• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Bisa Membaca, Tapi Gagal ‘Iqra’: Ironi Umat di Era Informasi

fusilat by fusilat
April 24, 2026
in Feature, Spiritual
0
Share on FacebookShare on Twitter

By Paman BED

Ada ironi yang pelan-pelan berubah menjadi kebiasaan dalam kehidupan umat hari ini.

Kita hidup di zaman di mana membaca begitu mudah—buku, artikel, video, bahkan ceramah bisa diakses dalam hitungan detik. Tetapi di saat yang sama, pemahaman justru terasa semakin dangkal. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan terasa langka.

Di titik inilah, dua kata itu menjadi relevan kembali: ummi dan iqra.
Nabi terakhir—Muhammad ﷺ—disebut sebagai seorang ummi: tidak membaca, tidak menulis. Namun wahyu pertama yang beliau terima justru berbunyi: Iqra.

Sebuah paradoks yang, jika direnungkan, bukan untuk diselesaikan—tetapi untuk dipahami.

Ketika “Tidak Bisa Membaca” Menjadi Bukti Kebenaran
Al-Qur’an tidak berusaha memoles realitas. Ia justru menegaskan:
“…Nabi yang ummi…” (QS. Al-A‘raf: 157–158)
“Dan engkau tidak pernah membaca suatu kitab sebelumnya, dan tidak (pula) menulisnya…” (QS. Al-‘Ankabut: 48)
Dalam logika modern, ini mungkin terlihat sebagai keterbatasan. Tetapi dalam logika wahyu, ini adalah fondasi legitimasi.
Bayangkan seseorang yang:
tidak pernah belajar membaca kitab sebelumnya,
* tidak menulis,
* tidak memiliki tradisi literasi formal,
lalu menghadirkan sebuah kitab yang bukan hanya indah secara bahasa, tetapi juga kompleks dalam hukum, konsisten dalam narasi, dan mendalam dalam makna.

Di sini, “ummi” bukan kelemahan. Ia adalah bukti yang tidak bisa dipalsukan.

Iqra: Perintah yang Terlalu Sering Kita Sederhanakan
Ketika Jibril datang membawa wahyu, dialog itu sederhana—tetapi mengguncang:
“Iqra.”
“Aku tidak bisa membaca.”
Riwayat sahih dari Muhammad ibn Ismail al-Bukhari mencatat momen itu berulang, hingga kemudian turun QS. Al-‘Alaq: 1–5.
Masalahnya, kita terlalu sering berhenti pada terjemahan: bacalah.
Padahal “iqra” bukan sekadar membaca teks.
Ia adalah:
* membaca realitas sosial,
* membaca ketimpangan,
* membaca diri sendiri,
bahkan membaca kekuasaan dan dampaknya.
“Iqra” adalah perintah untuk tidak hidup secara pasif—membaca ayat kauniyah, bukan sekadar ayat kauliyah.

Masalahnya: Kita Bisa Membaca, Tapi Tidak “Iqra”
Di sinilah ironi itu menjadi nyata.
Hari ini:
Kita membaca Al-Qur’an, tetapi tidak membaca konteksnya
Kita menghafal ayat, tetapi tidak memahami implikasinya

Kita mendengar ceramah, tetapi tidak mengubah perilaku
Seorang muslim bisa menghabiskan waktu berjam-jam di layar, tetapi nyaris tidak meluangkan waktu untuk merenung.
Kita hidup dalam ilusi pengetahuan.
Dan mungkin, jika jujur, kita bukan kekurangan akses ilmu—
kita kekurangan keseriusan untuk memahami.

Saat ini budaya debat medsos atau bahkan sampai level seminar nasional, tentang ketimpangan sosial, gagalnya kesejahteraan di masyarakat yang dibungkus oleh data statistik dengan standar formal, dengan narasi cantik, argumentatif bahkan menyinggung kutipan ayat-ayat Allah namun semua dimaksudkan untuk semata-mata mempertahankan eksistensi dengan narasi pembenarannya, bukan kebenaran karena Allah.

