FusilatNews – Di tengah gemuruh kemenangan dan parade kekuasaan, sang Jenderal berdiri gagah. Di pundaknya tergantung bintang-bintang kehormatan, dan di sekelilingnya pasukan baris berbaris dengan langkah pasti. Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang tak pernah diajukan.
Ia tak pernah bertanya, “Berapa jumlah guru yang masih tersisa?”
Seperti Kaisar Hirohito dalam cerita sejarah yang penuh makna, yang tak peduli pada berapa banyak tentara yang selamat dari perang, melainkan mencari tahu—dengan suara bergetar—siapa guru yang masih bisa menyelamatkan masa depan bangsanya. Karena ia tahu, kekuatan sejati bukan di laras senjata, tetapi di buku yang terbuka. Bukan di derap pasukan, tapi di kata-kata yang diajarkan dengan hati.
Tapi, hari ini kita menyaksikan sesuatu yang berbeda. Sang Jenderal kita justru berlomba membangun citra kekuatan, memborong alutsista, memajang tank, pesawat, dan senapan, seolah-olah bangsa ini kekurangan perang. Ia berbicara tentang kejayaan, tentang martabat bangsa yang katanya harus diperjuangkan dengan tangan besi—padahal, ironisnya, di sudut-sudut negeri, anak-anak masih belajar tanpa kursi, guru honorer masih mengais harapan dengan gaji seadanya.
Tak pernah terdengar sang Jenderal berkata, “Kita jatuh bukan karena kekurangan prajurit gagah berani, tapi karena kita berhenti belajar.” Kalimat semacam itu terlalu halus untuk bibir yang terbiasa berseru dan bersumpah setia pada doktrin kekuasaan.
Ia lupa, atau mungkin sengaja melupakan, bahwa bangsa yang tak memuliakan guru akan melahirkan generasi yang mudah dipimpin, tapi sulit berpikir. Mudah disuruh, tapi tidak mampu merdeka secara batin.
Kini, ketika ia duduk di puncak kekuasaan, mendampingi takhta tertinggi, kita pun bertanya—bukan lagi tentang ketangguhan pasukan, melainkan:
“Berapa banyak sekolah rusak yang tak pernah ia kunjungi?”
“Berapa guru desa yang tak pernah ia sebut namanya?”
“Berapa buku yang ia perjuangkan di tengah gempita proyek strategis nasional?”
Di masa depan, sejarah akan mencatat bukan seberapa banyak bendera yang ia kibarkan di medan perang yang tak ada, tapi seberapa besar upaya yang ia abaikan untuk mendidik bangsanya sendiri.
Dan mungkin, seperti Kaisar dalam kisah itu, suara rakyat suatu hari akan menggema di lorong-lorong istana:
“Negeri ini tidak runtuh karena kekurangan jenderal, tapi karena kehilangan guru.”






















