Oleh Prihandoyo Kuswanto-Ketua Pusat Study Kajian Rumah Pancasila .
Isu hak angket mulai layu dan perdebatan di TV yang bisa jadi membuat partai politik berfikir ulang tentang hak angket.
Pemilu curang TSM sengaja di tembakan pada pilpres sehingga kita semua terbawah arus stikma pemilu curang TSM .Tetapi aneh nya pemilu curang hanya di stikma pada pilpres padahal pemilu ini ada pilpres,pileg DPR RI ,pil DPD ,pileg DPRD I ,pileg DPRD II Kabupaten Kota.
Kalau pemilu dituduh curang TSM (Terstruktur,Sistemik,Masif) tentu tidak bisa ditembakan pada pilpres saja sebab pencoblosan itu dilakukan pada waktu ,tempat ,dan orang yang sama dalam bilik suara.
Untuk Caleg DPR RI dibutuhkan dana kisaran 20-30 M .DPRD I Sekitar 10-15 M.dan DPRD II 4-5M.
Jadi pemilu dengan model demokrasi liberal itu dari dulu mula memang serba uang ,dan uang adalah instrumen bagian dari demokrasi liberal yang dasar nya Individualisme.
Bagi yang kalah berteriak curang TSM itu juga bagian dari permainan pemilu .
Kalau sekarang isu yang diteriakan hak angket oleh paslon yang kalah ya memang agak aneh sebab urusan pemilu ada jalur nya sendiri yaitu Bawaslu dan MK.
Mengapa tidak dibawah ke MK ,ya kemungkinan besar tuduhan kecurangan TSM tidak punya bukti yang cukup dan diarahkan pada penyelesaian politik lewat angkat jadi bukan lagi ingin membuktikan kecurangan TSM tetapi beralih untuk melengserkan Presiden Jowowidodo.
Angket inipun akan layu sebelum berkembang sebab kalau kita ngomong Kecurangan Pemilu maka pileg harus diperiksa dahulu bagaimana kok bisa biyayah DPR RI sampai 20- 30 M untuk bayar siapa ?kalau PDIP mendapat 110 kursi kalau satu kursi 30 M 3.300.000.000.000.
Uang darimana .ini baru PDIP, belum Golkar ,Nasdem,dll.
Apa ya mau partai partai itu menelanjangi diri nya sendiri ? Apa mau partai-partai melakukan Angket terhadap partai nya sendiri ?
Jadi yang ngotot hak angket itu bukan anggota DPR ,maka mereka hanya berpikiran bagaimana melengserkan Jokowidodo.
Kalau kita ingin perubahan justru bukan mau memperbaiki sistem demokrasi liberal yang seperti yang sekarang dijalan kan justru kerusakan ini sudah Tersetruktur Sistemik Masif , bukan capres atau caleg nya yang melakukan kecurangan TSM tetapi sistem demokrasi liberal yang basis nya individualisme inilah kerusakan yang TSM.
Demokrasi Liberal ini sudah tidak cocok dengan bangsa Indonesia,kerusakan yang ditimbulkan terjadi nya keterbelaan anak bangsa hilang nya persatuan bangsa Indonesia padahal persatuan Indonesia itu adalah modal paling utama bagi bangsa ini yang ribuan suku ,bermacam- macam golongan ,bermacam -macam agama dan kepercayaan ,serta hilang nya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Guru-guru besar ,aktivis dan aktivis kampus harus sadar demokrasi yang dipuja- puja yang secara TSM dijejalkan pada pikiran rakyat bahkan dibuatkan filem Dirty Vote untuk merubah pikiran rakyat ternyata rakyat jauh lebih pintar dari pikiran- pikiran para guru besar dan aktivis-aktivis pembuat filem bukti nya rakyat memilih apa yang dikehendaki nya.
Kerusakan rakyat di akar rumput akibat demokrasi liberal nyata dan kerusakan itu Tersetruktur,Sistemik dan Masif .
Jadi kerusakan itu bukan karena pemilu curang tetapi dengan demokrasi liberal inilah kerusakan pada bangsa ini Tersetruktur, Sistemik dan Masif (TSM).
Rakyat dan Pemimpin elit politik dinegeri ini harus sadar bahwa kerusakan TSM pada sistem berbangsa dan bernegara sudah sangat akut ibarat kanker sudah stadium empat ,maka butuh penyelamatan darurat pada bangsa ini .Segerah kita akhiri sistem free fihgt liberalisme kembali pada jati diri bangsa Kembali ke UUD 1945 dan Pancasila dengan mengembalikan MPR sebagai lembaga tertinggi negara jika memang kita semua ingin menyelamatkan bangsa dan negara ini .
Menyelamatakan masa depan anak cucu kita menyelamatkan Negara yang di Proklamasikan 17 Agustus 1945 dengan tujuan Masyarakat Yang Adil dan Makmur berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila .
