Nabi Tetap Ummi, Kita Justru Lalai
Mayoritas ulama sepakat: Nabi ﷺ tetap dalam keadaan ummi hingga wafat.
Beliau tidak menulis sendiri. Wahyu dituliskan oleh para sahabat seperti:
* Zayd ibn Thabit
* Ali ibn Abi Talib
* Ubayy ibn Ka’b
Dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, tindakan “menulis” yang dinisbatkan kepada Nabi tidak menunjukkan literasi penuh, melainkan tindakan simbolik.
Artinya jelas:
“Iqra” tidak pernah dimaksudkan sebagai perubahan teknis yang memungkinkan bisa membaca.
Ia adalah perubahan cara melihat dunia—membaca ayat kauniyah.

Hikmah yang Terlupakan
Para ulama seperti Ibn Kathir dan Al-Qurtubi menjelaskan bahwa kondisi ummi Nabi:
menjaga kemurnian wahyu,
menutup celah tuduhan plagiarisme,
menguatkan mukjizat Al-Qur’an.
Namun ada satu hikmah yang sering luput:
Bahwa peradaban ini tidak dimulai dari orang yang paling “terdidik” secara formal,
melainkan dari orang yang paling jujur dalam menerima kebenaran.

Kesimpulan
Di antara “ummi” dan “iqra”, kita menemukan pelajaran yang tidak sederhana:

Nabi ﷺ tidak membaca, tetapi membawa peradaban ilmu.

Kita bisa membaca, tetapi sering gagal membangun makna.

Masalah umat hari ini bukan pada kemampuan,
melainkan pada kedalaman memahami kehidupan.

Penutup Reflektif
Fenomena hari ini justru menunjukkan ironi yang tak bisa lagi kita abaikan: semakin banyak muslim dengan literasi digital yang tinggi, semakin berani berdebat soal agama di media sosial—namun sering tanpa tafsir yang memadai, tanpa kedalaman pemahaman, dan lebih jauh lagi, tanpa penjiwaan terhadap esensi persoalan. Pada titik itu, “iqra” kehilangan maknanya—ia berhenti sebagai proses memahami, dan berubah sekadar menjadi alat untuk merasa paling benar.

Referensi
Al-Qur’an:
* QS. Al-A‘raf: 157–158
* QS. Al-‘Ankabut: 48
* QS. Al-‘Alaq: 1–5
Hadits:
* Shahih Bukhari, riwayat Muhammad ibn Ismail al-Bukhari
Tafsir:
* Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim
* Al-Qurtubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an
Sirah:
* Perjanjian Hudaibiyah
* Penulis wahyu: Zayd ibn Thabit, Ali ibn Abi Talib, Ubayy ibn Ka’b

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Berbohong Itu Sulit dan Mahal Harganya

fusilat

fusilat

Related Posts

Dalih Sosok Manusia Pendusta; “Tidak Wajib Memperlihatkan Ijazahnya”
Feature

Berbohong Itu Sulit dan Mahal Harganya

April 24, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Media Sosial: Dari Hiburan Menjadi Candu yang Diproduksi
Feature

Media Sosial: Dari Hiburan Menjadi Candu yang Diproduksi

April 24, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Bisa Membaca, Tapi Gagal ‘Iqra’: Ironi Umat di Era Informasi

April 24, 2026
Dalih Sosok Manusia Pendusta; “Tidak Wajib Memperlihatkan Ijazahnya”

Berbohong Itu Sulit dan Mahal Harganya

April 24, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Media Sosial: Dari Hiburan Menjadi Candu yang Diproduksi

Media Sosial: Dari Hiburan Menjadi Candu yang Diproduksi

April 24, 2026
Logika Tol di Laut Bebas: Kebijakan atau Kecanggungan?

Logika Tol di Laut Bebas: Kebijakan atau Kecanggungan?

April 24, 2026

Perang, Kepentingan Global, dan Harapan Kemerdekaan Palestina

April 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Bisa Membaca, Tapi Gagal ‘Iqra’: Ironi Umat di Era Informasi

April 24, 2026
Dalih Sosok Manusia Pendusta; “Tidak Wajib Memperlihatkan Ijazahnya”

Berbohong Itu Sulit dan Mahal Harganya

April 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...