• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Biji yang Terlempar di Tanah yang Kering

Secupilk Kisah Willy Abdullah Fujiwara

Ali Syarief by Ali Syarief
November 13, 2025
in Feature, Tokoh/Figur
0
Biji yang Terlempar di Tanah yang Kering
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Sore itu, di sebuah sudut Bintaro yang teduh, saya berbincang dengan H. Willy Abdullah Fujiwara di beranda rumahnya di Discovery Residence Fiore. Udara terasa lembut, dan suasana taman di sekitarnya seperti menyimpan cerita panjang tentang perjalanan hidup yang tak biasa.

Dengan senyum tenang dan tatapan yang dalam, Pak Willy membuka kisahnya dengan kalimat yang pelan tapi sarat makna.
“Hidup saya,” ujarnya, “ibarat sebuah biji yang dilempar ke tanah tandus nan kering kerontang. Tapi, Alhamdulillah, tanah kering itu akhirnya melahirkan buah yang manis.”

Kalimat itu terasa seperti kunci yang membuka perjalanan panjang hidupnya—sebuah perjalanan dari kerasnya perjuangan menuju manisnya ketenangan batin.


Akar dari Tanah Kering

Pak Willy lahir pada 25 November 1945 di Desa Gogagoman, Kotamobagu, Sulawesi Utara, dari darah campuran Indonesia–Jepang. Masa kecilnya jauh dari kemewahan. Di tanah yang keras itu, hidup tidak menawarkan banyak pilihan selain bertahan. Namun dari situlah daya juangnya tumbuh: seperti akar kecil yang menembus tanah berbatu, mencari air kehidupan.

Pada tahun 1969, di usia muda, ia memutuskan untuk berangkat ke Jepang. Bukan untuk mengejar karier, melainkan untuk mencari ayah kandungnya, Fujiwara, yang lama hilang dari hidupnya. Sebuah perjalanan spiritual sekaligus emosional—pencarian identitas yang menembus batas negeri dan darah. Dua tahun kemudian, pada 1971, pencarian itu berbuah haru. Ia akhirnya dipertemukan dengan sang ayah dan keluarga besarnya di Kyoto.

Pertemuan itu menjadi akar dari babak baru kehidupannya. Sejak saat itu, hidupnya tak lagi sekadar tentang mencari asal, tapi tentang membangun makna dari pertemuan dua budaya: disiplin Jepang dan kehangatan Indonesia.


Bertunas dalam Disiplin dan Kerja Keras

Salah satu buah karya perjuangannya

Antara 1971 hingga 1976, Willy menempuh pelatihan kerja di Honda Factory — di Saitama, Sayama, dan Suzuka Mei Ken. Dari pabrik yang berdetak dengan ritme mesin itulah ia belajar satu hal penting: bahwa kerja keras bukan sekadar kewajiban, tapi bentuk penghormatan pada hidup itu sendiri.

Setelah masa pelatihan, ia kembali ke Indonesia dan bergabung dengan Federal Motor, Sunter, Jakarta Utara — perusahaan gabungan Honda–Astra International. Di sana, etos kerja Jepang yang ia serap berpadu dengan semangat Indonesia yang penuh daya tahan. Kariernya kemudian berlanjut ke Appolo Steel, hingga akhirnya ia menapaki jalan wirausaha dengan mendirikan usaha konstruksi dan rumah kos di kawasan Kedoya, Jakarta Barat.

Tanah yang dulu tandus kini mulai subur. Ia menanam dengan keringatnya sendiri dan menuai dengan rasa syukur.


Ranting yang Meneduhi Orang Lain

Bukan hanya pekerja keras, Willy juga dikenal sebagai sosok yang peduli pada pendidikan dan kemanusiaan. Pada 1987, ia memprakarsai pendirian Yayasan Perguruan Tinggi Kotamobagu (YPTK) — cikal bakal Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK) yang kini memiliki delapan program studi. Ia menyerahkan yayasan itu kepada pemerintah daerah, sebagai bukti bahwa pengabdiannya tak berhenti pada dirinya sendiri.

Masih di tahun yang sama, ia turut membantu mendirikan Yayasan Warga Persahabatan (YWP) Indonesia–Jepang, wadah yang menjembatani mantan tentara Jepang yang pernah menetap di Indonesia. Melalui peran itu, ia menganyam kembali hubungan dua bangsa yang pernah berseberangan di medan sejarah, menjadi jembatan persaudaraan yang tulus.

Pada 1989, ia bergabung dengan Persatuan Alumni dari Jepang (Persada), mengelola program student exchange antara Indonesia dan Jepang, membuka jalan bagi anak-anak muda untuk menimba ilmu dan kerja di Negeri Sakura. Dua dekade kemudian, pada 2009, ia mendirikan Lembaga Kursus Bahasa Jepang Mie Gakuen di Tebet, Jakarta Selatan, dan Yayasan Nikkei Mandiri Sejahtera pada 2019, yang memfasilitasi anak-anak keturunan Jepang bekerja di pabrik dan panti jompo di Jepang.

Dalam setiap langkahnya, Willy selalu menjadi jembatan—antara dua bangsa, dua generasi, dua nilai.


