Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Sambil mengenakan jaket bergambar logo baru Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Joko Widodo, Jumat (18/7/2025) di kediamannya, Solo, Jawa Tengah, dengan bangga menyatakan, “Ini keren!”
Ini pertanda bahwa Presiden ke-7 RI itu sudah merasa “at home” (di rumah sendiri) terhadap PSI yang Sabtu-Minggu (19-20/7/2025) ini menggelar kongres di Solo.
Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi nyaris dipastikan terpilih kembali menjadi ketua umum melalui pemungutan suara “one man one vote” (satu anggota satu suara) secara daring atau online.
Logo baru PSI itu sendiri berupa gambar gajah dengan kepala berwarna merah dan tubuh berwarna hitam, dengan posisi kepala agak mendongak, menggantikan logo lama berupa bunga mawar putih berlatar merah.
Gajah adalah salah satu binatang terbesar di dunia, yang lebih besar daripada banteng, misalnya. Banteng adalah binatang yang selama ini menjadi logo Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Ditilik dari jejak politik Jokowi yang pernah berkonflik dengan PDIP, karena dirinya dan anak sulungnya, Gibran Rakabuming Raka dipecat dari partai politik yang dinahkodai Megawati Soekarnoputri ini gegara pecah kongsi di Pemilihan Presiden 2024, maka pemilihan gajah sebagai logo baru PSI kiranya tak berlebihan jika dikatakan untuk menandingi PDIP.
Lantas, kapan banteng menyeruduk gajah?
Kapan saja boleh. Tapi puncaknya adalah pada Pemilu 2029. Keduanya akan bertarung memperebutkan suara dari ceruk yang sama: nasionalis!
Sebenarnya bukan banteng yang akan menyeruduk gajah dengan tanduknya, melainkan gajah yang akan menyerang dengan belalai dan gadingnya, bahkan dengan kakinya untuk menginjak.
Sebab, PDIP adalah juara bertahan Pemilu 2024. Bahkan hat-trick atau juara tiga kali berturut-turut, yakni 2014, 2019 dan 2024. Bahkan pada Pemilu 1999 atau pemilu perdana sejak era Reformasi, PDIP juga menang.
Sebaliknya, dua kali ikut pemilu, PSI selalu menjadi partai gurem yang gagal melangkah ke Senayan. Pada Pemilu 2019, perolehan suara PSI hanya 1,8 persen. Pada Pemilu 2024, saat PSI dipimpin Kaesang, perolehan suara PSI cuma naik 1 persen atau menjadi 2,8 persen.
Maka jika benar PSI akan menjadikan PDIP sebagai target serangannya, tentu patut diapresiasi. Sebab, nyalinya cukup besar: partai gurem berani menantang juara bertahan.
Lantas, bagaimana peluang gajah (PSI) menaklukkan banteng (PDIP)? Atau setidaknya gajah menggerogoti suara banteng?
Peluangnya masih relatif kecil. Dengan dukungan penuh Jokowi, PSI memang bisa membesar. Tapi sepertinya sulit menggeser atau mengalahkan PDIP di Pemilu 2029. Mengapa?
PDIP sudah banyak diuji oleh tokoh-tokoh utamanya yang hengkang dan kemudian mendirikan partai politik baru.
Sebut saja Dimyati Hartono yang keluar dan mendirikan Partai Indonesia Tanah Air Kita (PITA).
Lalu Erros Djarot yang keluar dan mendirikan Partai Nasionalis Banteng Kemerdekaan (PNBK).
Kemudian Laksamana Sukardi, Roy BB Janis, Arifin Panigoro, Noviantika Nasution dkk yang mendirikan Partai Demokrasi Pembaruan (PDP).
Namun, mereka semua gagal melawan PDIP. Mereka tak mampu menggerogoti suara PDIP. Bahkan mereka gagal melangkah ke Senayan. Mengapa?
Pertama, karena pemilih PDIP adalah pemilih loyal yang setia kepada Bung Karno dan Megawati.
Kedua, kaderisasi di PDIP sudah cukup mapan.
Ketiga, PDIP semacam mendapatkan bola muntah dari pemerintah yang sudah tidak dipercaya rakyat, seperti pada 1999 dan 2014.
Dus, sulit bagi gajah untuk menginjak kepala banteng. Justru gajah yang akan diseruduk banteng. Kita tunggu saja tanggal mainnya.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)























