• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Bosscha, Sinema dan Berharap Daya Cipta

fusilat by fusilat
August 15, 2022
in Feature
0
Bosscha, Sinema dan Berharap Daya Cipta

Observatorium Bosscha, Bandung(Shutterstock)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Ma’rufin Sudibyo

PENGABDI Setan 2 dan Petualangan Sherina sama–sama menggunakan Observatorium Bosscha dalam adegan–adegannya. Namun daya cipta yang diwariskannya jauh berbeda. Petualangan Sherina menyajikan kesan positif tentang observatorium. Ia juga terus mengingatkan nusantara dipayungi keluasan langit yang menanti dieksplorasi. Satu hal yang tak muncul dalam “Pengabdi Setan 2.” Pengabdi Setan 2, film yang sedang naik daun itu, diawali adegan seorang jurnalis memasuki gedung kuno berkubah besar di Bandung. Di dalamnya terdapat teleskop besar. Tepat pada lantainya tergeletak jasad–jasad yang menghadap satu arah. Adegan inilah yang menghebohkan jagat astronomi di Indonesia. Tiada penjelasan soal gedung itu di sepanjang durasi film. Tapi dengan lokasi kota Bandung, kuno, berkubah besar dan memiliki teleskop besar; maka adegan itu sontak terasosiasikan dengan ikon Bandung utara: Observatorium Bosscha. Untuk selanjutnya kita sebut singkat saja, Bosscha. Asosiasi inilah yang menyebabkan manajemen Bosscha bersikap. Mereka sangat menyesalkan pemunculan adegan di tempat yang dengan mudah dikenali sebagai gedung Koppel Observatorium Bosscha.

Tengara kawasan selama berpuluh tahun, gedung ini memiliki kubah 14,5 meter berbobot 56 ton yang terpasang aman di puncaknya, sebagai pelindung bagi teleskop pembias ganda Zeiss, sepasang teleskop yang masing–masing memiliki lensa cembung obyektif bergaris tengah 60 cm dengan panjang fokus 10,8 meter. Teleskop ini masih terus bertugas mengamati sistem bintang ganda, gerak diri gugus bintang dan paralaks bintang (guna penentuan jarak bintang). Teleskop ini juga melaksanakan tugas pengamatan bintang Be, yakni bintang–bintang yang spektrumnya memiliki komponen garis–garis Balmer. Pengamatan dilakukan dengan spektograf BCS (Bosscha compact spectograph). Produser Pengabdi Setan 2 sejauh ini tidak merespons sikap manajemen Bosscha. Berbeda dengan gerak cepatnya dalam menyikapi keluhan penderita epilepsi sensitif–cahaya dengan mengumumkan penggunaan flash dan strobo. Sejumlah kalangan berdalih adegan itu lebih merupakan efek visual. Lingkungan di sekeliling gedung kuno itu digambarkan berbeda dengan lingkungan Observatorium Bosscha. Pun demikian ruang dalam gedung. Dialog–dialog juga tak secara secara tekstual menyebut nama Bosscha. Namun, tak bisa dimungkiri bahwa saat kata “Bandung” dirangkaikan dengan “gedung berkubah” dan “teleskop”, maka kesan yang terbentuk dalam benak khalayak ramai adalah Bosscha. Untuk itu, manajemen observatorium sangat menyesalkan pemunculan tengara Bosscha karena memberikan kesan yang tidak benar.

Bosscha di Titik Nadir

Bosscha tak alergi dengan dunia sinema. Popularitas Bosscha dalam masa kiwari sedikit banyak juga dibentuk lewat sinema. Melalui simbiosis yang apik dan muatan edukatif yang pekat, hadirnya Bosscha dalam sinema Indonesia hampir seperempat abad silam pernah menjadi sebuah fenomena tersendiri. Apalagi kalau bukan melalui Petualangan Sherina.

Dr. Moedji Raharto adalah kepala Observatorium Bosscha kala Petualangan Sherina dibuat. Beliau adalah satu dari sedikit orang Indonesia yang namanya ditabalkan ke langit sebagai nama asteroid. Tepatnya asteroid 12177 Raharto (garis tengah 2,8 km) yang menghuni kawasan Sabuk Asteroid Utama dan ditemukan pada tahun 1977. Beliau juga merupakan guru, sahabat, kolega sekaligus lawan diskusi saya. Dalam sejumlah kesempatan Dr. Raharto kerap bertutur kisah di balik layar Bosscha dan Petualangan Sherina. Bagaimana Bosscha laksana sedang menapaki lintasan yang menukik asimtotik ke titik nadir pada masa–masa itu.

