• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Bila Jokowi Punya Ijazah Asli, Tidak Perlu Gerombolan Termul

Ali Syarief by Ali Syarief
November 21, 2025
in Feature, Tokoh/Figur
0
Bila Jokowi Punya Ijazah Asli, Tidak Perlu Gerombolan Termul
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Di negara yang mestinya lebih sibuk membangun peradaban, kadang justru kita diseret untuk membahas perkara yang mestinya selesai di meja administrasi: ijazah Presiden Joko Widodo. Persoalan yang semula tampak sepele ini berubah menjadi drama nasional, lengkap dengan episode gugatan, bantahan, dan duel narasi yang tak kunjung tamat. Dan seperti banyak hal lain di era Jokowi, masalah sederhana tiba-tiba membutuhkan termul—terstruktur, masif, dan lucu.

Sebab begini: bila Jokowi punya ijazah asli, seluruh kisruh ini tak perlu ada. Tak perlu pengacara berjajar. Tak perlu buzzer berjibaku. Tak perlu pula negara hadir sedemikian tegang seolah ijazah itu dokumen rahasia negara. Cukup tunjukkan, selesai. Tapi justru karena yang sederhana tidak dilakukan, bangsa ini dipaksa masuk ke ruang gelap yang penuh tanda tanya.

Di era digital ketika sertifikat tanah bisa diunduh dari ponsel, ijazah seorang presiden justru terasa seperti manuskrip kuno yang hilang di perpustakaan Kolosal Atlantis. Ada—tapi tak bisa dilihat. Asli—tapi tak bisa disentuh. Resmi—namun tak pernah benar-benar ditunjukkan.

Pemerintah memilih jalur defensif, seolah merasa bahwa mempertanyakan ijazah adalah bentuk penghinaan besar terhadap negara. Padahal logikanya sederhana: pejabat publik tidak boleh alergi terhadap pertanyaan publik. Bukan soal percaya atau tidak percaya. Ini soal hak warga negara mengecek integritas pemimpinnya. Bahkan di negara paling demokratis sekalipun, dokumen pribadi pemimpin—termasuk pendidikan—adalah konsumsi publik. Bukan bahan misteri.

Namun misteri justru dipelihara. Dan di sinilah kelucuan itu muncul. Narasi dibangun begitu rapi, seolah-olah mempertanyakan ijazah adalah bentuk makar. Setiap perdebatan direduksi menjadi perang loyalitas. Para pendukung bersikap seperti pengawal kerajaan yang siap memenggal siapa pun yang bertanya. Sementara pemerintah berdiri sebagai institusi yang justru menambah kabut, bukan mengusirnya.

Padahal, seperti orang bijak berkata: yang asli tidak perlu pembelaan, yang palsu tidak akan tertolong oleh pembelaan.

Fenomena ini menyisakan tanda tanya yang lebih menakutkan daripada soal ijazah itu sendiri: mengapa negara tampak begitu panik? Ketika negara begitu sibuk menyangkal, biasanya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang ingin ditutupi.

Di sinilah rakyat mulai menimbang-nimbang; adakah persoalan keabsahan, atau hanya keengganan? Adakah sesuatu yang hilang, atau sesuatu yang dibuat-buat? Dalam demokrasi sehat, pertanyaan begini mestinya mudah dijawab. Tapi dalam demokrasi yang mulai lekat dengan aroma feodalisme, bertanya bisa dianggap dosa.

Betapa ironisnya. Presiden yang sering tampil merakyat justru meninggalkan warisan komunikasi yang elitis—jauh dari semangat transparansi. Ketika rakyat meminta penjelasan, yang turun justru aparat dan pasal. Ketika publik mencari kejelasan, yang hadir malah konfrontasi. Demokrasi kita, yang dulu tumbuh di jalanan dengan teriakan reformasi, kini terduduk kikuk di pojok ruangan menunggu izin untuk bertanya.


Akhirnya, persoalan ijazah ini tidak lagi sekadar dokumen pendidikan. Ia telah berubah menjadi simbol tentang bagaimana kekuasaan merawat keraguan. Bahwa ketika kebenaran mudah sebenarnya bisa dihadirkan, tetapi tidak dilakukan, maka rakyat berhak menduga-duga. Dan ketika rakyat mulai menduga-duga, negara tidak boleh marah.

Sebab bila memang ijazah itu asli, tak perlu termul. Tak perlu gempita. Tak perlu drama hukum. Tunjukkan saja.

Selebihnya, biar sejarah yang menilai siapa sebenarnya yang sedang melucu di panggung republik.


Jika Anda ingin versi yang lebih keras, lebih satir, atau lebih panjang, saya bisa revisi sesuai keinginan Anda.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Skandal Ijazah Jokowi dan Diamnya Negara

Next Post

Jokowi ‘Istirahat 2 Tahun’: Bisa Hadir ke Rumah Sakit, Tapi Tak Bisa Hadir ke Pengadilan?

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Simalakama Teddy Wijaya
Feature

Yang Terusir dan Mengusir

July 14, 2026
Negara yang Kehilangan Kompas
Birokrasi

Negara yang Kehilangan Kompas

July 14, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?
Birokrasi

Kejaksaan Dilumpuhkan!

July 14, 2026
Next Post
Jokowi Sudah Kehilangan Nalar Sehatnya

Jokowi ‘Istirahat 2 Tahun’: Bisa Hadir ke Rumah Sakit, Tapi Tak Bisa Hadir ke Pengadilan?

Bersih-bersih Geng Solo: Kapolri Diganti?

Jokowi Kebal Hukum? Analisis Kritis atas Impunitas Politik di Indonesia Pasca-2024

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?
Feature

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

by Karyudi Sutajah Putra
July 11, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Akhirnya, Febrie Adriansyah berhasil diamputasi. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak...

Read more
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

July 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Simalakama Teddy Wijaya

Yang Terusir dan Mengusir

July 14, 2026
Negara yang Kehilangan Kompas

Negara yang Kehilangan Kompas

July 14, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Kejaksaan Dilumpuhkan!

July 14, 2026

Menjaga Marwah Penegakan Hukum di Persimpangan Independensi (Kasus Jampidsus, Kepentingan Menjaga Kepercayaan Publik)

July 14, 2026
Dari Bangku Kuliah ke Ruang Redaksi: Mahasiswa Universitas Pancasakti Belajar Langsung “Dapur” Produksi Berita di Harian Fajar

Dari Bangku Kuliah ke Ruang Redaksi: Mahasiswa Universitas Pancasakti Belajar Langsung “Dapur” Produksi Berita di Harian Fajar

July 14, 2026
Beredar Surat Diduga dari Kejaksaan Agung, Instruksikan Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Beredar Surat Diduga dari Kejaksaan Agung, Instruksikan Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

July 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Simalakama Teddy Wijaya

Yang Terusir dan Mengusir

July 14, 2026
Negara yang Kehilangan Kompas

Negara yang Kehilangan Kompas

July 14, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist