14–33 juta, tergantung kurs). Nilainya bervariasi tergantung kesepakatan keluarga, kondisi ekonomi, usia anak, dan konteks seperti pernikahan paksa atau utang keluarga. (Wikipedia)
Penting dicatat bahwa angka tersebut bukan “harga pasar” yang baku, melainkan angka yang muncul dalam kasus-kasus individual yang dilaporkan media dan organisasi kemanusiaan. Menggunakan istilah “harga jual anak” juga berisiko menyederhanakan tragedi kemanusiaan ini menjadi sekadar transaksi ekonomi, padahal konteksnya adalah krisis kelaparan dan kehancuran ekonomi yang sangat parah. (Wikipedia)

























