“Jadi memang tidak untuk pengobatan dalam jangka waktu lama,” tegas Noorman turut menanggapi ramainya unggahan soal efek samping risiko anemia aplastik.
Jakarta – Fusilatnews – Menanggapi munculnya dugan efek samping Anemia Aplastik setelah mengkonsumsi obat sakit kepala Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Noorman Effendi menegaskan, kandungan propyphenazon dalam obat sakit kepala aman digunakan sepanjang sesuai indikasi, dosis, dan aturan pakai sebagaimana tertera pada kemasan dan digunakan dalam jangka pendek.
Cara penggunaan obat sakit kepala tersebut juga sudah ada dalam kemasan.
“Jadi memang tidak untuk pengobatan dalam jangka waktu lama,” tegas Noorman turut menanggapi ramainya unggahan soal efek samping risiko anemia aplastik.
BPOM bereaksi menyusul ramainya unggahan foto soal efek samping obat sakit kepala yang berisiko memicu Anemia Aplastik
Unggahan tersebut mencantumkan foto kemasan obat sakit kepala Paramex dengan membandingkan kemasan sebelumnya dan kemasana sekarang.
Dalam f oto kemasan sebelumnya efek samping penggunaan dosis besar dan jangka lama bisa menyebabkan kerusakan hati. Sementara di kemasan sekarang, terdapat tambahan efek samping yaitu risiko anemia aplastik dan diskrasia darah.
Anemia aplastik sendiri merupakan kondisi langka saat sumsum tulang belakang berhenti memproduksi sel darah baru. Kondisi ini membuat pengidapnya mudah lelah dan lebih rentan terhadap infeksi serta pendarahan yang tak terkontrol.
Penyakit ini juga jadi perbincangan saat Komika Tanah Air, Babe Cabita meninggal dunia usai satu tahun berjuang melawan anemia aplastik pada 9 April lalu.
“Paramex juga sudah mencantumkan informasi aturan pakai, dosis yang sesuai dengan peraturan BPOM pada kemasan yaitu hanya untuk penggunaan sakit kepala dan sakit gigi yang tentunya diminum bila ada gejala tersebut dan bisa dihentikan setelah gejala hilang,” ucap Rachmadi Joesoef, Chief Executive Officer PT Konimex melalui rilis yang dilansir dari detik, Rabu (17/4).
Anemia aplastik merupakan menurut journal Mayo Clinic, merupakan kondisi saat sumsum tulang belakang berhenti memproduksi sel darah baru.sehingga pasien mudah lelah dan lebih rentan terhadap infeksi serta pendarahan yang tak terkontrol.
Penyebab anemia aplastik yang paling umum adalah gangguan imun, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel induk di sumsum tulang belakang.
Selain itu, beberapa faktor lainnya juga turut berpengaruh seperti paparan bahan kimia beracun seperti pestisida, insektisida, dan benzena.
Ada juga penggunaan obat tertentu seperti yang biasa digunakan untuk rheumatoid arthritis dan beberapa jenis antibiotik.
Selain itu, kondisi seperti kehamilan juga dapat memicu anemia aplastik. Saat hamil, sistem kekebalan tubuh punya potensi menyerang sumsum tulang belakang.
Anemia aplastik juga bisa terjadi sebagai efek samping dari terapi radiasi dan kemoterapi pada pasien kanker.
Anemia aplastik bisa muncul pada usia berapa saja. Kondisi ini juga bisa muncul tiba-tiba atau terjadi perlahan dan memburuk seiring berjalannya waktu.
Setiap sel darah memiliki peran yang berbeda. Sel darah merah bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh. Sel darah putih berperan dalam melawan infeksi. Sementara trombosit berperan untuk mencegah pendarahan.
gejala anemia aplastik tergantung pada jenis sel darah yang mengalami kekurangan. Berikut di antaranya.
Saat jumlah sel darah merah rendah:
– kelelahan,
– sesak napas,
– pusing,
– kulit pucat,
– sakit kepala,
– nyeri dada,
– detak jantung tidak teratur.
Saat jumlah sel darah putih rendah:
– sering infeksi,
– demam.
Saat jumlah trombosit rendah:
– mudah memar dan berdarah,
– mimisan.
Mengelola anemia aplastik tak cukup hanya berdasarkan obat-obatan atau perawatan medis. Diperlukan juga intervensi dari kebiasaan sehari-hari pada pasien.
Orang dengan anemia aplastik seperti Babe Cabita sangat disarankan agar tidak mendekati orang yang sakit atau terinfeksi. Mereka juga disarankan untuk menghindari kerumunan besar dan sering mencuci tangan.

























