• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Crime

Asap yang Mengendap di Paru, Negara yang Diam: Ketika Uji Coba Motah Berubah Menjadi Kejahatan Lingkungan Tanpa Pelaku

Ali Syarief by Ali Syarief
December 6, 2025
in Crime, Feature, Lingkungan Hidup
0
Asap yang Mengendap di Paru, Negara yang Diam: Ketika Uji Coba Motah Berubah Menjadi Kejahatan Lingkungan Tanpa Pelaku

Posisi di RT 01/01 Kelurahan Isola, Kecamatan Sukasari - Kota bandung

Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Hari ini rumah kecil saya seharusnya menyambut lima puluh tamu—para mantan pegawai Kanwil Deppen RI Jawa Barat—dan di antara mereka ada seorang tokoh yang pernah menjabat sebagai Menteri pada era Presiden Gus Dur. Sebuah kehormatan besar, momentum yang saya siapkan dengan penuh penghargaan.

Tetapi semua itu luluh lantak ketika rumah saya berubah menjadi arena serbuan lalat. Mereka datang dari segala arah, menempati setiap sudut: dapur, ruang tamu, kamar, hingga teras. Tidak ada yang lebih memalukan daripada menyambut tamu penting ketika rumah sedang dikerubungi “pasukan hitam” ini, keluh warga

Dan saya tahu persis dari mana semua ini bermula: uji coba motah yang dilakukan di RT kami—uji coba yang disebut-sebut sebagai inovasi, tetapi lebih mirip kekeliruan yang dipaksakan. Bau busuk, lalat, dan keresahan ini bukan sekadar gangguan domestik; ini adalah alarm keras dari sebuah praktik yang tidak layak diteruskan.


Uji Coba yang Tak Perlu Dilanjutkan

Ratusan ribu lalat – sumber penyakit

Ada setidaknya empat alasan mendasar mengapa uji coba ini harus dihentikan:

Pertama, pembakaran limbah plastik selama satu minggu penuh telah mencemari udara yang kami hirup. Asap putih keabu-abuan itu tidak hanya membuat kepala berat dan tenggorokan panas; ia membawa zat berbahaya—dioksin, furan, benzena, dan partikel PM2.5—racun yang dikenal sebagai pemicu kanker dan kerusakan saraf.

Kedua, lokasi uji coba kini berubah menjadi tempat pembuangan dari wilayah lain. Lingkungan kami diperlakukan seolah-olah tak bertuan, tak berdaya, layak menjadi tempat eksperimen limbah.

Ketiga, aktivitas ini sama sekali tidak memiliki izin bangunan, tidak menjalani uji emisi, tidak memiliki AMDAL, tidak memenuhi standar keselamatan, dan tidak memiliki dasar legal apa pun.

Keempat, uji coba ini menciptakan pro–kontra yang tajam di masyarakat. Warga terbelah, sebagian ketakutan, sebagian lainnya pasrah. Padahal, proyek yang benar tidak boleh membagi masyarakat; ia seharusnya memberikan rasa aman.

Dan sebagai puncaknya: seorang Kepala Sekolah Dasar di sekitar lokasi mengeluhkan bahwa murid-muridnya terkena ISPA. Pemeriksaan medis menunjukkan penyebabnya jelas—asap pembakaran plastik dari lokasi uji coba. Anak-anak, yang seharusnya berlari bebas, justru menghirup racun setiap hari.


Ketika Kejahatan Lingkungan Tidak Memiliki Pelaku

Apa yang kami alami di kampung ini bukan kisah tunggal. Indonesia telah berkali-kali dihadapkan pada tragedi serupa.

Di Sindang Jaya, Tangerang, tahun 2025, lebih dari 3.600 warga jatuh sakit akibat pembakaran plastik di lapak daur ulang ilegal. Abu pekat mengandung merkuri dan timbal ditemukan di lingkungan permukiman. Pemerintah menutup lokasi itu—tetapi setelah ribuan paru-paru telanjur tercemar.

Di Tropodo dan Bangun, Sidoarjo, telur ayam kampung tercemar dioksin puluhan kali di atas ambang aman. Bahkan ada warga yang mengalami beberapa kali keguguran.

Pemerintah turun tangan—tetapi selalu terlambat. Seperti biasa, polisi datang setelah racun mengendap di darah warga, bukan sebelum.

Pembakaran plastik adalah kejahatan lingkungan yang merayap pelan: tidak meledak seperti bom, tidak menampakkan korban seketika. Ia hanya mengepulkan asap tipis setiap sore, menghilang bersama angin, lalu menanam penyakit bertahun-tahun kemudian. Dan karena penyakitnya samar, pelakunya pun sering luput dari jeratan hukum.


