Di sebuah negeri bernama Republik Indonesia, seekor kucing mendadak naik kasta. Bukan karena ia bisa membaca Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau menganalisis geopolitik Laut Cina Selatan. Bukan. Ia cuma kucing biasa—berbulu halus, matanya teduh, dan, konon katanya, sangat jinak bila diajak berbicara soal perdamaian dunia.
Namanya Bobby.
Bobby bukan kucing kampung yang suka tidur di atas kap mobil orang lain atau mengais sisa sarden dari tong sampah. Ia bukan pula kucing salon yang bulunya wangi lavender dan disisir setiap sore. Bobby adalah kucingnya Pak Prabowo. Ya, Prabowo Subianto yang itu: Menhan, purnawirawan jenderal, dan presiden terpilih yang suka naik kuda dan menyukai ketertiban.
Bobby kemarin kedapatan naik kereta dorong bayi—baby cart istilah kerennya—dikelilingi polisi berseragam lengkap. Ada yang jalan di depan, ada yang di belakang, dan ada juga yang matanya awas menatap ke kiri-kanan, seolah Bobby ini target pembunuhan politik internasional.
Saya garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Apa-apaan ini?
Kita ini negara yang gemar memelihara simbolisme. Dari presiden sampai kepala desa, semua ingin tampak elok, agung, wah. Tapi ketika seekor kucing naik kereta bayi dan dikawal seperti kepala negara yang sedang menghadiri KTT G7, ini bukan lagi elok. Ini lebay. Kalau kata anak-anak muda, ini “cringe”.
Apakah ini kehendak Pak Prabowo? Rasanya tidak. Saya percaya, nalar beliau masih utuh. Prabowo yang dikenal keras kepada dirinya sendiri dan tak segan menegur anak buah yang keliru, saya kira tidak akan menginginkan kucing kesayangannya dijadikan semacam ikon negara.
Tapi barangkali di sinilah masalahnya: kita punya terlalu banyak orang di sekeliling kekuasaan yang ingin “menyenangkan hati atasan” dengan cara-cara berlebihan. Membuat-buat gesture agar tampak loyal, agar dilihat, agar kelak, siapa tahu, diberi jabatan. Kita pernah lihat yang seperti ini. Dulu Bung Karno pernah jengkel karena pegawai istana terlalu sibuk membersihkan kursi kosong sebelum Presiden duduk. “Saya ini bukan dewa,” kata Bung Karno.
Dan Prabowo bukan Pharaoh yang kucingnya dianggap titisan Dewa Bastet. Ini cuma Bobby, kucing biasa yang sayangnya luar biasa karena terlalu diperlakukan seperti VIP oleh orang-orang yang ingin tampil paling berbakti.
Ada yang bilang ini cuma hal sepele. Lha, iya, memang sepele. Tapi justru di situlah bahayanya. Kita ini terlalu sering mengabaikan hal-hal kecil yang mengindikasikan penyakit besar. Kalau aparat negara bisa seenaknya memperlakukan seekor kucing dengan pengawalan bak pejabat, siapa yang menjamin mereka tak keliru menempatkan prioritas dalam hal-hal yang jauh lebih penting?
Negara ini perlu belajar membedakan mana yang pantas dan mana yang berlebihan. Menjaga presiden, oke. Mengawal jalannya demokrasi, bagus. Tapi mengerahkan polisi untuk menjaga kucing? Itu sudah masuk wilayah parodi.
Mungkin ini saatnya Bobby menulis surat terbuka:
“Wahai para pengawal, biarkan aku hidup seperti kucing biasa. Aku ingin mencium rerumputan tanpa diawasi, mengejar kupu-kupu tanpa protokol, dan tidur siang tanpa dikawal Brimob. Tolong jaga tuanku, bukan aku.”
Dan kepada aparat yang terlalu ingin disayang, cobalah pelihara akal sehat dulu sebelum memelihara ambisi. Jangan sampai demi menyenangkan satu orang, kalian mempermalukan nama baiknya di depan seluruh negeri. Karena dalam sejarah republik ini, terlalu banyak tokoh besar yang akhirnya tampak konyol bukan karena dirinya, tapi karena orang-orang di sekelilingnya.
Mari kita jaga republik ini—jangan sampai ia berubah jadi taman bermain bagi para pencari muka.
Dan untuk Bobby: meongmu terlalu mahal, bung.























