Fusilatnews – Ada berita lucu datang dari langit-langit republik ini. Seorang tokoh penting, sosok yang selama ini dikenal sebagai penceramah pembangunan, ikon retorika dan dewa perencanaan nasional—mendadak absen dari pentas. Bukan karena jatuh dari sepeda, bukan juga tersesat di proyek Ibu Kota baru. Kata ajudannya, beliau alergi cuaca.
Lho? Baru pulang dari Vatikan, katanya. Tempat suci, tempat orang datang membawa doa dan pulang membawa damai. Tapi yang satu ini, pulang-pulang bawa kurap. Kulitnya katanya “gatal-gatal”, merah-merah seperti papan suara di TPS waktu kalah telak.
“Fisiknya sehat, hanya kulitnya yang bermasalah,” ujar ajudan, dengan wajah datar dan suara setengah yakin. Persis seperti juru bicara kereta api yang bilang penumpang overcapacity itu hanya ‘antusiasme publik’.
Di titik ini, rakyat mulai curiga. Bukan karena kurapnya, tapi karena kejujuran yang makin hari makin langka di republik ini. Netizen—makhluk imajiner yang lebih tajam dari silet dan lebih konsisten dari partai koalisi—mulai buka-bukaan. Ada yang bilang itu bukan alergi, tapi akumulasi dosa yang keluar lewat pori-pori. Ada pula yang dengan sok tahu menyimpulkan: “Itu bukan penyakit, tapi makeup artist-nya lagi mabuk waktu dandanin!”
Lucunya, sang dokter pribadi tak muncul sepatah kata pun. Padahal biasanya beliau ini rajin sekali tampil di media, bahkan kadang lebih sering muncul ketimbang pasiennya sendiri. Apa mungkin sang dokter juga sedang alergi? Alergi terhadap tanggung jawab, barangkali. Atau, alergi terhadap diagnosis yang jujur.
Tentu kita tak bisa sembarang menuduh. Tapi jika seseorang dikenal lebih sering menyulam kebohongan ketimbang menyisir kebenaran, lalu tiba-tiba mukanya kuarapan, masyarakat yang waras pasti mengaitkan dua hal itu. Bukankah tubuh sering membocorkan rahasia yang disembunyikan oleh naskah pidato?
Kini wajahnya lenyap dari panggung. Poster-poster digitalnya sunyi. Tidak ada lagi senyum tipis penuh kalkulasi, tidak ada lagi sapaan palsu penuh strategi. Yang ada hanya tanda tanya, yang mengambang seperti kabut pagi di Senayan: apakah ini penyakit kulit biasa, atau tanda alam bahwa topeng sudah terlalu lama menempel di wajah?
Dan, Bung, di negeri yang penuh pencitraan ini, terkadang kurapan adalah satu-satunya hal yang jujur.
























