FusilatNews -Tahun ini adalah kali ke-31 saya menginjakkan kaki di Jepang. Mungkin bagi sebagian orang, jumlah itu terdengar tak masuk akal untuk kunjungan ke negara yang sama. Tapi bagi saya, Jepang bukan lagi sekadar destinasi wisata. Ia telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya—sebuah tempat yang kini terasa seperti rumah kedua, bukan sekadar tempat pelesiran biasa.
Saya memang pernah mengunjungi Gunung Fuji yang megah, menikmati suasana religius di Asakusa, dan tertawa lepas di Tokyo Disneyland. Tempat-tempat itu ikonik, wajib dikunjungi, dan penuh kesan. Tapi percayalah, sekali saja cukup. Daya tarik sejati Jepang bukan terletak pada tempat-tempat itu semata. Yang membuat saya selalu ingin kembali adalah sesuatu yang jauh lebih dalam: manusia-manusianya.
Setiap kunjungan saya ke Jepang adalah bagian dari program lintas budaya yang saya jalani bersama Cross Culture Institute. Ini bukan paket wisata biasa. Ini adalah pengalaman yang menyentuh hati. Kami tinggal bersama keluarga Jepang. Tidur di rumah mereka, bangun bersama, berbagi sarapan, bercerita, bahkan kadang menangis dan tertawa bersama. Sebuah kedekatan yang tidak bisa dibeli oleh tiket pesawat atau harga hotel berbintang.
Di sanalah saya menemukan keluarga baru—orang-orang Jepang yang memperlakukan saya bukan sebagai tamu, tapi sebagai bagian dari kehidupan mereka. Ada pula sahabat-sahabat Jepang baru yang tak segan menyapa, mengajak berdiskusi tentang budaya, sejarah, atau sekadar bercanda ringan di atas tatami sambil menyeruput teh hijau.
Kegiatan kami pun tak hanya bersifat formal. Kami belajar budaya Jepang secara lebih mendalam, dari upacara minum teh hingga cara menyusun bento yang penuh estetika. Kami mendalami filosofi di balik kesederhanaan mereka, memahami kenapa orang Jepang begitu disiplin, tepat waktu, dan menghargai ruang. Tapi semua itu dilakukan sambil tertawa, berjalan bersama, memasak bareng, atau menyusun ikebana di ruang tamu.
Menariknya, tak pernah sekalipun saya merasa terhalang oleh bahasa. Walaupun saya bukan penutur asli bahasa Jepang, dan mereka pun kadang terbata-bata dalam bahasa Inggris, komunikasi berjalan dengan begitu hangat dan alami. Bahasa tubuh, senyum, dan niat tulus jauh lebih ampuh daripada sekadar kosakata.
Begitu pula dengan perbedaan budaya. Apa yang sering dianggap sebagai “cultural gap” oleh banyak orang, justru menjadi jembatan untuk saling memahami. Di Jepang, saya belajar bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk menjauh, tapi justru kesempatan untuk memperluas hati dan pikiran.
Itulah mengapa saya terus kembali. Bukan karena Jepang indah—itu sudah pasti. Tapi karena di sana, saya merasa diterima. Di sana, saya merasa tumbuh. Dan di sana, saya merasa bahwa dunia ini, betapapun beragamnya, bisa terasa sangat akrab dan hangat.
Saya tidak sekadar melancong. Saya pulang.






















