• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Aya Aya Wae

Republik Ngaco: Hukum Tumpul ke Ijazah, Tajam ke Mubahalah

Ali Syarief by Ali Syarief
July 19, 2025
in Aya Aya Wae, Feature
0
Republik Ngaco: Hukum Tumpul ke Ijazah, Tajam ke Mubahalah
Share on FacebookShare on Twitter

Di negeri yang katanya “berketuhanan”, kita bisa menyaksikan bagaimana logika dan akal sehat sering diberangus dengan senyum manis para pejabat. Ini negeri yang sakti mandraguna: bukan hanya bisa mencetak utang tanpa malu, tapi juga bisa menghukum orang karena berkata benar terlalu cepat, atau karena terlalu percaya pada kebenaran.

Ambil contoh Bung Bambang Tri Mulyono — lelaki nekad, bandel, dan mungkin sedikit keras kepala, yang nekad menerbitkan buku berjudul “Jokowi Undercover”. Buku ini bukan sembarang tulisan. Ia bukan roman picisan. Ia adalah hasil investigasi rakyat biasa, yang berusaha membongkar identitas pemimpinnya. Sebuah upaya literasi beraroma nekat, yang dalam demokrasi sehat mestinya dilawan dengan… ya benar, data dan klarifikasi, bukan dengan jeruji besi!

Tapi inilah Indonesia, sodara-sodara.
Alih-alih bukti dibalas dengan bukti, argumen dijawab dengan argumen, negara malah mengirim Bambang ke sel. Bukan sekali, tapi dua kali. Barangkali hukum kita menganut paham “double espresso justice” — biar makin greget, makin kuat efek jera-nya.

Yang bikin miris, dari tahun ke tahun, ijazah asli sang presiden tak pernah sekalipun muncul di pengadilan. Bahkan mesin fotokopi pun tampaknya sudah muak disuruh memperbanyak ijazah yang tak pernah ada wujudnya itu. Kita hidup di era digital, tapi untuk melihat selembar ijazah, negara ini lebih pelit dari ibu kos yang baru ditinggal lulus.

Lalu datanglah Gusnur — tokoh nyentrik nan nyerempet-nyerempet maut. Beliau tidak menulis buku, tidak juga demo sambil bawa toa. Cuma “mubahalah” ke Bambang — istilah Arab untuk tantangan sumpah laknat kalau bohong. Eh, malah disikat masuk penjara. Sumpah pun kini dianggap makar. Barangkali sebentar lagi rakyat dilarang mengucap “astagfirullah” karena dianggap menghina moral elite.

Tapi jangan lupa juga kisah dramatis Habib Rizieq Shihab alias HRS, sang orator ulung. Ketika beliau pulang dari Arab Saudi, publik bersorak. Tapi tak lama berselang, beliau ditahan. Tuduhannya? Bukan makar. Bukan korupsi. Tapi karena… mengaku sehat. Iya, sodara-sodara. Di negeri ini, menyatakan diri sehat bisa dipenjara. Sehat harus pakai izin negara. Sakit aja kalau perlu disahkan notaris.

Dan yang terakhir, seperti krim di atas kue busuk, ada Thomas Lembong, eks pejabat dan ekonom Harvard-an, yang tiba-tiba divonis 4,5 tahun. Tapi anehnya, jaksa tidak menemukan Tom memperkaya diri. Bayangkan. Bayangkan kita disuruh percaya bahwa seseorang bisa dipenjara karena tidak korupsi, tidak memperkaya diri, dan tidak menyalahgunakan jabatan.

Itu sama anehnya dengan menghukum orang karena tidak mencuri dompet yang dia temukan di jalan. Satu-satunya penjelasan logis yang tersisa barangkali begini: hukum kita kini pakai logika sinetron. Siapa yang menangis paling keras, dia yang benar. Siapa yang senyum dikit — pasti bersalah!


Kini kita semua hidup dalam negara yang sedang mabuk pertunjukan. Kebenaran tak lagi harus dibuktikan. Cukup diskenariokan. Jaksa tak perlu mencari fakta, cukup melihat arah politik. Hakim tak perlu menimbang rasa keadilan, cukup meraba angin kekuasaan.

Begitulah negara kita, sobat sebangsa.
Negara yang bisa membiarkan ijazah presiden tenggelam lebih dalam dari kapal selam, tapi bisa dengan sigap menyergap rakyat kecil karena terlalu kritis. Negara di mana Gus bisa dipenjara karena berdoa, dan ekonom Harvard dihukum karena… tidak terbukti bersalah?

Mungkin kita memang bukan lagi negara hukum. Tapi negara “hukuman” — yang digunakan bukan untuk menegakkan keadilan, tapi untuk menegakkan kekuasaan.

Dan satu hal lagi: jangan pernah terlalu sehat di negeri ini. Atau bisa-bisa Anda ditangkap karena tak demam di musim politik yang panas.

Tertawalah, sebelum tertangkap!


Dengan senang hati! Berikut puisi utuh yang disusun dari kesepuluh judul tersebut — ditulis dalam gaya satir, tajam dan menggigit, ala Mahbub Djunaidi yang suka menggoda kenyataan dengan tawa getir:


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tulsi Gabbard: “Washington Tak Berdaulat, Kita Tunduk pada Tel Aviv”

Next Post

Apa Kata Kucing Bobby? Kamu Lebay

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

​Pembuktian Mens Rea: Abu-Abu, Pelik, tapi Pangkal Keadilan

April 19, 2026
Negeri Para Jongos
Feature

Seberapa Pentingkah Teddy Wijaya Bagi Bangsa Ini?

April 19, 2026
JK dan Keris Mpu Gandring
Feature

JK dan Keris Mpu Gandring

April 19, 2026
Next Post
Apa Kata Kucing Bobby? Kamu Lebay

Apa Kata Kucing Bobby? Kamu Lebay

PSI Gelar Kongres Dua Hari di Solo, Dihadiri Prabowo, Gibran, dan Jokowi

PSI Gelar Kongres Dua Hari di Solo, Dihadiri Prabowo, Gibran, dan Jokowi

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia
News

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

by fusilat
April 17, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Awal minggu ini beredar sejumlah laporan media internasional yang mengungkap adanya upaya Amerika Serikat (AS) untuk memperoleh akses...

Read more
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

​Pembuktian Mens Rea: Abu-Abu, Pelik, tapi Pangkal Keadilan

April 19, 2026
Negeri Para Jongos

Seberapa Pentingkah Teddy Wijaya Bagi Bangsa Ini?

April 19, 2026
JK dan Keris Mpu Gandring

JK dan Keris Mpu Gandring

April 19, 2026
Ekonomi Lesu: Ketika Mahasiswa Menjadi Indikator Krisis yang Diabaikan

Ekonomi Lesu: Ketika Mahasiswa Menjadi Indikator Krisis yang Diabaikan

April 19, 2026
Pertamax Bakal Naik Jadi Rp16.000 per Liter? Ini Penjelasan Pertamina

Daftar Lengkap Harga BBM se-Indonesia per 18 April 2026!

April 19, 2026

Manajemen Waktu: Ketika Hidup Tidak Lagi Sekadar Pembagian Waktu, Tapi Dimaknai Arah Hidup

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

​Pembuktian Mens Rea: Abu-Abu, Pelik, tapi Pangkal Keadilan

April 19, 2026
Negeri Para Jongos

Seberapa Pentingkah Teddy Wijaya Bagi Bangsa Ini?

April 19, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...