Fusilatnews – Sore itu, di sebuah sudut Bintaro yang teduh, saya berbincang dengan H. Willy Abdullah Fujiwara di beranda rumahnya di Discovery Residence Fiore. Udara terasa lembut, dan suasana taman di sekitarnya seperti menyimpan cerita panjang tentang perjalanan hidup yang tak biasa.
Dengan senyum tenang dan tatapan yang dalam, Pak Willy membuka kisahnya dengan kalimat yang pelan tapi sarat makna.
“Hidup saya,” ujarnya, “ibarat sebuah biji yang dilempar ke tanah tandus nan kering kerontang. Tapi, Alhamdulillah, tanah kering itu akhirnya melahirkan buah yang manis.”
Kalimat itu terasa seperti kunci yang membuka perjalanan panjang hidupnya—sebuah perjalanan dari kerasnya perjuangan menuju manisnya ketenangan batin.
Akar dari Tanah Kering
Pak Willy lahir pada 25 November 1945 di Desa Gogagoman, Kotamobagu, Sulawesi Utara, dari darah campuran Indonesia–Jepang. Masa kecilnya jauh dari kemewahan. Di tanah yang keras itu, hidup tidak menawarkan banyak pilihan selain bertahan. Namun dari situlah daya juangnya tumbuh: seperti akar kecil yang menembus tanah berbatu, mencari air kehidupan.
Pada tahun 1969, di usia muda, ia memutuskan untuk berangkat ke Jepang. Bukan untuk mengejar karier, melainkan untuk mencari ayah kandungnya, Fujiwara, yang lama hilang dari hidupnya. Sebuah perjalanan spiritual sekaligus emosional—pencarian identitas yang menembus batas negeri dan darah. Dua tahun kemudian, pada 1971, pencarian itu berbuah haru. Ia akhirnya dipertemukan dengan sang ayah dan keluarga besarnya di Kyoto.
Pertemuan itu menjadi akar dari babak baru kehidupannya. Sejak saat itu, hidupnya tak lagi sekadar tentang mencari asal, tapi tentang membangun makna dari pertemuan dua budaya: disiplin Jepang dan kehangatan Indonesia.
Bertunas dalam Disiplin dan Kerja Keras

Antara 1971 hingga 1976, Willy menempuh pelatihan kerja di Honda Factory — di Saitama, Sayama, dan Suzuka Mei Ken. Dari pabrik yang berdetak dengan ritme mesin itulah ia belajar satu hal penting: bahwa kerja keras bukan sekadar kewajiban, tapi bentuk penghormatan pada hidup itu sendiri.
Setelah masa pelatihan, ia kembali ke Indonesia dan bergabung dengan Federal Motor, Sunter, Jakarta Utara — perusahaan gabungan Honda–Astra International. Di sana, etos kerja Jepang yang ia serap berpadu dengan semangat Indonesia yang penuh daya tahan. Kariernya kemudian berlanjut ke Appolo Steel, hingga akhirnya ia menapaki jalan wirausaha dengan mendirikan usaha konstruksi dan rumah kos di kawasan Kedoya, Jakarta Barat.
Tanah yang dulu tandus kini mulai subur. Ia menanam dengan keringatnya sendiri dan menuai dengan rasa syukur.
Ranting yang Meneduhi Orang Lain
Bukan hanya pekerja keras, Willy juga dikenal sebagai sosok yang peduli pada pendidikan dan kemanusiaan. Pada 1987, ia memprakarsai pendirian Yayasan Perguruan Tinggi Kotamobagu (YPTK) — cikal bakal Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK) yang kini memiliki delapan program studi. Ia menyerahkan yayasan itu kepada pemerintah daerah, sebagai bukti bahwa pengabdiannya tak berhenti pada dirinya sendiri.
Masih di tahun yang sama, ia turut membantu mendirikan Yayasan Warga Persahabatan (YWP) Indonesia–Jepang, wadah yang menjembatani mantan tentara Jepang yang pernah menetap di Indonesia. Melalui peran itu, ia menganyam kembali hubungan dua bangsa yang pernah berseberangan di medan sejarah, menjadi jembatan persaudaraan yang tulus.
Pada 1989, ia bergabung dengan Persatuan Alumni dari Jepang (Persada), mengelola program student exchange antara Indonesia dan Jepang, membuka jalan bagi anak-anak muda untuk menimba ilmu dan kerja di Negeri Sakura. Dua dekade kemudian, pada 2009, ia mendirikan Lembaga Kursus Bahasa Jepang Mie Gakuen di Tebet, Jakarta Selatan, dan Yayasan Nikkei Mandiri Sejahtera pada 2019, yang memfasilitasi anak-anak keturunan Jepang bekerja di pabrik dan panti jompo di Jepang.
Dalam setiap langkahnya, Willy selalu menjadi jembatan—antara dua bangsa, dua generasi, dua nilai.
Buah Kehidupan yang Manis
Kini, di usia 80 tahun, Willy menjalani hidup dengan tenang bersama sang istri, Nancy Mokodongan, yang setia mendampinginya sejak awal perjalanan. Namun Ibu Nancy, lebih menemui sang Kholik beberapa tahun yang silam. Dari pernikahan itu, lahir empat anak: dua putra dan dua putri—semuanya telah menyelesaikan pendidikan tinggi, bahkan satu di antaranya meraih gelar magister (S2) di Universitas Kokushikan, Jepang.
Anak-anaknya kini mandiri, berkarier di berbagai bidang—sebagian menjadi pengusaha, sebagian lagi mengabdi sebagai ASN. Bagi Willy, itulah buah paling manis dari tanah kehidupan yang dulu tandus: generasi yang tumbuh lebih kuat, lebih berdaya, dan lebih berpendidikan.
Menjadi Pohon yang Meneduhkan
Kini hari-harinya diisi dengan ibadah, mengurus masjid, dan mempererat silaturahmi. Ia telah menunaikan ibadah haji dan umrah, bahkan menjalani Haji Akbar tahun 1991, serta berziarah ke tiga masjid suci sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Dalam setiap perjalanan spiritualnya, ia belajar bahwa hidup yang baik adalah hidup yang dipenuhi rasa syukur dan pengabdian.
“Hidup bukan tentang berapa banyak yang kita miliki,” katanya dengan senyum damai, “tetapi tentang seberapa tulus kita memberi.”
Di usia senjanya, ia adalah pohon rindang yang tumbuh dari tanah kering—memberi keteduhan bagi siapa pun yang singgah, menyebar benih nilai kepada generasi berikutnya.
Dan di bawah cahaya sore Bintaro yang keemasan, kisah hidupnya mengalir seperti nasihat yang tak lekang oleh waktu:
bahwa bahkan dari tanah paling keras pun, bila dirawat dengan iman, kerja keras, dan cinta, akan tumbuh kehidupan yang manis.
























