• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Aya Aya Wae

Apa Kata Kucing Bobby? Kamu Lebay

Ali Syarief by Ali Syarief
July 19, 2025
in Aya Aya Wae, Feature
0
Apa Kata Kucing Bobby? Kamu Lebay
Share on FacebookShare on Twitter

Di sebuah negeri bernama Republik Indonesia, seekor kucing mendadak naik kasta. Bukan karena ia bisa membaca Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau menganalisis geopolitik Laut Cina Selatan. Bukan. Ia cuma kucing biasa—berbulu halus, matanya teduh, dan, konon katanya, sangat jinak bila diajak berbicara soal perdamaian dunia.

Namanya Bobby.

Bobby bukan kucing kampung yang suka tidur di atas kap mobil orang lain atau mengais sisa sarden dari tong sampah. Ia bukan pula kucing salon yang bulunya wangi lavender dan disisir setiap sore. Bobby adalah kucingnya Pak Prabowo. Ya, Prabowo Subianto yang itu: Menhan, purnawirawan jenderal, dan presiden terpilih yang suka naik kuda dan menyukai ketertiban.

Bobby kemarin kedapatan naik kereta dorong bayi—baby cart istilah kerennya—dikelilingi polisi berseragam lengkap. Ada yang jalan di depan, ada yang di belakang, dan ada juga yang matanya awas menatap ke kiri-kanan, seolah Bobby ini target pembunuhan politik internasional.

Saya garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Apa-apaan ini?

Kita ini negara yang gemar memelihara simbolisme. Dari presiden sampai kepala desa, semua ingin tampak elok, agung, wah. Tapi ketika seekor kucing naik kereta bayi dan dikawal seperti kepala negara yang sedang menghadiri KTT G7, ini bukan lagi elok. Ini lebay. Kalau kata anak-anak muda, ini “cringe”.

Apakah ini kehendak Pak Prabowo? Rasanya tidak. Saya percaya, nalar beliau masih utuh. Prabowo yang dikenal keras kepada dirinya sendiri dan tak segan menegur anak buah yang keliru, saya kira tidak akan menginginkan kucing kesayangannya dijadikan semacam ikon negara.

Tapi barangkali di sinilah masalahnya: kita punya terlalu banyak orang di sekeliling kekuasaan yang ingin “menyenangkan hati atasan” dengan cara-cara berlebihan. Membuat-buat gesture agar tampak loyal, agar dilihat, agar kelak, siapa tahu, diberi jabatan. Kita pernah lihat yang seperti ini. Dulu Bung Karno pernah jengkel karena pegawai istana terlalu sibuk membersihkan kursi kosong sebelum Presiden duduk. “Saya ini bukan dewa,” kata Bung Karno.

Dan Prabowo bukan Pharaoh yang kucingnya dianggap titisan Dewa Bastet. Ini cuma Bobby, kucing biasa yang sayangnya luar biasa karena terlalu diperlakukan seperti VIP oleh orang-orang yang ingin tampil paling berbakti.

Ada yang bilang ini cuma hal sepele. Lha, iya, memang sepele. Tapi justru di situlah bahayanya. Kita ini terlalu sering mengabaikan hal-hal kecil yang mengindikasikan penyakit besar. Kalau aparat negara bisa seenaknya memperlakukan seekor kucing dengan pengawalan bak pejabat, siapa yang menjamin mereka tak keliru menempatkan prioritas dalam hal-hal yang jauh lebih penting?

Negara ini perlu belajar membedakan mana yang pantas dan mana yang berlebihan. Menjaga presiden, oke. Mengawal jalannya demokrasi, bagus. Tapi mengerahkan polisi untuk menjaga kucing? Itu sudah masuk wilayah parodi.

Mungkin ini saatnya Bobby menulis surat terbuka:

“Wahai para pengawal, biarkan aku hidup seperti kucing biasa. Aku ingin mencium rerumputan tanpa diawasi, mengejar kupu-kupu tanpa protokol, dan tidur siang tanpa dikawal Brimob. Tolong jaga tuanku, bukan aku.”

