• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Crime

Bisakah Dunia Menangkap Penguasa yang Merusak Negerinya?

Ali Syarief by Ali Syarief
January 6, 2026
in Crime, Feature, Tokoh/Figur
0
Hadits Dhaif Dijadikan Hujjah: Laporan Jokowi Naik Penyidikan
Share on FacebookShare on Twitter

Pernyataan Muhammad Said Didu tentang pola Amerika Serikat yang kerap “menangkap” atau menjatuhkan penguasa yang mereka anggap bermasalah—seperti Saddam Hussein, Muammar Khadafi, Manuel Noriega, hingga Nicolás Maduro—memantik pertanyaan yang lebih dalam dan mengusik nurani publik Indonesia: apakah kejahatan penguasa hanya diukur dari kacamata kepentingan global, atau juga dari kerusakan yang ditinggalkannya pada bangsanya sendiri?

Selama ini, dunia seolah menyepakati satu standar ganda. Seorang penguasa baru dianggap “jahat” bila ia mengganggu stabilitas geopolitik global atau melawan kepentingan negara adidaya. Namun, ketika seorang pemimpin menghancurkan sendi-sendi demokrasi, melemahkan hukum, memelihara nepotisme, dan meninggalkan kerusakan sistemik di dalam negerinya sendiri—dunia memilih diam. Tidak ada pengadilan internasional, tidak ada penangkapan, bahkan sering kali justru ada pujian atas nama “stabilitas” dan “pembangunan”.

Di titik inilah relevansi pertanyaan Said Didu menjadi sangat tajam bagi Indonesia, khususnya dalam menilai warisan kekuasaan Joko Widodo.

Selama satu dekade, Indonesia menyaksikan pergeseran serius dalam tata kelola negara. Hukum tidak lagi menjadi panglima, melainkan alat kekuasaan. Institusi penegak hukum kehilangan independensinya, kritik publik dipersempit dengan pasal karet, dan demokrasi direduksi menjadi prosedur elektoral tanpa etika. Lebih jauh, praktik nepotisme tampil telanjang—keluarga penguasa masuk ke arena kekuasaan tanpa rasa malu, seolah republik ini adalah warisan keluarga.

Kerusakan yang ditinggalkan bukan sekadar statistik ekonomi atau proyek infrastruktur, tetapi kerusakan moral bernegara. Ketika konstitusi dapat “ditafsir ulang” demi ambisi kekuasaan, ketika etika publik dikorbankan demi stabilitas semu, dan ketika rakyat dipaksa menerima ketidakadilan sebagai keniscayaan, maka sesungguhnya kejahatan itu bersifat struktural. Ia tidak meledak seperti bom, tetapi meracuni masa depan secara perlahan.

Pertanyaannya kemudian: apakah kejahatan semacam ini tidak layak diadili hanya karena tidak mengganggu kepentingan global?

Secara hukum internasional, memang hampir mustahil “meminta” dunia untuk menangkap mantan penguasa yang merusak negerinya sendiri, kecuali ia melakukan kejahatan luar biasa seperti genosida atau kejahatan perang. Namun secara moral dan politik, pertanyaan itu sah diajukan. Bahkan wajib diajukan. Sebab jika kejahatan terhadap demokrasi, konstitusi, dan keadilan sosial tidak dianggap sebagai kejahatan besar, maka dunia sedang merestui lahirnya tirani gaya baru—tirani yang rapi, legal-formal, dan dibungkus jargon pembangunan.

Maka, jawaban paling jujur atas pertanyaan Said Didu barangkali bukan terletak pada Washington, Den Haag, atau Mahkamah Internasional. Jawabannya ada pada bangsa itu sendiri. Rakyatlah yang seharusnya “menangkap” secara politik dan sejarah: melalui pengadilan opini publik, pembongkaran kebenaran, dan penulisan sejarah yang jujur.

Karena jika sebuah bangsa gagal mengadili penguasanya sendiri—setidaknya secara moral dan politik—maka kejahatan itu akan diwariskan. Bukan hanya dalam bentuk kebijakan, tetapi dalam mentalitas: bahwa merusak negara bisa dimaafkan, asal berkuasa cukup lama.

Dan di situlah kejahatan terbesar seorang penguasa: bukan hanya apa yang ia lakukan saat berkuasa, tetapi apa yang ia ajarkan kepada generasi setelahnya tentang arti kekuasaan dan tanggung jawab.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Sawit, Negara, dan Krisis Kedaulatan Agraria

Next Post

DEFORMASI UNIPOLARISME: Peluang Reaktualisasi Gerakan Non-Blok

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?
Feature

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026
Feature

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026
Feature

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Next Post

DEFORMASI UNIPOLARISME: Peluang Reaktualisasi Gerakan Non-Blok

Kasus Ijazah Jokowi Tuntas 2036? Wilson Lalengke: Ini Peringatan untuk Presiden Prabowo

Kasus Ijazah Jokowi Tuntas 2036? Wilson Lalengke: Ini Peringatan untuk Presiden Prabowo

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist