Oleh: Redaktur Senior 01

Jakarta, Fusilatnews – Nyaris dapat dipastikan Anies Baswedan gagal melaju di Pilkada 2024 baik di Jakarta maupun provinsi lainnya. Pasalnya, hingga hari ini tak satu pun partai politik yang mau mengusung Gubernur DKI Jakarta 2017-2022 itu. PDI Perjuangan yang sempat santer disebut bakal mengusung Anies akhirnya batal.
Partai Banteng itu lebih memilih kadernya sendiri, Pramono Anung-Rano Karno untuk diajukan sebagai calon gubernur-wakil gubernur melawan pasangan Ridwan Kamil-Suswono yang telah lebih dulu diajukan Koalisi Jakarta Maju.
Ada sepasang calon lagi yang mau meramaikan Pilkada Jakarta 2024, yakni Dharma Pongrekun-Kun Wardana Abyoto yang maju dari jalur independen. Namun pasangan Kun-Kun ini tak masuk kalkulasi karena hanya “boneka” untuk mengantisipasi jika Ridwan Kamil-Suswono tak ada lawannya.
Lalu bagaimana peluang menang pasangan Pramono-Rano “head to head” melawan Ridwan-Suswono? “Tergantung dukungan Anies Baswedan ke mana. Anies-lah yang akan jadi penentu pemenang Pilkada Jakarta 2024,” kata Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI) di Jakarta, Rabu (28/8/2024).
Berdasarkan hasil survei berbagai lembaga, kata KSP panggilan akrabnya, Anies sejauh ini masih berada di puncak dengan angka di atas 20 persen, disusul Ridwan Kamil di peringkat kedua. “Elektabilitas Anies yang tinggi ini tak bisa dinafikan,” cetus KSP yang juga mantan Tenaga Ahli DPR.
Duel Pramono-Rano versus Ridwan-Suswono dinilai KSP akan berimbang. Ada sejmlah faktor yang menurut KSP membuat duel kedua pasangan itu berimbang.
Pertama, Pramono-Rano memang hanya diusung PDIP yang merupakan “runner up” Pemilu 2024 di Jakarta dengan hanya meraih 15 kursi di DPRD Jakarta. “Namun jangan lupa ada faktor Rano Karno pemeran utama sinetron “Si Doel Anak Sekolahan” yang identik dengan budaya dan masyarakat Betawi, penduduk asli Jakarta, sehingga tentu saja akan menarik dukungan etnis Betawi,” jelas KSP.
Kedua, kata KSP, Ridwan Kamil-Suswono memang diajukan Koalisi Jakarta Maju yang terdiri atas 12 parpol, yakni Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), yang selama ini tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang mendukung pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, plus Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang tergabung dalam Koalisi Perubahan yang mendukung pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar di Pilpres 2024, serta lima parpol non-parlemen, yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Perindo, Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Gelora dan Partai Garuda.
“Bahkan PKS merupakan jawara Pemilu 2024 di Jakarta dengan menguasai 18 kursi. Namun, jangan lupa banyak pengurus dan konstituen PKS yang kecewa partainya bergabung dengan KIM. Buktinya, 80-an anggota Dewan Pakar PKS ramai-ramai mundur. Mereka yang kecewa akan memilih Anies, apalagi selama ini banyak pendukung Anies di PKS. Karena Anies tak maju, maka dukungan akan diberikan kepada calon yang didukung Anies,” tukas KSP yang juga mantan calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Ketiga, kata KSP, seperti dalam pilpres, dalam kontestasi pilkada pun yang lebih menentukan adalah elektabilitas calon, bukan elektabilitas parpol. “Sosok Pramono-Rano tak kalah dengan Ridwan-Suswono. Suswono pernah jadi Menteri Pertanian melawan Pramono yang saat ini masih menjabat Menteri Sekretaris Kabinet. Keduanya juga sama-sama pernah jadi anggota DPR. Lalu Rano Karno yang pernah jadi Gubernur Banten melawan Ridwan Kamil yang pernah menjadi Gubernur Jawa Barat. Namun Rano saat ini sedang menjabat anggota DPR, dan sosok Si Doel sangat lekat di hati etnis Betawi,” urainya.
Keempat, lanjut KSP, ada preseden cagub-cawagub yang didukung sedikit parpol justru menang melawan calon yang didukung banyak parpol di Pilkada Jakarta. “Contohnya di Pilkada 2012 di mana Jokowi menang melawan Fauzi Bowo, dan di Pilkada 2017 Anies mengalahkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok,” terangnya.
Karena posisi kedua pasang calon berimbang, tegas KSP, maka dukungan Anies ke mana akan menjadi penentu kemenangan calon dimaksud.
Ditanya mengapa PDIP batal mengusung Anies Baswedan, apakah karena mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu tidak mau jadi kader? Apalagi PDIP sedang trauma karena Jokowi yang seorang kader pun bisa berkhianat, apalagi Anies yang bukan kader?
Menurut KSP, bukan karena Anies tak mau masuk PDIP. Buktinya, kata dia, Airin Rachmi Diany yang tak mau masuk PDIP pun tetap diajukan PDIP sebagai cagub Banten di Pilkada 2024 berpasangan dengan Ketua DPD PDIP Banten Ade Sumardi.
“Jika Anies jadi gubernur lagi, dia sangat potensial menang di Pilpres 2029. Kalau Anies maju maka peluang menang kader PDIP, termasuk Puan Maharani akan berat. Jadi, Anies ini ibarat anak macan. Banyak parpol tak mau memelihara anak macan. Faktor inilah yang menjadikan PDIP batal mengusung Anies di Pilkada 2024,” tandas KSP.
