Hukum Ada, Tetapi Tidak Turun ke Tanah

Undang-Undang 32/2009 sebenarnya tegas: pembakaran sampah yang menimbulkan pencemaran adalah tindak pidana dengan ancaman penjara hingga 10 tahun. Perda di banyak daerah juga melarang pembakaran sampah terbuka.

Namun hukum kita sering berhenti sebagai pajangan.

Aparat menganggapnya persoalan sepele. Warga enggan melapor karena tak yakin akan ditindak. Pemerintah daerah memilih menunda hingga masalahnya membesar.

Negara berada di tempat yang salah: hanya sigap setelah kerusakan terjadi, bukan saat ia bisa dicegah.


Ketika Racun Tidak Tercatat, Negara Menghilang

ISPA dicatat sebagai ISPA. Kanker sebagai kanker. Keguguran sebagai keguguran.

Tidak ada tanda bintang kecil yang menulis: “Kemungkinan akibat paparan asap plastik.” Karena itu, hubungan sebab–akibat jarang ditelusuri. Korban tidak dihitung, pelaku tidak diadili, dan kasus dianggap selesai.

Inilah celah yang membuat pembakaran plastik terus hidup—di desa-desa, di kampung-kampung, bahkan kini di lingkungan kami melalui label “uji coba motah”.


Yang Tersisa Hanya Warga

Meski begitu, tidak semuanya gelap. Banyak warga mulai bergerak: mengukur kualitas udara, memotret asap, mengumpulkan bukti, hingga membuat laporan resmi. Di beberapa daerah, tekanan warga memaksa pemerintah menutup lapak-lapak ilegal dan melakukan pemeriksaan kesehatan massal.

Warga, bukan negara, yang menjadi penjaga pertama.

Namun ini bukan tugas yang adil. Negara seharusnya berdiri paling depan untuk melindungi warganya, bukan justru menunggu warga sakit terlebih dahulu.


Penutup: Seberapa Lama Kita Akan Membiarkan Racun Ini Mengepul?

Rumah saya yang diserbu lalat hanyalah gejala kecil dari persoalan besar. Ia adalah penanda bahwa ada yang jauh lebih berbahaya sedang terjadi: pencemaran udara, kelalaian pemerintah, dan normalisasi kejahatan lingkungan.

Asap plastik memang hilang ditiup angin, tetapi racunnya mengendap di paru-paru manusia. Dan selama uji coba seperti ini dibiarkan berjalan tanpa izin, tanpa pengawasan, tanpa pertanggungjawaban, kita sedang membiarkan masa depan diracuni sedikit demi sedikit.

Pertanyaannya kini sederhana:

Sampai kapan kita membiarkan asap ini mengepul tanpa ada satu pun yang diadili?

Sampai berapa banyak lagi anak harus terkena ISPA sebelum negara benar-benar bangun?

Dan sebelum semuanya terlambat, uji coba motah ini harus dihentikan sekarang juga.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Cak Imin : Bahlil – Juli, Mundurlah

Next Post

Pecat Bupati Aceh Selatan Sekarang Juga!

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi
Feature

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai
Feature

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026
Sempat Dihentikan, MOTAH 65 Kembali Membakar Sampah
Layanan Publik

Sempat Dihentikan, MOTAH 65 Kembali Membakar Sampah

February 13, 2026
Next Post
Pecat Bupati Aceh Selatan Sekarang Juga!

Pecat Bupati Aceh Selatan Sekarang Juga!

Ketika Pemimpin Menjadi Perusak: Deforestasi dan Pertanggungjawaban di Hadapan Tuhan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute
Bisnis

10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute

by Karyudi Sutajah Putra
February 12, 2026
0

Jakarta-Fusilatnews - Bisnis dan hak asasi manusia (HAM) adalah seperangkat prinsip yang berfokus pada tanggung jawab pelaku usaha untuk menegakkan...

Read more
Kuorum Tak Terpenuhi, DPR Tunda Paripurna Pengesahan RUU Pilkada

Habis KPK, Terbitlah MK: Dilemahkan!

February 7, 2026
Akankah Gibran Ancam Bunuh Prabowo Seperti di Filipina?

Ketika Prabowo Menantang Gibran Bertarung di 2029

February 7, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

February 13, 2026
Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026
Fenomena Langka Abad Ini: Gerhana Matahari Terpanjang Akan Mengubah Siang Menjadi Malam

Fenomena Langka Abad Ini: Gerhana Matahari Terpanjang Akan Mengubah Siang Menjadi Malam

February 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...