Pasca batalnya rencana pembangunan teleskop optik van der Hucht (garis tengah 2 meter) dan GERT (giant equatorial radio telescope) oleh berbagai sebab pada dasawarsa 1980–an, Bosscha mulai menapaki jalan yang menurun. GERT semula dirancang cukup ambisius, menempati lingkungan garis khatulistiwa di Sumatera Barat sebagai jajaran 86 teleskop radio parabolik yang membentang sepanjang 2 km dalam sumbu utara–selatan. Lingkungan yang berubah pesat, terutama perkembangan kota Bandung di selatan dan kota kecil Lembang di utara, menghasilkan jepitan ganda yang kian menekan Bosscha. Dasawarsa 1990–an menyaksikan betapa usulan untuk menutup Bosscha mulai berbisik.

Pukulan dahsyat datang melalui krisis multidimensi 1998–1999. Fluktuasi mata uang membuat anggaran tahunan menguap habis jauh sebelum tutup tahun. Riset–riset yang rutin dilaksanakan Bosscha terpaksa dihentikan. Pasokan data ilmiah ke dunia astronomi global pun terhenti. Sebaliknya biaya operasional membengkak. Alhasil apa yang semula hanya berbisik kini menjadi lebih lantang. Bosscha hanya dianggap beban dan usul untuk menutupnya kian menguat. Dalam situasi demikian, naiklah Petualangan Sherina ke layar lebar di tahun 1999. Film yang berkisah tentang persahabatan anak–anak yang dibumbui perlawanan terhadap orang jahat. Gedung Koppel di Bosscha pun menjadi salah satu lokasi adegannya. Meskipun digambarkan bahwa kedua tokoh utama film tersebut datang ke Bosscha dalam upayanya melarikan diri dari para penculiknya, namun tiada adegan baku hantam dan kekerasan di sini. Justru teleskop pembias ganda digambarkan dengan elok sedang melaksanakan tugasnya, meneropong bintang–bintang.

Canopus, Capella, Vega. Miles Film dengan cerdik mengadopsi rumus pemasaran model Warkop DKI. Maka Petualangan Sherina hadir sebagai film keluarga bergenre anak–anak. Perhitungannya sederhana. Anak–anak yang ingin menyaksikannya tentu akan didampingi orangtuanya. Bahkan juga didampingi kakek neneknya atau para kerabatnya. Maka reaksi berantai pun tercipta. Namun taruhannya tak kalah besar. Film anak–anak Indonesia adalah hal yang langka pada masa itu. Masa di mana layar lebar hanya didominasi film–film dewasa model Basic Instinct. Film yang mengeksploitasi ragawi para putri sampai ke titik yang membikin risih. Jika reaksi berantai tak kunjung tercipta, maka Petualangan Sherina akan gagal. Namun reaksi berantai itu terbentuk. Kerinduan para orang tua akan film yang ramah anak menjadi salah satu daya ungkitnya. Maka bioskop pun dibanjiri rombongan–rombongan keluarga. Hanya dalam dua pekan saja, telah tercatat 350 ribu penonton. Secara akumulatif 1,6 juta penonton telah menyaksikan Petualangan Sherina di layar lebar. Salah satu film yang menandai kebangkitan kembali sinema Indonesia setelah hampir satu dasawarsa berkutat di titik nol.

Dari Apollo 13 ke October

Sky Yang sama sekali tak disangka, Petualangan Sherina ternyata menghasilkan umpan balik sangat signifikan bagi Bosscha. “Demam” baru terbentuk dan berkepanjangan hingga bertahun kemudian. Dari semula hendak menuju titik nadir, Bosscha mendadak terdorong meroket menuju titik zenith. Viral seviral–viralnya. Anak–anak beserta keluarganya dengan antusias berbondong–bondong ke Bosscha. Kemacetan panjang selalu terbentuk tiap akhir pekan dan tiap masa liburan. Staf–staf Bosscha menjadi luar biasa sibuk. Berbagai fasilitas didandani. Gedung Koppel tetap menjadi pusat gravitasi. Dr. Raharto berkisah betapa pernah beliau harus berceramah secara berkelanjutan pada rombongan demi rombongan pengunjung yang memasuki kompleks Bosscha. Beliau menghitung secara akumulatif dalam sehari itu ada sekitar 6.000 pengunjung.

Banyak hal kemudian tercipta. Mulai dari kontribusinya kepada sang induk Ganesha, pujian dari dunia astronomi global sebagai bagian dari populerisasi astronomi hingga efek berantai pada perekonomian warga sekitar kompleks. Imaji Bosscha pun sangat positif, sebagai balai peneropongan bintang satu–satunya (saat itu) di Indonesia. Juga sebagai tempat bersejarah dan bernilai ilmiah yang harus dilestarikan. Dan sebagai fasilitas yang harus dikembangkan lagi di berbagai titik pada segenap penjuru Nusantara. Bayangkan, sebuah film anak–anak bisa berdampak demikian luas. Dan memberikan daya cipta (inspirasi) bagi generasi muda pada zamannya, dua dasawarsa silam. Kini daya cipta apa yang hendak diwariskan Pengabdi Setan 2 terhadap Bosscha? Tren penonton Indonesia kiwari memang lebih menyukai film horor.