Dan kepada aparat yang terlalu ingin disayang, cobalah pelihara akal sehat dulu sebelum memelihara ambisi. Jangan sampai demi menyenangkan satu orang, kalian mempermalukan nama baiknya di depan seluruh negeri. Karena dalam sejarah republik ini, terlalu banyak tokoh besar yang akhirnya tampak konyol bukan karena dirinya, tapi karena orang-orang di sekelilingnya.

Mari kita jaga republik ini—jangan sampai ia berubah jadi taman bermain bagi para pencari muka.

Dan untuk Bobby: meongmu terlalu mahal, bung.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Republik Ngaco: Hukum Tumpul ke Ijazah, Tajam ke Mubahalah

Next Post

PSI Gelar Kongres Dua Hari di Solo, Dihadiri Prabowo, Gibran, dan Jokowi

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Jokowi – PSI Ingin Menjadi 3 Besar Pada Pemilu 2029
Feature

Jokowi – PSI Ingin Menjadi 3 Besar Pada Pemilu 2029

July 22, 2026
Prabowo Copot Kepala BGN Dadan Hindayana, Naniek Deyang Penggantinya
Feature

Teka-teki Mundurnya Nanik S Deyang

July 22, 2026
Feature

 Ketika Tata Kelola Menjadi Benteng Kepercayaan (Perspektif GRC, COSO ERM, dan GIAS 2024 dalam Menjaga Marwah Lembaga Penegak Hukum)

July 22, 2026
Next Post
PSI Gelar Kongres Dua Hari di Solo, Dihadiri Prabowo, Gibran, dan Jokowi

PSI Gelar Kongres Dua Hari di Solo, Dihadiri Prabowo, Gibran, dan Jokowi

Kepo Jokowi di Pilkada 2024

PSI dan Politik Dinasti: Menjaga Demokrasi dari Jeratan Keluarga Kekuasaan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?
Feature

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

by Karyudi Sutajah Putra
July 11, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Akhirnya, Febrie Adriansyah berhasil diamputasi. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak...

Read more
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

July 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
SETARA Institute Desak Perlindungan Konstitusional bagi Jemaat Ahmadiyah

Militerisasi Pengawasan Pajak Dinilai Inkonstitusional, Setara Institute: Negara Tak Boleh Menakut-nakuti Wajib Pajak

July 22, 2026
Jokowi – PSI Ingin Menjadi 3 Besar Pada Pemilu 2029

Jokowi – PSI Ingin Menjadi 3 Besar Pada Pemilu 2029

July 22, 2026
Prabowo Resmi Lantik Sudaryono sebagai Kepala BGN, Siap Percepat Program Makan Bergizi Gratis

Prabowo Resmi Lantik Sudaryono sebagai Kepala BGN, Siap Percepat Program Makan Bergizi Gratis

July 22, 2026
Prabowo Copot Kepala BGN Dadan Hindayana, Naniek Deyang Penggantinya

Teka-teki Mundurnya Nanik S Deyang

July 22, 2026
Mengapa Kepala BGN Nanik S. Deyang Mundur?

Mengapa Kepala BGN Nanik S. Deyang Mundur?

July 22, 2026

 Ketika Tata Kelola Menjadi Benteng Kepercayaan (Perspektif GRC, COSO ERM, dan GIAS 2024 dalam Menjaga Marwah Lembaga Penegak Hukum)

July 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

SETARA Institute Desak Perlindungan Konstitusional bagi Jemaat Ahmadiyah

Militerisasi Pengawasan Pajak Dinilai Inkonstitusional, Setara Institute: Negara Tak Boleh Menakut-nakuti Wajib Pajak

July 22, 2026
Jokowi – PSI Ingin Menjadi 3 Besar Pada Pemilu 2029

Jokowi – PSI Ingin Menjadi 3 Besar Pada Pemilu 2029

July 22, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...