Washington D.C., 19 Juli 2025 — Mantan anggota Kongres Amerika Serikat, Tulsi Gabbard, kembali memantik kontroversi setelah melontarkan pernyataan tajam terkait dominasi Israel dalam politik dalam negeri Amerika. Dalam sebuah pernyataan publik yang viral di media sosial, Gabbard mengatakan bahwa kebijakan di Washington banyak ditentukan oleh kepentingan Tel Aviv, bukan oleh rakyat Amerika sendiri.
“Saya akan mengatakan kebenaran yang sedikit orang berani katakan: Kita tidak mengendalikan Washington… kita tunduk pada Tel Aviv. Israel menentukan apa yang dibahas di Kongres, siapa yang diberikan mikrofon, dan siapa yang dipaksa untuk tetap diam,” ujar Gabbard.
Pernyataan itu sontak memicu reaksi dari berbagai pihak, baik dari kalangan pendukung kebijakan pro-Israel maupun mereka yang selama ini mengkritisi pengaruh kuat lobi Israel terhadap pemerintahan Amerika Serikat.
Sosok Kontroversial di Panggung Politik
Tulsi Gabbard, mantan anggota DPR AS dari Partai Demokrat yang kini bergabung dengan Partai Republik, dikenal sebagai sosok yang kerap mengambil sikap berbeda dari arus utama politik di Washington. Ia menjabat sebagai anggota Kongres dari Hawaii pada periode 2013–2021, dan pernah mencalonkan diri sebagai kandidat presiden dalam Pemilu 2020.
Pada Februari 2025, Gabbard dilantik sebagai Direktur Intelijen Nasional (DNI) dalam pemerintahan Presiden Donald Trump. Penunjukannya menandai pergeseran tajam dalam arah kebijakan intelijen AS, dengan fokus pada depolitisasi lembaga intelijen dan pendekatan nasionalis dalam kebijakan luar negeri.
Pernyataan yang Memantik Ketegangan
Pernyataan Gabbard soal dominasi Israel di Kongres AS muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait konflik Israel-Palestina dan ancaman nuklir Iran. Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Trump dan Gabbard sebagai DNI telah meningkatkan retorika keras terhadap Iran, bahkan menyebut Teheran bisa mengembangkan senjata nuklir dalam waktu “minggu hingga bulan.”
Namun kali ini, Gabbard mengarahkan kritiknya ke dalam negeri—menyentil relasi erat antara elite politik AS dan Israel yang menurutnya telah melampaui batas kewajaran.
“Siapa yang bisa berbicara dan siapa yang dibungkam di Kongres bukan ditentukan oleh rakyat, tapi oleh mereka yang berkepentingan di luar negeri,” ujar Gabbard dalam pernyataan lanjutan.
Respons dan Kecaman
Sejumlah anggota Kongres dan organisasi pro-Israel mengecam keras pernyataan tersebut. Senator Demokrat Mark Warner menyebut pernyataan Gabbard “tidak bertanggung jawab dan berbahaya,” sementara beberapa analis menilai Gabbard tengah memainkan politik identitas untuk mendulang dukungan dari kelompok anti-establishment dan nasionalis.
Namun di sisi lain, Gabbard juga mendapat dukungan dari kalangan progresif dan kritikus kebijakan luar negeri AS yang selama ini menyoroti besarnya peran lobi seperti AIPAC dalam menentukan arah kebijakan luar negeri Amerika.
Konklusi
Tulsi Gabbard bukan sosok baru dalam dunia kontroversi politik Amerika. Namun pernyataannya kali ini menyorot salah satu isu paling sensitif dalam politik AS: sejauh mana kedaulatan kebijakan luar negeri AS benar-benar berada di tangan rakyat, bukan negara lain. Di tengah polarisasi politik yang semakin tajam, Gabbard sekali lagi menjadi figur yang memperluas batas diskusi publik, meski tak jarang melawan arus.

