Dari 20 film terlaris sepanjang masa, lima di antaranya bergenre horor. Produser mana pun tentu ingin film produksinya dapat mengembalikan modal yang telah dikeluarkan. Syukur–syukur mampu meraup keuntungan. Derivasi dari prinsip ekonomi film demikian secara rasional di antaranya mengikuti tren yang sedang berlaku. Itu wajar. Pertanyaannya adalah, apapun genre filmnya, apakah bisa menginspirasi? Atau lebih jauh lagi apakah bisa mengedukasi? Pengalaman di Amerika Serikat mungkin bisa menjadi pembanding. Sekitar separuh dari para teknokrat dan cendekiawan di badan antariksa mereka (NASA) saat ini adalah para remaja yang begitu terinspirasi kala menyaksikan Apollo 13. Dibintangi aktor legendaris Tom Hanks, Apollo 13 merupakan salah satu film laris di tahun 1995. Film yang berkisah perjuangan 3 astronot setelah wahana Apollo 13 mereka rusak berat di tengah perjalanan menuju pendaratan di Bulan. Di tempat lain, banyak dari perwira Angkatan Laut AS (US Navy) saat ini juga adalah adalah para remaja yang begitu terpukau dengan aksi Tom Cruise dalam Top Gun. Film ini menjadi salah satu film tersukses masa itu.

Demikian populernya hingga US Navy membuka pos–pos perekrutan kadet baru di halaman bioskop–bioskop AS yang sedang menayangkan film ini. Gravitasi yang mereka tawarkan sederhana, ketimbang sekadar berfantasi mengapa tidak menjajal peruntungan untuk menjadi penerbang AL? Penerbang yang bisa memiloti jet tempur F–14 Tomcat meluncur dari sistem pelontar di kapal induk bertenaga nuklir? Baca juga: Observatorium Baru Indonesia, Kenapa Dibangun di Timau? Dan mari sebut juga October Sky, film yang tak sepopuler Apollo 13 maupun Top Gun, meski tetap mencatatkan untung. Film yang berkisah para remaja sekolah menengah atas dasawarsa 1950–an di kota kecil terpencil jauh di tengah benua Amerika namun memiliki mimpi besar membangun sistem peroketan AS, memiliki dampak kultural yang luar biasa. Menjadikannya salah satu tontotan wajib bagi para astronom amatir. Dua negara bagian AS, yakni Virginia Barat dan Tennessee, bahkan berebut menjadi tempat yang mewarisi semangat October Sky. Dua festival tahunan digelar terpisah di masing–masing negara bagian, untuk menghormati dan meneruskan pencapaian para remaja tersebut. Kita di Indonesia memang belum sejauh itu. Tapi bukannya mustahil. Bagi beberapa orang, termasuk saya, Petualangan Sherina telah menggapai titik sebagaimana yang pernah diraih October Sky. Petualangan Sherina telah dan masih terus mengingatkan betapa nusantara memiliki langit tak kalah luasnya yang menanti dieksplorasi. Oleh siapa lagi kalau bukan oleh kita sendiri? Oleh generasi muda yang terinspirasi? Dalam konteks inilah Pengabdi Setan 2 patut disayangkan, karena nyaris tanpa inspirasi dan menegasikan upaya–upaya tersebut.

Ma’rufin Sudibyo | Orang biasa saja yang gemar melihat bintang dan menekuri Bumi.

Dikutip Kompas.com, Sabtu 13 Agustus 2022


Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Buruan!!! Promo Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2022, Dari KFC, A&W, McD Sampai Ichiban

Next Post

Tuhan Tidak Pernah Menciptakan Dusta

fusilat

fusilat

Related Posts

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang
Feature

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus
Birokrasi

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

April 17, 2026
Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik
Feature

Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

April 17, 2026
Next Post
Ikan Mati Yang Terbawa Arus PT 20%  Bertemu di Muara Pilpres 24

Ikan Mati Yang Terbawa Arus PT 20%  Bertemu di Muara Pilpres 24

PKS Tak Berminat Berkoalisi Dengan Gerindra, Kapok?

Prabowo Puja Puji Jokowi, Pengamat :Cerdik Mainkan Suasana Kebatinan Pendukung Jokowi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia
News

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

by fusilat
April 17, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Awal minggu ini beredar sejumlah laporan media internasional yang mengungkap adanya upaya Amerika Serikat (AS) untuk memperoleh akses...

Read more
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026
Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

April 17, 2026
Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

April 17, 2026
Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

April 17, 2026
Negara Kesatuan dengan Rasa Federal

Negara Kesatuan dengan Rasa Federal

April 17, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist