• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

DEFORMASI UNIPOLARISME: Peluang Reaktualisasi Gerakan Non-Blok

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
January 6, 2026
in Feature, World
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Peralihan menuju multipolarisme bukanlah proses linier, apalagi rapi. Ia bergerak melalui keraguan, penundaan, dan kalkulasi ulang yang dilakukan negara-negara besar ketika mereka menyadari bahwa dunia tak lagi dapat dikelola dari satu pusat. Dalam fase transisi ini, struktur—bukan kehendak normatif—menentukan arah pikiran dan tindakan. Struktur itu berbicara lewat ukuran pasar, kedalaman teknologi, ketergantungan energi, memori sejarah, dan psikologi kolektif para elite politik.

Dalam lanskap ini, setidaknya terdapat tiga aktor besar yang relatif lebih siap membentuk kutub kekuatan dunia. Amerika Serikat bergerak menuju apa yang dapat disebut Benteng Amerika; China dan Rusia membangun Benteng Eurasia; dan Uni Eropa, meskipun sering dianggap terseret, sesungguhnya memiliki potensi menjadi kutub tersendiri. Di luar ketiganya, terdapat negara-negara non-blok kunci seperti Indonesia dan India, serta mayoritas negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang belum menentukan arah final—bahkan sebagian menolak gagasan harus memilih.

Amerika Serikat merupakan aktor pertama yang secara struktural menyadari bahwa era unipolar telah berakhir. Beban menjadi pengelola sistem global—militer, finansial, dan politik—terbukti terlalu mahal. Polarisasi domestik, perang panjang yang tak populer, serta kompetisi teknologi dengan China memaksa Washington melakukan konsolidasi ke dalam. Dokumen National Security Strategy terbaru menegaskan prioritas pada ketahanan domestik, keamanan ekonomi, dan Belahan Barat sebagai kawasan inti (The White House, NSS; Revue Conflits, 2025). Dari sini lahir logika Benteng Amerika: bukan menarik diri dari dunia, melainkan mengunci wilayah strategis terdekat, mengamankan rantai pasok, dan membatasi penetrasi pesaing.

Namun Benteng Amerika menghadapi masalah struktural yang tidak kecil. Amerika Tengah dan Amerika Latin, meskipun berada dalam orbit geografis Washington, membawa memori historis panjang tentang intervensi dan subordinasi. Banyak negara di kawasan itu kini mencari diversifikasi mitra, termasuk China dan Eropa. Dengan kata lain, Benteng Amerika tidak otomatis menjadi blok patuh; ia lebih merupakan proyek yang dipaksakan oleh struktur kekuatan, bukan oleh konsensus politik.

Di Eurasia, China dan Rusia bergerak dengan logika yang berbeda namun saling melengkapi. Keduanya menghadapi dominasi Barat atas sistem keuangan global, teknologi strategis, dan aturan keamanan. Responsnya adalah membangun kedalaman strategis lintas benua melalui integrasi ekonomi dan koordinasi politik. Belt and Road Initiative bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan mekanisme integrasi China ke mesin pertumbuhan global sekaligus sarana memperluas ruang ekonomi non-Barat (World Bank, BRI Reports). Rusia, dengan basis energi dan militer, bertindak sebagai penopang keras yang membuat proyek Eurasia tidak mudah diisolasi.

Koalisi ini dilembagakan melalui BRICS dan forum Eurasia lainnya. Perluasan BRICS hingga mencakup Timur Tengah, Afrika, dan bergabungnya Indonesia pada 2025 menunjukkan daya tarik koalisi ini bagi Global South (Reuters, 6 Januari 2025). Yang ditawarkan bukan ideologi tunggal, melainkan alternatif: pembiayaan, perdagangan, dan ruang politik yang tidak sepenuhnya diatur Barat. Itulah sebabnya Benteng Eurasia berkembang bukan sebagai blok militer, melainkan sebagai ekosistem ekonomi-politik.

Kutub ketiga yang sering diremehkan adalah Uni Eropa. Berbeda dengan NATO yang berkarakter militer, UE memiliki basis ekonomi, regulasi, teknologi, dan pasar yang menjadikannya kandidat kutub dunia. Dengan PDB gabungan yang besar, kemampuan menetapkan standar global (Brussels effect), serta agenda otonomi strategis, UE secara potensial mampu berdiri sebagai pusat kekuatan tersendiri (European Commission, Strategic Autonomy). Krisis Ukraina bahkan mempercepat konsolidasi energi, industri pertahanan, dan kebijakan fiskal bersama.

Pertanyaan krusialnya adalah apakah UE akan benar-benar menjadi kutub mandiri atau mensubordinasikan diri ke Blok Amerika. Secara struktural, UE terbelah. Di satu sisi, ketergantungan keamanan kepada Amerika Serikat dan NATO masih besar, khususnya bagi Eropa Timur. Di sisi lain, kepentingan ekonomi UE—energi, perdagangan, iklim, dan stabilitas Global South—tidak selalu sejalan dengan strategi konfrontatif Washington. Inilah sebabnya UE cenderung bergerak ambigu: menguat secara internal, tetapi belum siap melepaskan payung Amerika. Ambiguitas ini justru menandakan potensi UE sebagai kutub “setengah mandiri” dalam multipolarisme.

Di luar tiga poros ini, dunia tidak diam. Negara-negara non-blok kunci seperti Indonesia dan India menempati posisi struktural yang unik. Mereka terlalu besar untuk diabaikan, memiliki legitimasi Global South, dan cukup otonom untuk menolak subordinasi penuh. India, dengan kapasitas demografis, teknologi, dan militernya, secara potensial adalah swing power. Indonesia, dengan posisi geografis, ekonomi besar ASEAN, dan tradisi non-blok, memiliki kapasitas normatif dan diplomatik yang penting.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: bila Indonesia dan India menghidupkan kembali atau membentuk aliansi Non-Blok baru, seberapa besar Asia, Afrika, dan Amerika Latin akan bergabung? Secara struktural, jawabannya cukup signifikan—tetapi dengan syarat tertentu. Banyak negara Global South tidak ingin berada di bawah Benteng Amerika atau Eurasia. Mereka ingin akses pembiayaan, perdagangan, dan teknologi tanpa loyalitas eksklusif. Sebuah aliansi Non-Blok yang pragmatis, tidak ideologis, dan berorientasi pembangunan akan menemukan resonansi luas, terutama di Afrika, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan sebagian Amerika Latin.

Namun aliansi semacam itu hanya akan berhasil bila tidak menjadi klub moral tanpa instrumen. Negara-negara Global South akan bergabung bukan karena nostalgia KAA-Bandung, tetapi karena kalkulasi kepentingan. Jika Indonesia dan India mampu menawarkan koordinasi investasi, mekanisme pembiayaan, perlindungan perdagangan, dan posisi bersama dalam reformasi institusi global, maka Non-Blok baru berpotensi menjadi kutub lunak yang menentukan keseimbangan multipolar.

Dengan demikian, arah polaritas dunia tidak akan berbentuk tiga atau empat blok kaku. Yang terjadi adalah proses penggumpalan: Benteng Amerika yang mengeras secara hemisferik, Benteng Eurasia yang mengembang lewat integrasi, Uni Eropa yang masih ragu antara otonomi dan subordinasi, serta ruang besar Global South yang mencari penyeimbang. Dalam konfigurasi ini, kekuatan terbesar bukan sekadar kemampuan memaksa, melainkan kemampuan menawarkan alternatif.

Multipolarisme belum selesai. Ia sedang dinegosiasikan. Dan dalam negosiasi itu, negara yang paling menentukan bukan selalu yang paling kuat, tetapi yang paling mampu menunda keputusan final sambil memperluas pilihan. Di situlah Indonesia dan India, serta mayoritas Global South, memiliki peluang historis—jika mereka memilih untuk tidak menjadi tembok, melainkan poros keseimbangan.===

Referensi (pilihan)
The White House. National Security Strategy.
Revue Conflits. National Security Strategy 2025: A Turning Point for the World?
Reuters. Indonesia joins BRICS bloc as full member, Brazil says. 6 Januari 2025.
European Commission. Open Strategic Autonomy.
World Bank. Belt and Road Initiative Reports.

Cimahi, 6 Januari 2026

Penulis:
Berijasah asli dari Jurusan Studi Pembangunan FE-Unpad
Anggota Komite Eksekutif KAMI
Ketua Komite Kajian Ilmiah Forum Tanah Air

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Bisakah Dunia Menangkap Penguasa yang Merusak Negerinya?

Next Post

Kasus Ijazah Jokowi Tuntas 2036? Wilson Lalengke: Ini Peringatan untuk Presiden Prabowo

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu
Feature

Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

May 30, 2026
UMKM Tidak Akan Naik Kelas Jika Masih Mengandalkan Buku Tulis
daerah

UMKM Tidak Akan Naik Kelas Jika Masih Mengandalkan Buku Tulis

May 30, 2026
Bolehkah Berkurban dengan Sayur-Mayur?
Feature

Sapi Kurban dari APBN: Sebuah Paradoks?

May 30, 2026
Next Post
Kasus Ijazah Jokowi Tuntas 2036? Wilson Lalengke: Ini Peringatan untuk Presiden Prabowo

Kasus Ijazah Jokowi Tuntas 2036? Wilson Lalengke: Ini Peringatan untuk Presiden Prabowo

Jokowi Cawe-cawe, Prabowo Terima Kasih

KUHP Baru : Masa Iya Presiden dan Wakil Presiden Hianat Memenjarakan Warganya?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati
Birokrasi

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

by Karyudi Sutajah Putra
May 25, 2026
0

Jakarta - Fusilatnews -Indonesia dan tujuh negara lain mengutuk keras tindakan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan pasukan Israel...

Read more
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

May 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

May 30, 2026
Distribusikan Hewan Kurban untuk Disabilitas, Gammara Inklusi Gandeng Kawan Netra dan Kuril Langit

Distribusikan Hewan Kurban untuk Disabilitas, Gammara Inklusi Gandeng Kawan Netra dan Kuril Langit

May 30, 2026
UMKM Tidak Akan Naik Kelas Jika Masih Mengandalkan Buku Tulis

UMKM Tidak Akan Naik Kelas Jika Masih Mengandalkan Buku Tulis

May 30, 2026
Bolehkah Berkurban dengan Sayur-Mayur?

Sapi Kurban dari APBN: Sebuah Paradoks?

May 30, 2026
Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

May 30, 2026

Masukkan Aku dalam Kebenaran, dan Keluarkan Aku dalam Kebenaran”

May 30, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

May 30, 2026
Distribusikan Hewan Kurban untuk Disabilitas, Gammara Inklusi Gandeng Kawan Netra dan Kuril Langit

Distribusikan Hewan Kurban untuk Disabilitas, Gammara Inklusi Gandeng Kawan Netra dan Kuril Langit

May 30, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...