Buah Kehidupan yang Manis

Kini, di usia 80 tahun, Willy menjalani hidup dengan tenang bersama sang istri, Nancy Mokodongan, yang setia mendampinginya sejak awal perjalanan. Namun Ibu Nancy, lebih menemui sang Kholik beberapa tahun yang silam. Dari pernikahan itu, lahir empat anak: dua putra dan dua putri—semuanya telah menyelesaikan pendidikan tinggi, bahkan satu di antaranya meraih gelar magister (S2) di Universitas Kokushikan, Jepang.

Anak-anaknya kini mandiri, berkarier di berbagai bidang—sebagian menjadi pengusaha, sebagian lagi mengabdi sebagai ASN. Bagi Willy, itulah buah paling manis dari tanah kehidupan yang dulu tandus: generasi yang tumbuh lebih kuat, lebih berdaya, dan lebih berpendidikan.


Menjadi Pohon yang Meneduhkan

Kini hari-harinya diisi dengan ibadah, mengurus masjid, dan mempererat silaturahmi. Ia telah menunaikan ibadah haji dan umrah, bahkan menjalani Haji Akbar tahun 1991, serta berziarah ke tiga masjid suci sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Dalam setiap perjalanan spiritualnya, ia belajar bahwa hidup yang baik adalah hidup yang dipenuhi rasa syukur dan pengabdian.

“Hidup bukan tentang berapa banyak yang kita miliki,” katanya dengan senyum damai, “tetapi tentang seberapa tulus kita memberi.”

Di usia senjanya, ia adalah pohon rindang yang tumbuh dari tanah kering—memberi keteduhan bagi siapa pun yang singgah, menyebar benih nilai kepada generasi berikutnya.

Dan di bawah cahaya sore Bintaro yang keemasan, kisah hidupnya mengalir seperti nasihat yang tak lekang oleh waktu:
bahwa bahkan dari tanah paling keras pun, bila dirawat dengan iman, kerja keras, dan cinta, akan tumbuh kehidupan yang manis.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Fiksioner: Cikal Kaum Bavarian di Negeri Konoha

Next Post

DHL: JPU Jangan Biarkan Asas Hukum Menjadi Tak Berguna di Negeri Ini

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Ketika Pernikahan dan Kematian Datang Bersamaan – Ujian Paling Sunyi Seorang Anak

March 5, 2026
Eric Trump: Pewaris Senyap di Bayang Imperium Ayahnya
Feature

Segitiga Geopolitik: Amerika–Israel, Iran, dan Indonesia yang Kehilangan Daya Tawar

March 5, 2026
Memulai Agama dari Akal Waras
Feature

Menanti Pencerahan Nuzulul Qur’an: Saatnya Al-Qur’an Ditafsirkan oleh Para Ilmuwan

March 5, 2026
Next Post
Hasto Testimonium De Aiditu  “Anies Dikriminalisasi, Beranikah Melawan Kedzaliman?”

DHL: JPU Jangan Biarkan Asas Hukum Menjadi Tak Berguna di Negeri Ini

BURUAN SAE: Dari Pekarangan ke Kedaulatan Pangan Kota

BURUAN SAE: Dari Pekarangan ke Kedaulatan Pangan Kota

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Jokowi-Aguan Punya Hidden Agenda dalam PSN PIK 2 untuk Kuasai Aset Negara Secara Ilegal
News

Bohong Soal Usul Inisiatif, Jokowi Punya Agenda Terselubung Bunuh KPK, Petrus Beber Fakta-faktanya

by Karyudi Sutajah Putra
March 1, 2026
0

Jakarta-Fusilatnews - Pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo bahwa dirinya setuju dengan pernyataan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham...

Read more
Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian

Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian

February 25, 2026
Hitam-Putih Wajah Prabowo

Hitam-Putih Wajah Prabowo

February 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Ketika Pernikahan dan Kematian Datang Bersamaan – Ujian Paling Sunyi Seorang Anak

March 5, 2026
DPP PSII Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei

DPP PSII Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei

March 5, 2026
Eric Trump: Pewaris Senyap di Bayang Imperium Ayahnya

Segitiga Geopolitik: Amerika–Israel, Iran, dan Indonesia yang Kehilangan Daya Tawar

March 5, 2026
Memulai Agama dari Akal Waras

Menanti Pencerahan Nuzulul Qur’an: Saatnya Al-Qur’an Ditafsirkan oleh Para Ilmuwan

March 5, 2026
Istana Mendadak Penuh Nasihat: Prabowo Dengar Kritik Jokowi, SBY hingga JK di Tengah Gejolak Timur Tengah

Istana Mendadak Penuh Nasihat: Prabowo Dengar Kritik Jokowi, SBY hingga JK di Tengah Gejolak Timur Tengah

March 5, 2026
Hujan Disertai Angin Kencang Terjang Bandung, Belasan Pohon Tumbang di Sejumlah Titik

Hujan Disertai Angin Kencang Terjang Bandung, Belasan Pohon Tumbang di Sejumlah Titik

March 5, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Pernikahan dan Kematian Datang Bersamaan – Ujian Paling Sunyi Seorang Anak

March 5, 2026
DPP PSII Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei

DPP PSII Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei

March 5, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...