Oleh: Optic Macca
Ada sebuah kisah di mana seseorang dari sebuah kelompok merasa bangga—ya, bangga—karena diadili bersama para pejuang. Di antara mereka, dua adalah perempuan—atau lebih tepatnya, ibu-ibu—namun berpemikiran intelektual, objektif, dan proporsional dalam bertindak. Tuduhan? Hanya karena lisannya menyebut “Si Muka Badak.” Dan siapa dia?
Si Muka Badak, simbol kekuasaan yang murka, memperalat hukum seperti mainan bocah yang kehilangan akal sehat. Ia lawan dengan segala sumber daya negara—meski publik sudah bosan melihat serial “Pembelaan Telanjang” yang selalu memuakkan, namun terus diputar ulang seperti sinetron murahan.
Kami dua belas orang. Ya, celaka dua belas. Lalu siapa yang akan menjadi “celaka tiga belas”? Apakah akan muncul satu lagi jiwa heroik dari 270 juta penduduk negeri ini? Ataukah semuanya telah dibungkam, dibeli, atau dibutakan?
Kami tidak malu. Bahkan kami bangga. Nama dan wajah kami akan tercatat sebagai segelintir tokoh historis yang berdiri di tengah noktah perjuangan bangsa. Melawan kedurjanaan satu dekade “pemimpin ijazah oplosan”—sosok yang tak segan melanggar hukum, mencampakkan etika, dan memperkosa adab demi kekuasaan.
Ia sarapan kebohongan seperti makan nasi goreng pagi hari, lalu lahap legitimasi palsu untuk makan siang dan makan malam. Yang membuat kami lebih muak lagi, Si Muka Badak didukung oleh barisan intelektual cap tumbila—mereka yang mengklaim kehormatan lewat simbol-simbol, tapi justru menginjaknya dengan sepatu mengkilat yang dibeli dari najis uang kekuasaan. Lambang kehormatan yang seharusnya dipundak, kini tergeletak di kaki mereka yang kekenyangan.
Kami pernah menyaksikan sendiri dua orang pejuang sebelum kami dianiaya—diterjang oleh komplotan bandit berjubah hukum, yang dipimpin oleh seorang “Abu Hikam Modern”—sang Bapak Kebodohan, yang menjual akal sehat demi pangkat dan jabatan.
Dan kini, yang mereka alami di tahun 2022, dengan vonis pada 2023, telah menjadi kenyataan bagi kami. Raja bandit itu masih tertawa jumawa, dikelilingi begundal-begundalnya, meski koreng murka alam mulai menggerogoti tubuh dan jiwanya. Tapi apa peduli mereka? Yang penting pesta terus jalan, hukum dijadikan komoditas, dan keadilan diperjualbelikan seperti barang obralan.
Ya Rabb, bila kami tak pantas meminta, izinkan kami menitip doa: gendonglah dosa-dosa kami di pundak mereka, mereka dan keluarga mereka yang turut berpesta di atas derita keadilan.
Tuhan yang Maha Mulia, adili mereka kelak dalam sidang pengadilan akhirat. Biarlah kesaksian kami dan keluarga kami—yang mereka injak, tindas, dan sakiti—menjadi saksi bisu yang menggema dalam kesunyian malam dan doa yang tak pernah putus.
Tahukah kalian hakekat kemarahan kami? Ini bukan sekadar emosi. Ini adalah nalar sehat yang tidak pernah kami gadaikan, apalagi kami jual. Sementara mereka—para tumbila dan cacing tanah—mengira kami para pejuang terkencing di celana. Sungguh, mereka keliru besar.
Kami garang. Kami menunggu, kapan arena para Dorna digelar. Karena dalam hukum alam, berjuang bisa mati, tapi tidak berjuang pasti mati.
Maka kami pilih: cari mati yang terbaik.
Dan kalau sampai berkalang tanah, kami akan tetap bertakbir.
Allahu Akbar!
























